Penyimpanan, Pematahan Dormasi dan Uji Perkecambahan

Dormansi adalah suatu keadaan dimana pertumbuhan tidak terjadi walaupun kondisi lingkungan mendukung untuk terjadinya perkecambahan. Pertumbuhan tidak akan terjadi selama benih belum melalui masa dormansinya, atau sebelum dikenakan suatu perlakuan khusus terhadap benih tersebut. Keuntungan dari dormasi secara biologis terhadap tanaman yaitu dapat mengadaptasikan siklus pertumbuhan tanaman terhadap keadaan lingkungannya, baik musim maupun variasi-variasi yang kebetulan terjadi. Sehingga secara tidak langsung benih dapat menghindarkan dirinya dari kemusnahan alam. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan fisik dari kulit biji ataupun keadaan fisiologis dari embrio atau kombinasi dari kedua kedaan tersebut. Sebagai contoh kulit biji yang impermeabel terhadap air dan gas sering dijumpai pada benih-benih dari famili Leguminosa.
Faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya dormansi pada benih antara lain: temperatur yang sangat rendah di musim dingin, perubahan temperatur yang silih berganti, menipisnya kulit biji, hilangnya kemampuan untuk menghasilkan zat-zat penghambat perkecambahan, adanya kegiatan dari mikroorganisme. Sedangkan tipe-tipe dormansi terdiri dari: dormansi fisik yang disebabkan oleh impermiabilitas kulit biji terhadap air, resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas dan dormansi fisiologis yang disebabkan oleh immaturity embrio, after ripening, dormansi sekunder, dormansi yang disebabkan oleh hambatan metabolis pada embrio. Dalam istilah pertanian, benih-benih yang menunjukkan tipe dormasi yang impermabel terhadap air dan gas ini disebut sebagai ‘benih keras’. Hal ini dapat ditemukan pada sejumlah famili tanaman dimana beberapa speciesnya mempunyai kuilit biji yang keras, antara lain: Leguminosae, Malvaceae, Cannaceae, Geraniaceae, Chenopodaceae, Convolvulaceae, Solanaceae dan Liliaceae.
Perkecambahan akan terjadi apabila kulit biji dibuka atau jika tekanan oksigen di sekitar benih ditambah. Dari penelitian berikutnya oleh Wareing dan Foda diperlihatkan bahwa pengaruh oksigen pada biji sebelah atas adalah disebabkan oleh hadirnya suatu penghambat pertumbuhan yang terhalang keluarnya karena kulit biji yang semi permeabel dengan adanya oksigen menjadi tidak aktif.
Cara-cara untuk memecahkan dormansi antara lain dengan perlakuan mekanis, perlakuan kimia, perlakuan perendaman air, perlakuan pemberian temperatur tertentu dan perlakuan dengan cahaya. enih yang mengalami dormansi biasanya disebabkan oleh : Rendahnya / tidak adanya proses imbibisi air yang disebabkan oleh struktur benih (kulit benih) yang keras, sehingga mempersulit keluar masuknya air ke dalam benih.
Daftar Pustaka
Hildayani. 2008. Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan Percobaan I Dormansi pada Biji. Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Makassar.
: Universitas Hasanuddin Makassar.








