Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan POTENSI PEMULIAAN TANAMAN HUTAN SEBAGAI OBYEK DAYA TARIK WISATA DALAM PROSPEK PENGEMBANGAN EKOWISATA
Info Teknis Vol 5 no. 1 Juli 2007
Potential of ForestTtree Improvement as Interested Tourism Object
in Prospect of Ecotourism Development
Sugeng Pudjiono
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
I.
PENDAHULUAN
Paradigma baru dalam pengembangan pariwisata telah bergeser dari masstourism ke wisata yang
berbasis alam. Salah satunya adalah ekowisata. Definisi ekowisata yang pertama adalah suatu bentuk
perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan
kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat (The Ecotourism Society, 1990 dalam Fandeli, 2000).
Ekowisata ini oleh Eplerwood (1999) dalam Fandeli (2000) selanjutnya didefinisikan sebagai bentuk baru dari
perjalanan bertanggungjawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata
karena banyak digemari maka dalam perkembangannya. Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa ekowisata
berkembang sangat pesat. Di beberapa wilayah bahkan berkembang pemikiran baru yang berkaitan dengan
ekowisata. Pemikiran tersebut berupa fenomena pendidikan diperlukan dalam suatu bentuk wisata ini. Menurut
Black, 1999 dalam Fandeli 2000 mendefinisikan ekowisata ini adalah wisata berbasis pada alam dengan
mengikutkan aspek pendidikan dan interpretasi terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan
pengelolaan kelestarian ekologis. Hal ini memberi penegasan bahwa aspeknya tidak semata hanya bisnis wisata
tetapi lebih dekat dengan wisata minat khusus dengan obyek dan daya tarik wisata alam.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas maka dirasa perlu untuk memaparkan potensi-potensi yang ada di
lingkup kehutanan dari sisi-sisi yang spesifik. Pemuliaan pohon merupakan salah satu sisi spesifik yang
mempunyai prospek untuk diupayakan dalam rangka pengembangn ekowisata maupun ke arah wisata minat
khusus. Kegiatan pemuliaan pohon terdiri dari beberapa kegiatan pokok seperti pembuatan kebun-kebun
penelitian dan plot-plot tanaman untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul sebagai salah satu obyek
misal dengan daya tarik khas. Wisatawan dapat memperoleh pengetahuan yang baru dalam hal pemuliaan
tanaman hutan dari beberapa aspek, seperti bagaimana mendapatkan bibit unggul, bagaimana melakukan
seleksi bibit unggul dan sebagainya. Tujuan dari naskah ini adalah menyampaikan informasi dan potensi obyek
daya tarik wisata (ODTW) yang dimiliki dari kegiatan pemuliaan tanaman hutan.
II.
A.
POTENSI-POTENSI OBYEK DAYA TARIK WISATA
Sumber Genetik Plasma Nutfah
Keberadaan hutam alam sekarang ini sudah makin sulit didapati. Banyak kegiatan-kegiatan sektor lain
yang mendesak lahan hutan untuk keperluan lain, sedangkan bila hutan alam sudah musnah maka sangat sulit
mendapatkan materi genetik yang berbasis genetik luas. Oleh karena itu, pengembangan ekowisata dengan
obyek wisata hutan alam sebagai plasma nutfah secara simultan sejalan dengan kegiatan ekowisata, sehingga
hutan tersebut akan terkonservasi dengan baik. Dipihak lain masyarakat sekitar hutan akan mendapatkan
penghasilan dari datangnya wisatawan yang berkunjung di tempat wisata. Perkembangan ekonomi akan lebih
baik karena ada uang yang berputar di daerah tersebut. Oleh karena itu peranan stakeholder–stakeholder, salah
satu diantaranya masyarakat akan memegang peran penting dalam hal ini. Dengan dampak langsung ini akan
membuat masyarakat di sekitar hutan menjadi lebih meningkat penghasilannya dan membuka lapangan kerja
baru sehingga dapat meningkat kesejahteraannya (Wiratno, 2001). Masyarakat akan mempertahankan obyek
wisata alam supaya lestari karena obyek tersebut merupakan sumber gantungan hidupnya (Fandelli, 2002).
Dengan demikian maka terjadi hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan dimana keduanya
dapat manfaat.
1
Info Teknis Vol 5 no. 1 Juli 2007
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
B.
Kebun Benih Uji Keturunan
Untuk mendapatkan tanaman yang unggul pada kegiatan pemuliaan tanaman hutan dibangun kebun-
kebun uji. Kebun Uji ini dapat dijadikan sebagai salah satu obyek daya tarik wisata. Wisatawan dapat
memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru (new experiences) dari kebun benih ini. Sebagai contoh
bagaimana mendapatkan benih yang unggul dari serangkaian kegiatan penelitian pemuliaan pohon. Beberapa
tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan bibit unggul yang dilakukan pada suatu spesies pohon hutan yang
berbeda dengan pemuliaan pada tanaman-tanaman di pertanian. Pengetahuan-pengetahuan tersebut diduga
akan menggugah wisatawan untuk menghargai hutan. Kesadaran pemikiran yang positif ini akan membangun
dan memperkaya jiwa untuk lebih konsern terhadap lingkungan khususnya yang berkaitan dengan ekowisata.
Kebun-kebun uji dibangun pada lokasi yang mempunyai aksesibilitas tinggi, sehingga untuk menjangkau
lokasi tersebut tidak sulit. Sebagai contoh Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
telah membangun Kebun Uji Keturunan di Alas Ketu Wonogiri Jawa Tengah. Lokasi tersebut dapat dijangkau
sampai ke tempat tujuan dengan kendaraan roda empat. Jarak dari kota Wonogiri sekitar 10 menit dari lokasi
tersebut.
Masyarakat disekitar Kebun Uji tersebut sekarang belum dapat memanfaatkan dampak yang lebih dari
keberadan kebun tersebut, tetapi bila Obyek tersebut dijadikan Obyek ekowisata akan meningkatkan laju
perputaran ekonomi di daerah tersebut. Dampak langsung ini yang seharusnya dikembangkan. Dengan demikian
maka akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Partisipasi masyarakat sebagai salah satu
stakeholder perlu dilibatkan secara aktif untuk menjaga keberadaan obyek wisata tersebut. Disinilah akan terjadi
saling menjaga karena saling membutuhkan.
Foto 1. Obyek daya tarik wisata kebun benih uji keturunan Eucalyptus pellita dengan pohon-pohon
unggul yang lurus
C.
Kebun Kebun Persilangan
Obyek daya tarik wisata yang lain adalah kebun persilangan pohon-pohon hutan. Wisatawan diajak
untuk mengetahui lebih banyak bagaimana untuk mendapatkan tanaman yang diinginkan pada kegiatan
2
Info Teknis Vol 5 no. 1 Juli 2007
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
pemuliaan tanaman. Pembuatan tangga-tangga di pinggir pohon mungkin dapat dipahami oleh wisatawan
setelah mendapatkan penjelasan yang rinci tentang manfaat alat-alat tersebut. Demikian pula tanaman tanaman
yang dipangkas pendek-pendek itu untuk tujuan apa. Apabila berkunjung ke obyek wisata tersebut maka akan
tahu manfaat kegiatan-kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut tidak lain adalah untuk mendapatkan bibit unggul.
Yang pada tujuan akhirnya adalah menyediakan bibit bermutu yang pada jangka panjangnya adalah memenuhi
kebutuhan kayu untuk pembangunan.
Pengalaman baru yang lain adalah bagaimana menyilangkan bunga-bunga dari pohon-pohon hutan
tersebut. Dimana tiap spesies mempunyai karakteristik tertentu dalam hal penyilangannya. Kapan waktu yang
tepat untuk disilangkan. Bagimana teknik penyilangannya. dan sebagainya.
Dari kebun persilangan akan diketahui tanamn-tanamn hasil kegiatan tersebut berupa tanaman hybrid.
Tanamn yang mempunyai kombinasi dari kedua induknya. Atau tanamn yang lebih baik dari kedua induknya.
Atau akan didapatkan tanaman yang unik hasil persilangan tersebut.
D.
Tanaman Hasil Kegiatan Bioteknologi Tinggi
Hasil-hasil tanaman yang dilakukan secara vegetatif kultur jaringan dapat dilihat pada kebun-kebun
percobaan tersebut. Bahwa dari hasil pemuliaan dihasilkan bibit bergenetik unggul yang kemudian diperbanyak
dengan teknologi canggih sehingga dapat dengan cepat diperbanyak. Hasil perbanyakan di tanam di lapangan
untuk dapat dijadikan salah satu obyek daya tarik wisata.
III.
POTENSI SEKITAR OBYEK DAYA TARIK WISATA
Sebagai contoh areal yang akan dikembangkan adalah Lokasi Kebun-Kebun Percobaan Alas Ketu
Wonogiri Jawa Tengah. Lokasi tersebut jika akan dikembangkan sebagai salah satu obyek wisata ekowisata atau
wisata minat khusus yang tertarik dengan alam dan rekayasa secara pemuliaan pohon sangat potensial. Hal-hal
yang mendukung nya adalah
1. Asesibilitas lokasi ODTW tersebut adalah tinggi. Di mana untuk mencapai lokasi tersebut dapat dikunjungi
dengan kendaraan roda empat. Selain dari itu jalan yang menuju ODTW tersebut telah beraspal. ODTW
tidak jauh dari ibukota kabupaten Wonogiri, sekitar lebih kurang 10 menit.
2. Jaringan listrik dan telpon sudah ada di lokasi tersebut. Hal ini memudahkan untuk penerangan di malam
hari dan komunikasi. Penginapan terdapat tidak jauh dari ODTW walaupun masih bertaraf melati II.
3. Selain dari itu apabila wisatawan ingin bermalam menikmati keadaan alam, didekat ODTW ada lokasi
camping ground yang cukup memadai.
IV.
KEMITRAAN DAN PARTISIPASI STAKEHOLDER SEBAGAI POTENSI
PERENCANAAN EKOWISATA PEMULIAAN TANAMAN HUTAN
Untuk mewujudkan ODTW Pemuliaan Tanaman Hutan perlu partisipasi masyarakat dan stakeholder-
stakeholder lainnya. Untuk itu perlu adanya suatu perencanaan yang matang untuk keberlanjutan ODTW
tersebut.
Aspek-aspek kunci pembangunan berkelanjutan meliputi pemberdayaan masyarakat lokal, swasembada
dan keadilan sosial. Salah satu usaha untuk mencapai hal tersebut adalah berpindah dari bentuk tradisional
pengelolaan lingkungan dan sumberdaya, yang didominasi oleh ahli professional dari sektor pemerintah dan
swasta menuju pendekatan yang mengkombinasikan pengalaman, pengetahuan dan pemahaman berbagai
kelompok masyarakat.
Partisipasi masyarakat dalam pengelolan lingkungan dan sumberdaya ODTW mempunyai berbagai
alasan. Menurut Mitchell, B Setiawan dan DH Rahmi (2000), bahwa konsultasi dengan masyarakat yang tinggal
di wilayah sekitar ODTW dimungkinkan untuk :
1. Merumuskan persoalan dengan lebih efektif.
2. Mendapatkan informasi dan pemahaman di luar jangkauan dunia ilmiah
3
Info Teknis Vol 5 no. 1 Juli 2007
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
3. Merumuskan alternatif penyelesaian masalah yang secara sosial akan dapat diterima.
4. Membentuk perasaan memiliki terhadap rencana dan penyelesaian, sehingga memudahkan penerapan.
Pendekatan partisipatif diperlukan waktu lebih lama pada tahap-tahap awal perencanaan dan analisis,
akan tetapi di dalam proses selanjutnya, pendekatan ini akan mengurangi atau menghindari adanya
pertentangan.
Untuk mendapatkan kesuksesan dalam partisipasi dan kemitraan, harus memperhatikan beberapa
elemen yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kecocokan antar peserta. Kecocokan ini didasarkan atas penghargaan dan kepercayaan.
Keuntungan untuk semua peserta.
Seimbangnya perwalian dan kekuasaan untuk seluruh peserta.
Mekanisme komunikasi
Penyesuaian
Integritas, kesabaran dan keajegan semua peserta.
Kemitraan dapat dilakukan dalam beberapa kali selama proses analisis dan perencanaan. Perencanaan
dilakukan dalam tiga tahap : normatif, stratejik dan operasional.
Perencanaan normatif yaitu keputusan diambil untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Perencanaan stratejik yaitu keputusan dibuat untuk menentukan sesuai yang dapat dilakukan. Perencanaan
operasional yaitu keputusan dibuat untuk menentukan apa yang akan dilakukan.
Kemitraan sebaiknya dilakukan lebih awal dalam proses perencanaan sehingga anggota masyarakat
dapat terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang lebih awal dan penting. Dengan demikian
memudahkan pencapaian sasaran dan tujuan yang diharapkan.
V.
PENUTUP
Dari uraian-uraian pemaparan diatas dapat diketahui bahwa prospek ODTW Pemuliaan Tanaman Hutan
memberikan harapan yang menarik dan dapat diusahakan untuk dijadikan suatu obyek ekowisata atau wisata
minat khusus. Pengalaman-pengalaman dan pengetahuan baru akan didapatkan dari ODTW Pemuliaan
Tanaman Hutan, hal ini akan memuaskan wisatawan. Dampak dari kegiatan tersebut dapat menimbulkan
multiflier efek yang tidak sedikit, dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar ODTW.
Untuk mendapatkan suatu destinasi yang representatif diperlukan suatu perencanaan. Hal itu dapat
diwujudkan dengan menggali potensi yang ada dengan perencanaan yang matang yang melibatkan stakeholder-
stakeholder. Perencanaan dilakukan dengan melibatkan stakeholder sejak awal. Perencanaan normatif, stratejik
dan operasional diaplikasikan dengan partisipasi masyarakat secara aktif dan dikomunikasikan serta masyarakat
juga terlibat dalam pengambilan keputusan sehingga dapat dicapai sasaran dan tujuan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Fandeli, C. 2000. Pengusahaan Ekowisata. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Fandeli, C. 2002. Perencanaan Kepariwisataan Alam. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Mitchell, B, B. Setiawan, dan D.H. Rahmi. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan . Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Wiratno. 2001. Wisata Alam Yogyakarta. Duta Rimba 251/XXV- Mei 2001. Perum Perhutani. Jakarta.
4