EKSPLORASI HIJAUAN PAKAN KUDA DAN KANDUNGAN NUTRISINYA
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
(Exploration of Forages for Horse and its Nutritive Value)
MANSYUR, U. HIDAYAT TANUWIRIA dan DENY RUSMANA
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung
ABSTRACT
Information of kind, nutrive value, and used of forages for horse is limited. The aim of this research was
to know the kind and nutrive value of forages for horse. The research was conducted in Kecamatan
Kadungora, Wanaraja, and Bl Limbangan Kabupaten Garut West Java. Analysis of nutrive value of forage
was done at Laboratory of Forage Crops and Laboratory of Ruminant Nutrition and Feed Chemistry. Survey
method and stratified random sampling were used in this research. Research result showed that feeding
system of horse farmers based on the habit from forefathers, the mean of nutrive values from Oplismenus
burmanni, Cynodon dactylon and Brachiaria mutica were good as forages. Based on botanical composation
and nutrive value, development and improvement of Oplismenus burmanni, Cynodon dactylon and
Brachiaria mutica were needed.
Key Words: Forage, Botanical Composation, Nutrive Value, Horse
ABSTRAK
Informasi tentang jenis, nilai nutrisi dan penggunaan hijauan sebagai pakan kuda sangat terbatas.Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis hijauan yang diberikan untuk pakan kuda dan kandungan
nutrisinya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Kadungora, Wanaraja, dan Bl Limbangan Kabupaten Garut
Jawa Barat. Analisis kualitas nutrisi pakan dilakukan di Laboratorium Tanaman Makanan Ternak dan
Laboratorium Ternak Ruminansia dan Kimia Makanan Ternak. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode survai. Teknik yang digunakan dalam mengambil sampel adalah Stratified Random Sampling. Hasil
penelitian menunjukkan sistem pemberian pakan ternak kuda yang dilakukan berdasarkan pada kebiasaan-
kebiasaan yang turun-temurun. Rataan kandungan nutrisi jenis-jenis rumput Bulu (Oplismenus burmanni),
rumput Gigirinting (Cynodon dactylon), dan rumput Malela (Brachiaria mutica) tersebut cukup baik sebagai
pakan ternak. Berdasarkan pada komposisi botanis dan kandungan nutrisinya, pada masa yang akan datang
perlu melakukan upaya pengembangan dan peningkatan mutu genetik untuk rumput Bulu (Oplismenus
burmanni), rumput Gigirinting (Cynodon dactylon) dan rumput Malela (Brachiaria mutica).
Kata Kunci: Hijauan, Komposisi Botanis, Nilai Nutrisi, Kuda
PENDAHULUAN
Populasi ternak di Indonesia mengalami
kenaikan, tetapi ada beberapa jenis ternak yang
mengalami penurunan. Kuda merupakan salah
satu ternak yang mengalami penurunan
populasi. Penurunan populasi ini terjadi karena
fungsi kuda sebagai alat transportasi telah
banyak digantikan oleh kendaraan bermotor,
selain tingginya angka pemotongan kuda
sebagai sumber pangan. Angka pemotongan
kuda sebagai sumber daging di Indonesia
cukup tinggi. Penurunan populasi kuda ini
924
tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di
Amerika Serikat sampai tahun 1960 juga
mengalami penurunan populasi kuda, karena
terjadi mekanisasi dalam bidang transportasi
dan pertanian. Kemudian populasi kuda
mengalami
kenaikan
setelah
terjadi
peningkatan kegiatan olahraga dan rekreasi
menggunakan kuda (CUNHA, 1991).
Peranan kuda di masyarakat antara lain
sebagai sumber pangan, alat transportasi, olah
raga atau rekrasi, untuk pertanian, dan untuk
perang. Tiga peranan pertama kuda masih
sangat jelas di masyarakat Jawa Barat. Hal ini
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
ditunjukkan oleh angka pemotongan kuda
sebagai sumber pangan cukup tinggi. Di
beberapa kabupaten dan kota yang berada
wilayah Priangan kuda masih merupakan alat
transportasi yang cukup penting, dan pada
waktu tertentu di daerah tersebut diadakan
pacuan kuda mininal setahun sekali sebagai
ajang olah raga dan rekreasi masyarakat.
Secara nasional populasi ternak kuda di Jawa
Barat masih relatif tinggi, dan berada pada
urutan kedelapan propinsi yang mempunyai
populasi kuda terbanyak.
Kuda termasuk kedalam golongan ternak
herbivora nonruminansia grup colon fermentor.
Usus besar adalah tempat untuk mikroba
melakukan fermentasi. Makanan yang tahan
dari penghancuran di usus kecil, terutama serat,
masuk ke usus besar untuk difermentasi oleh
mikroba. Prosesnya hampir sama seperti di
rumen pada ternak ruminansia (CHEEKE,
1999). Kuda sebagai ternak herbivora,
merupakan ternak yang mengkonsumsi
hijauan. Hijauan mempunyai arti yang penting
dalam makanan kuda (GIBBS dan DAVIDSON,
1992). Preforman yang dihasilkan oleh kuda
akan seiring dengan kualitas hijauan, dimana
hijauan yang mempunyai kualitas baik akan
menghasilkan preforman kuda yang bagus
pula. Hijauan yang bagus tentunya tidak hanya
sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai
sumber protein, vitamin, mineral dan nutrisi
lainnya. Untuk mendapatkan performan kuda
yang bagus perlu adanya evaluasi dan
penentuan kualitas hijauan pakan kuda (GUAY
et al., 2002).
Beberapa hijauan atau tanaman pakan kuda
subtropik yang mempunyai kualitas baik, yang
telah dikenal golongan rumput: Bahia
(Paspalum notatum Flügge), Bermuda
(Cynodon dactylon (L.) Pers.), Digitaria
(Digitaria decumbens Stent), Ryegrass (Lolium
perenne
L.),
Pearlmillet
(Pennisetum
americanum (L.) Leeke); golongan biji-bijian:
Rye (Lolium multiflorum Lam.), Wheat
(Agropyron sp.) Oats (Avena sp), Triticale: dan
legum: Rhizome peanut (Arachis sp), Alfalfa
(Medicago sativa L), Alyceclover (Alysicarpus
vaginalis), Crimson (Trifolium incarnatum L.),
Redclover (Trifolium pratense) (CHAMBLISS
dan JHONSON, 2002) dan masih banyak yang
lainnya seperti rumput Matua yang sangat baik
pada saat kehamilan dan masa laktasi (GUAY et
al., 2002).
Sedangkan di Indonesia, informasi tentang
jenis, nilai nutrisi dan penggunaan hijauan
sebagai pakan kuda sangat terbatas. Bahkan
PARAKKASI (1988) menyatakan bahwa di
Indonesia dan daerah tropis lainnya belum
diperoleh keterangan secara pasti tentang
adanya suatu hijauan yang menonjol
kualitasnya, terutama untuk pakan kuda. Hal
ini bisa disebabkan masih kurangnya
eksplorasi dan identifikasi sumberdaya genetik
(plasma nutfah) hijauan ada. Padahal untuk
mengembangkan peternakan yang mempunyai
dayasaing diperlukan pemanfaatan sumberdaya
lokal yang mempunyai nilai lebih. Salah
satunya adalah pemanfaatan hijauan yang
mempunyai kualitas nutrisi yang baik dan telah
beradaptasi dengan kondisi iklim setempat.
Menurut CHAMBLISS dan JHONSON (2002) yang
penting dalam pengembangan hijauan pakan
kuda perlu mempertimbangkan adaptasi
tanaman terhadap kondisi tanah dan iklim.
Informasi tentang jenis hijauan lokal
Indonesia dan kandungan nutrisinya yang
potensial untuk dikembangkan sebagai pakan
kuda hampir belum ada. Hal ini yang
mendorong dilakukan penelitian ini, sebagai
suatu usaha penambahan ilmu pengetahuan
dalam pengembangan peternakan yang
berbasis pada sumberdaya lokal.
MATERI DAN METODE
Lokasi penelitian
Penelitian telah dilaksanakan di tiga
kecamatan di Kabupaten Garut Jawa Barat.
Kabupaten Garut dipillih karena mempunyai
populasi kuda yang cukup tinggi. Analisis
kualitas
nutrisi
pakan
dilakukan
di
Laboratorium Tanaman Makanan Ternak dan
Laboratorium Ternak Ruminansia dan Kimia
Makanan
Ternak
Fakultas
Peternakan
Universitas Padjadjaran.
Bahan dan alat
Hijauan dalam penelitian ini adalah segala
tumbuhan pakan dari jenis rumput, legum dan
tumbuhan lainnya yang biasa diberikan kepada
kuda oleh para peternak/pemilik kuda. Hijauan
diambil dari setiap kandang kuda (istal) secara
proposional.
Hijauan
yang
diambil
925
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
diasumsikan mempunyai pengelolaan yang
sama (umur pemotongan, tinggi pemotongan,
dan kondisi kesuburan tanah).
Alat-alat yang digunakan pada pengambilan
data di lapang adalah kantong plastik dan
kantong semen, tali rafia, gunting rumput, dan
timbangan. Sedangkan alat-alat yang digunakan
di laboratorium adalah alat penghalus (grinder),
oven, Labu Kjedhal untuk menentukan
kandungan nitrogen hijauan, AAS (Atomic
Absorption
Spectrophotometer)
untuk
menentukan
kandungan
mineral,
dan
seperangkat alat untuk menganalisis kandungan
serat kasar hijauan.
Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah
metode survai. Teknik yang digunakan dalam
mengambil sampel adalah Stratified Random
Sampling. Penentuan wilayah yang didasarkan
pada pertimbangan jumlah populasi kuda dan
perwakilan wilayah (Garut bagian barat, utara,
dan timut). Contoh diambil dari setiap
kecamatan diambil secara Acak Sederhana
sehingga setiap peternak/pemilik kuda
mempunyai peluang yang sama.
Identifikasi, komposisi botanis hijauan dan
hasil analisis laboratorium (kandungan protein
kasar, serat serat kasar, dan mineral) merupakan
data primer. Data skunder diperoleh dari
instansi-instansi
terkait,
seperti
dinas
peternakan, kantor kecamatan, dan Balai
Penyuluhan Pertanian. Data-data yang
diperoleh dianalisis secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penyebaran kuda dan pemberian pakan
Populasi kuda di Kabupaten Garut
terkonsentrasi di Garut bagian Barat, Timur,
dan Utara, sedangkan pada ke bagian Selatan
Garut, ternak kuda hanya sampai di Kecamatan
Bayongbong. Hal ini dikarenakan makin
kearah selatan sudah masuk kedalam daerah
pegunungan. Pada daerah yang medannya tidak
begitu berat atau daerahnya datar seperti
daerah Kadungora, Limbangan, dan Wanaraja,
fungsi kuda sebagai alat transportasi masih
sangat dominan.
926
Ternak kuda yang dipelihara umumnya
berupa kuda Sandel yang berasal dari
Sumbawa. Para peternak kuda umumnya
berprofesi sebagai kusir delman. Kegiatan
pemeliharaan kuda kebanyakan digunakan
untuk tenaga kerja sebagai alat transportasi,
sedangkan fungsi lainnya sebagai alat hiburan
seperti untuk pacuan. Kegiatan tersebut hanya
insidental, seperti pada hari-hari tertentu
misalnya seperti sesudah Idul Fitri ataupun
pada saat peringatan hari kemerdekaan. Kuda
sebagai sumber daging sangat jarang, kuda
yang dipotong biasanya merupakan kuda yang
sudah tidak dapat digunakan lagi untuk menarik
delman. Kuda yang sudah afkir, oleh para
peternak akan ditukarkan dengan ternak yang
lebih muda yang didatangkan dari Sumbawa
melalui seorang pedagang perantara yang
terdapat di Cibeureum, Bandung.
Pakan yang diberikan kepada kuda di
Kabupaten Garut umumnya dibagi kedalam
dua golongan besar, yaitu rerumputan (hijauan)
dan makanan penguat (konsentrat) non hijauan.
Konsentrat ini bukan merupakan konsentrat
dalam arti yang sebenarnya, seperti dalam
PERRY et al. (2003). Bahan pakan non
rerumputan ini adalah dedak halus dan onggok,
yang diberikan masing-masing sebanyak 2 kg
per hari. Jumlah yang diberikan ini tidak
berdasarkan pada kebutuhan hidup, tetapi lebih
kepada kebiasaan yang diperoleh secaara
turun-temurun. Pemberian rumput berkisar
antara 20 – 25 kg per ekor per hari. Pemberian
dedak halus dan onggok disertai dengan
penambahan dedak kasar (kulit luar padi).
Rata-rata pemberiannya sebanyak 500 g per
ekor per hari, dan campuran ini biasa di
masyarakat disebut dengan nama lolohan.
Pemberian pakan tambahan berupa mineral
masih
sangat
jarang,
kalaupun
ada
pemberiannya tergantung kondisi keuangan
dari para peternak. Hal yang menarik dalam
pemberian pakan tambahan berupa suplemen
penambah tenaga, seperti minuman penambah
stamina untuk manusia dan telur. Waktu
pemberian biasanya dilakukan dua minggu
sekali dengan jumlah telur yang bervariasi.
Jumlah yang diberikan menjadi lebih banyak
apabila kuda akan dilombakan untuk kegiatan
pacuan. Obat-obatan yang diberikan biasanya
berupa jamu-jamu tradisional yang dijual bebas
dipasaran untuk ternak kuda.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
Para peternak kuda dalam memperoleh
rumput ada dua cara, yaitu dengan cara
menyabit sendiri dan dengan cara membeli dari
para penjual rumput. Waktu menyabit rumput
dilakukan setelah selesai menarik delman, di
sekitar wilayah tempat tinggal seperti pematang
sawah, pinggir-pinggir jalan, ataupun di
pinggiran hutan. Sedangkan untuk yang
membeli, para pedagang rumput telah siap
dengan barang dagangannya di tempat mangkal
para penarik delman. Harga satu kilogram
rumput bervariasi tergantung pada musim.
Pada saat musim penghujan harga rumput
Rp. 100/kg, dan pada musim kemarau harganya
mencapai Rp. 250/kg. Bahan pakan lain seperti
dedak halus dan onggok telah dikirim langsung
para penjual kepada peternak setiap hari sesuai
dengan banyaknya ternak kuda. Biaya
operasional yang dibutuhkan untuk pakan
dalam sehari antara Rp. 7500 – Rp. 12500.
Komposisi botanis dan nilai nutrisi hijauan
pakan kuda di Kadungora
Komposisi botanis dari jenis hijauan yang
lazim diberikan di daerah Kadungora dapat
dilihat pada Tabel 1. Pada tabel tersebut dapat
dilihat bahwa yang tergolong kepada hijauan
yang dapat dimakan oleh kuda sekitar 92,90%,
dan turiang (Oryza sativa) mempunyai
proporsi yang tertinggi. Turiang adalah jerami
padi yang diambil dari tunas baru yang tumbuh
dari tanaman padi yang telah dipanen. Turiang
dilihat dari proporsi komposisi botanis
merupakan jenis hijauan potensial. Faktor
pembatasnya adalah ketersediaannya yang
fluktuatif, karena hanya tersedia sesudah
panen. Komposisi botanis yang terbesar kedua
adalah rumput gigiringting. Dengan didukung
oleh peningkatan mutu genetik, manajemen
dan pemupukan yang bagus, rumput ini
mempunyai prospek yang baik untuk
dikembangkan dalam rangka meningkatkan
nilai nutrisi pakan dan konservasi tanah
(‘tMANATJE dan JONES, 1992).
Kandungan nutrisi jenis hijauan yang biasa
diberikan oleh peternak kepada kuda di
Kadungoraa dapat dilihat pada Tabel 2. Pada
tabel tersebut terlihat bahwa rumput bulu
(Oplismenus burmanni) mempunyai kandungan
protein kasar tertinggi dan serat kasar yang
cukup rendah. SASTRAPRAJA dan AFRIASTINI
(1980) menyatakan bahwa rumput bulu dapat
dimanfaatkan sebagai makanan ternak,
walaupun sampai saat ini belum masuk
kedalam kategori rumput budidaya. Potensi
lain dari rumput bulu ini mempunyai
pertumbuhan yang sangat cepat sehingga dapat
cepat menutup tanah dan cukup tahan terhadap
naungan. Syarat suatu tumbuhan dijadikan
sebagai tanaman makanan ternak harus
mempunyai sifat pertumbuhan yang sangat
cepat dan mempunyai kandungan nutrisi yang
tinggi (DJUNED et al., 1980). Daya tahan
rumput terhadap naungan dapat dikembangkan
untuk pemanfaatan lahan-lahan di bawah
naungan perkebunan ataupun kehutanan.
Tabel 1. Komposisi botanis hijauan pakan kuda di Kadungora
No Nama lokal Nama ilmiah 1 Turiang Oryza sativa
Komposisi botanis (%)
26,08
2 Rumput Gigirinting Cynodon dactylon 21,49
3 Rumput Paparean Leersia hexandra 13,49
4 Rumput Malela Brachiaria mutica 13,23
5 Rumput Carulang/Jampang 6 Gulma 7 Rumput Bulu 8 Rumput Tatambagaan 9 Jerami Jagung Eluesine indica 8,42
- 7,09
Oplismenus burmanni 5,65
Ischaemum muticum 3,07
Zea mays 1,47
927
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
Tabel 2. Kandungan nutrisi hijauan pakan kuda di Kadungora
Nama lokal
Nama ilmiah
PK
SK
Ca P
2,7 1,7
3,3 2,0
1,5 2,2
2,9 1,8
2,0 1,1
2,6 1,5
g/kg
Turiang
Rumput Gigirinting
Rumput Paparean
Rumput Malela
Rumput Bulu
Rumput Tatambagaan
Oryza sativa
Cynodon dactylon
Leersia hexandra
Brachiaria mutica
Oplismenus burmanni
Ischaemum muticum
Komposisi botanis dan nilai nutrisi hijauan
pakan kuda di Wanaraja
Komposisi botanis hijauan yang biasa di
berikan kepada kuda dapat dilihat pada Tabel 3.
Pada tabel tersebut terlihat bahwa rumput bulu
merupakan rumput yang mempunyai proporsi
terbesar dari rumput yang diberikan kepada
ternak kudanya. Urutan selanjutnya diikuti oleh
rumput malela, rumput gigiringting, rumput
karpet, rumput tatambagaan, alang-alang, dan
rumput paparean. Alang-alang (Imperata
cylindrica) muda termasuk rumput yang
disukai. Alang-alang tidak termasuk gulma
karena tanaman tersebut pada umur yang relatif
muda disukai ternak, sedangkan pada stadia
selanjutnya menjadi gulma (PRAWIRADIPUTRA
dan SIREGAR, 1980; PRAWIRADIPUTRA et al.,
1998). Komposisi dari hijauan yang tergolong
kepada gulma, dalam hal ini hijauan yang tidak
dapat dimakan atau kurang begitu disukai oleh
kuda cukup besar 16,77%.
159,0
126,0
113,0
156,1
162,9
113,2
267,9
225,5
252,5
250,6
236,8
232,5
Nilai nutrisi dari jenis-jenis hijauan yang
biasa diberikan oleh peternak kepada kuda
dapat dilihat pada Tabel 4. Kandungan protein
kasar rata-rata dari hijauan yang diberikan
berada diatas rata-rata 100 g/kg bahan kering,
dan kandungan serat kasarnya relatif rendah
dibawah 200 g/kg bahan kering. Rataan
kandungan mineral kalsium dan fosfor pada
hijauan berada pada kisaran normal atau
sedang, yakni sebesar 2,73 g/kg bahan kering,
dan sebesar 2,01 g/kg bahan kering secara
berurutan.
Ditinjau dari segi kandungan nutrisi, rumput
Malela mempunyai kandungan nutrisi yang
terbaik dibandingkan dengan rumput yang
lainya. Hasil analisis kimia susunan unsur
menunjukkan bahwa rumput ini mempunyai
kandungan protein kasar, kalisum, dan fosfor
yang tertinggi. Rumput ini mempunyai potensi
untuk dikembangkan sebagai rumput unggulan.
Bahkan ‘tMANATJE dan JONES, (1992)
menyatakan sebagai salah satu rumput
potensial untuk dikembangkan di daerah tropik.
Tabel 3. Komposisi botanis hijauan pakan kuda di Wanaraja
Nama lokal
Rumput Bulu
Nama ilmiah Komposisi botanis (%)
Oplismenus burmanni 36,61
Gulma
16,78
Rumput Malela Brachiaria mutica 15.05
Rumput Gigirinting Cynodon dactylon 9,80
Axonopus compressus 7,20
Rumput Tatambagaan Ischaemum muticum 5,90
Alang-alang Imperata Cyclindrica 4,50
Rumput Karpet
Rumput Paparean Leersia hexandra 3,23
Bambu Bambusa vulgaris 0,69
Turiang Oryza sativa 0,24
928
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
Tabel 4. Kandungan nutrisi hijauan pakan kuda di Wanaraja
Nama lokal
Nama ilmiah
PK
SK
Ca P
g/kg
Rumput Bulu
Rumput Malela
Rumput Gigirinting
Rumput Karpet
Rumput Tatambagaan
Rumput Paparean
Oplismenus burmanni 127,1 174,2 2,1 1,4
Brachiaria mutica 180,4 185,1 3,2 1,9
Cynodon dactylon 123,9 201,0 4,1 3,2
Axonopus compressus 116,6 166,2 2,6 1,9
Ischaemum muticum 116,5 207,1 2,7 1,4
Leersia hexandra 120,6 181,4 1,7 2,3
Komposisi botanis dan nilai nutrisi hijauan
pakan kuda di Limbangan
Komposisi botanis dari hijauan yang
diberikan di daerah Limbangan dapat dilihat
pada Tabel 5. Rumput bulu masih
mendominasi, dan diikuti oleh rumput
Tatambagaan, rumput Gigirinting, rumput
Karpet, dan rumput Paparean. Komposisi
hijauan yang termasuk kedalam golongan
hijauan yang dapat dimakan oleh ternak
sebanyak 81,92%.
Nilai nutrisi dari jenis-jenis hijauan yang
biasa diberikan oleh peternak kepada kuda di
Limbangan dapat dilihat pada Tabel 6.
Dibandingkan dengan rumput-rumput lapang
yang sama (SUSETYO et al., 1969; HARTADI et
al., 1993) nampaknya kandungan nutrisi
hijauan tersebut mempunyai kandungan protein
kasar yang lebih tinggi dan serat kasar yang
lebih rendah. Rataan kandungan mineral
kalsium hijauan berada pada kisaran normal,
yaitu 2,16 g/kg bahan kering. Rataan
kandungan fosfor hijaun berada pada kisaran
rendah, yaitu sebesar 1,5 g/kg bahan kering.
Kandungan Kalsium dikatakan normal bila
berada pada kisaran 2,5 – 5 g/kg, dan fosfor
dikatakan rendah bila kandungannya lebih
kecil dari 2 gram/kg bahan kering hijauan
(MCDONALD et al., 2002).
Hijauan yang perlu dikembangkan
Berdasarkan pada komposisi botanis dan
kandungan nutrisinya, kedepan perlu dilakukan
upaya untuk mengembangkan hijauan lokal
yang sudah beradaptasi dengan kondisi
lingkungan setempat. Hijauan-hijauan tersebut
adalah rumput Bulu (Oplismenus burmanni),
rumput Gigirinting (Cynodon dactylon), dan
rumput Malela (Brachiaria mutica). Rumput-
rumput ini diharapkan pada masa yang akan
datang sebagai suatu kekayaan yang dapat
memberikan kesejahteraan kepada peternak.
Tabel 5. Komposisi botanis hijauan pakan kuda di Limbangan
Nama lokal
Rumput Bulu
Rumput Tatambagaan
Gulma
Rumput Gigirinting
Rumput Karpet
Rumput Paparean
Rumput Mata Munding
Nama ilmiah Komposisi botanis (%)
Oplismenus burmanni 26,85
Ischaemum muticum 19,92
- 18,07
Cynodon dactylon 12,23
Axonopus compressus 10,62
Leersia hexandra 4.54
Fimbristylis annua 4,51
Imperata cyclindrica 1,36
Turiang Oryza sativa 1.87
Carulang Eluesine indica 0,29
Alang-alang
929
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
Tabel 6. Kandungan nutrisi hijauan pakan kuda di Limbangan
Nama lokal
Nama ilmiah
PK
SK
Ca P
g/kg
Rumput Bulu Oplismenus burmanni 149,3 218,1 2,8 1,6
Rumput Tatambagaan Ischaemum muticum 116,9 231,3 2,6 1,5
Rumput Gigirinting Cynodon dactylon 125,5 202,4 2,0 1,2
Rumput Karpet Axonopus compressus 101,2 202,7 2,3 1,4
Rumput Paparean Leersia hexandra 117,4 217,6 1,1 1,8
PK SK Ca P
Tabel 7. Rataan kandungan nutrisi hijauan yang perlu dikembangkan
Nama lokal Nama ilmiah Rumput Bulu Oplismenus burmanni 146,4 209,7 2,3 1,36
Rumput Gigirinting Cynodon dactylon 125,1 209,6 3,1 2,1
Rumput Malela Brachiaria mutica 168,2 217,9 3, 1,9
g/kg
KESIMPULAN
1. Sistem pemeliharaan dan pemberian pakan
ternak kuda yang dilakukan berdasarkan
pada kebiasaan-kebiasaan yang turun-
temurun.
2. Jenis-jenis keanekaragaman hayati hijauan
pada daerah penelitian relatif seragam,
dengan hanya komposisi yang berbeda-
beda.
3. Rataan kandungan nutrisi jenis-jenis
rumput Bulu (Oplismenus burmanni),
rumput Gigirinting (Cynodon dactylon),
dan rumput Malela (Brachiaria mutica)
tersebut cukup baik sebagai pakan.
4. Berdasarkan pada komposisi botanis dan
kandungan nutrisinya, pada masa yang
akan datang perlu melakukan upaya
pengembangan dan peningkatan mutu
genetik untuk rumput Bulu (Oplismenus
burmanni), rumput Gigirinting (Cynodon
dactylon), dan rumput Malela (Brachiaria
mutica).
Padjadjaran
yang
telah
menberikan
kepercayaan dan bantuan dana kepada penulis
untuk melakukan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
CHAMBLISS, C.G. and E.L. JHONSON. 2002. Pastures
and Forages Crops for Horses. In: C.G.
CHAMBLISS (Ed.). Florida Forage Handbook.
Institute of Food and Agricultural Sciences,
University of Florida.
CHEEKE, P.R. 1999. Applied Animal Nutrition: Feed
and Feeding. Second edition. Prentice Hall
Inc. Upper Saddle River, New Jersey.
CUNHA, T.J. 1991. Feeding and Nutrition Horse. 2nd
Edition. Academic Press Inc. San Diego.
California.
DJUNED, H., M.D.H. WIRADISASTRA, T. USRI, T.
AISJAH, dan A.R. TARMIDI. 1980. Tanaman
Makanan Ternak, Fakultas Peternakan
Universitas Padjadjaran, Bandung.
UCAPAN TERIMA KASIH GIBBS, P.G. and K. E. DAVISON. 1992. Nutritional
management of pregnant and lactating mares.
Texas Agricultural Extension Service. Bull.
No. 5025. Texas A&M University, College
Station.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada GUAY, K.A., H.A. BRADY, V.G. ALLEN, K.R. POND,
Rektor Univeritas Padjadjaran, Ketua Lembaga D.B. WESTER, L.A. JANECKA and N.L.
Penelitian Universitas Padjadjaran, Pengelola HENINGER. 2002. Matua bromegrass hay for
Dana Penelitian Dosen DIPA PNPB Univertias mares in gestation and lactation. J. Anim. Sci.
80: 2960 – 2966.
930
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2006
HARTADI, H., S. REKSOHADIPRODJO dan A.D.
TILLMAN. 1993. Tabel Komposisi Pakan untuk
Indonesia. Gadjah Mada University Press.
tMANNETJE, L. and R.M. JONES. 1992. Prosea 4:
Forage. PROSEA. Bogor.
MCDONALD, P., R.A. EDWARDS, J.F.D. GREENHALGH
and C.A. MORGAN. 2002. Animal nutrition, 6th
Ed. Prentice Hall. London
PARAKKASI, A. 1988. Ilmu Nutrisi dan Makanan
Ternak Monogastrik Vol IB. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud,
Jakarta.
PERRY, T.W., A.E. CULLINSON and R.S. LOWREY.
2003. Feed amd Feeding. Sixth Ed. Prentice
Hall. Upper Saddle River. New Jersey.
PRAWIRADIPUTRA, B.R., T. MANURUNG, N.D.
PURWANTARI, S. YUHAENI, N.P. SURATMINI,
SAJIMIN, E. SUTEDI, R. MUJIASTUTI, P.
FERNANDEZ dan ASNAH. 1998. Seleksi
Rumput dan Leguminosa untuk Wilayah
Beriklim Kering. Laporan Hasil Penelitian
Bagian Balitnak T.A 97/98.
SASTRAPRAJA, S. dan J.J. AFRIASTINI. 1980. Jenis
Rumput Dataran Rendah. Lembaga Biologi
Nasional. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia.
SUSETYO, I. KISMONO dan B. SOEWARDI. 1969.
Hidjauan Makanan Ternak. Direktorat
Peternakan Rakjat. Direktorat Djendral
Peternakan. Departemen Pertanian, Jakarta.
PRAWIRADIPUTRA, B.R. dan M.E SIREGAR. 1980.
Komposisi vegetasi hijauan makanan ternak di
tiga perkebunan kelapa di Sulawesi Utara.
Lembaran LPP. No. I. Bogor.
931