Persiapan Media Semai dan Penyapian
persemaian (Nursery) adalah tempat atau areal untuk
kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap
ditanam di lapangan. Pada umumnya persemaian digolongkan menjadi 2 jenis/tipe yaitu
persemaian sementara dan persemaian tetap. Persemaian sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa periode panenan (bibit/semai) yaitu paling lambat hanya untuk waktu 5 tahun. Sedangkan Jenis persemaian ini biasanya berukuran (luasnya) besar dan lokasinya menetap di suatu tempat, untuk melayani areal penanaman yang luas.
Kegiatan pembibitan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan hutan tanaman di mana keberhasilan kegiatan penanaman sangat berkaitan erat dengan keberhasilan pada tingkat pembibitan di persemaian. Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Dalam kegiatan pembibitan, penyapihan merupakan salah satu tahapan yang perlu mendapatkan perhatian serius karena kondisi semai yang masih sangat kecil dan lemah (Sulistyo, 1998).
penyapihan adalah memindahkan bibit/anak semai dari bedengan / bak ke medium di bedengan sapih. Waktu penyapihan sebaiknya dilakukan sore hari, dan setelah disapih segara dilakukan penyiraman sampai tanahnya cukup basah. Setelah itu ada setiap bedengan sapih dipasang label yang bertuliskan : Nomor bedengan sapihan, species/jenis,asal bedengan penaburan. Kecambah (semai anakan) siap disapih tergantung, jenisnya biasanya sesudah keluar daun pertama sudah dapat dilakukan penyapihan. Pada umumnya, setelah bibit / semai sapihan berupa 3-4 minggu sejak disapih, kerapatan atap/naungan mulai dikurangi dan setelah
berumur 8-10 minggu sebelum semai dipindahkn / ditanam ke lapangan, atap/naungan tanaman sama sekali ditiadakan.
Sehubungan dengan keberhasilan pertumbuhan semai, Daniel et al. (1987) menyatakan bahwa salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pertumbuhan semai adalah kemampuan semai dalam memproduksi akar. Walapun kondisi tempat tumbuh seperti suhu tanah dan ketersediaan air dalam tanah atau media cukup memadai namun semai akan hidup secara optimal jika semai mempunyai kemampuan fisiologis yang baik dalam memproduksi akar baru. Hal ini memberikan gambaran bahwa ada saat atau periode di mana semai secara fisiologis berada dalam kondisi yang siap untuk disapih serta memproduksi akar baru.
Semai yang terlalu muda masih sangat rentan terhadap gangguan, baik gangguan internal berupa kehilangan cairan maupun kerusakan yang bersifat mekanis selama proses penyapihan. Selain itu, semai yang masih muda biasanya mempunyai akar yang relatif lemah dan mudah rusak selama proses penyapihan dan batangnya masih relatif sukulen (memiliki kandungan air yang sangat tinggi), semai yang muda akan lebih mudah stres oleh adanya proses penguapan (transpirasi) yang berasal dari seluruh bagian semai yang kemudian akan berpengaruh pada pertumbuhan semai pada periode selanjutnya, sebagai akibat dari hilangnya sebagian cairan dari seluruh bagian semai.Sedangkan sedangkan semai yang relatif tua akan terkendala dalam pembuatannya. Semai yang relatif tua atau telat disapih umumnya tidak mempunyai pertumbuhan yang baik. Setelah disapih, semai biasanya mengalami stagnansi sehingga pertumbuhannya menjadi sangat lambat.
Dalam mempersiapkan media semai ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain: aspek fisik (air, media tumbuh/tanah, dan kelerengan), aspek tenaga kerja (
Daftar Pustaka
Anonim, 1986. Pedoman Pembuatan Persemaian Parmanan. Departeman Kehutanan:
Direktorat Jendral Reboisasi dan Rehabilitasi.
Daniel, T.W., J.A. Helm, F.S. Baker. 1987. Prinsip-Prinsip Silvikultur. Yogjakarta
: Bulaksumur. Gajah Mada University Press.
Martawijaya, A., I. Kartasujana, Y.I. Mandang, S. A. Prawira, K. Kadir 1989. Atlas
Kayu Indonesia. Jilid II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.


Teknik Penyetekan (Cutting) dan Sambungan
Penyambungan merupakan suatu seni menyambung dua potong jaringan tanaman yang hidup sedemikian rupa sehingga kedua jaringan tersebut bersatu, tumbuh dan berkembang menjadi tanaman (Hartmann et al. 1990). Teknik penyambungan ini dilakukan dengan harapan mampu memperbanyak tanaman yang sukar atau tidak dapat diperbanyak dengan cara stek.
Stek hidup dicirikan dengan masih segarnya stek pada setiap pengamatan. Kematian stek diawali dengan gugurnya daun yang menempel pada batang, kemudian diikuti dengan pembusukan pada bagian batang

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer