KARISMA dan KEPEMIMPINAN
Tugas KOK 7 Juni 2011
KARISMA dan KEPEMIMPINAN
1. Juanda E14090003
2. Galih Wicaksono I34080068
3. Icin Trisnawati I34080071
4. Dian Hermawati I34080074
5. Sri Anom Amongjati I34080077
6. Kunti Fahmar Sandy I34080084
1. Perbedaan antara pemimpin kharismatik dan leadership transforming yaiut: pemimpin kharismatik belum tentu dapat mengubah aspirasi pengikut menjadi tindakan-tindakan nyata. Pada leadership transforming mampu mengubah aspirasi pengikut menjadi tindakan-tindakan nyata untuk memperbaiki kehidupan. Pada kepemimpinan Leadership transforming mempersyaratkan adanya dialogis antara pengikut dengan pemimpin.
2.Pada situasi-siutasi tertentu hal yang mendorong munculnya pemimpin kharismatik adalah pemimpin kharismatik memiliki keuntungan pada setiap saat sang pemimpin dengan mudah akan dapat menggerakan segenap pengikutnya untuk melakukan suatu tindakan yang dikehendaki.
3.Seorang pemimpin yang berhasil menurut penulis yaitu terjadinya perubahan-perubahan dalam kehidupan para pengikut yang sesuai dengan aspirasi mereka serta adanya faktor lain yang mendukung seperti faktor ideology yang pada dasarnya adalah kristalisasi dari keinginan suatu masyarakat atau aspirasi suatu rakyat. Menurut para ahli, semua pemimpin yang berhasil yaitu pemimpin yang melaksanakan kepemimpinannya dengan bertopang kepada karisma dan ideologi. Saya setuju dengan pendapat penulis. Pemimpin yang berhasil memang tidak cukup hanya memiliki karisma saja. Karena perubahan-perubahan yang dilakukan oleh pemimpin bisa saja tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan atau yang diinginkan masyarakat. Oleh sebab itu, diperlukan pemimpin yang cermat melihat kebutuhan masyarakat dan mampu menampung serta menyalurkan segenap daya yang terpendam dalam keinginan para pengikut untuk meraih kehidupan yang terhormat dan bermanfaat.
4. Interaksi Dialogis adalah hubungan yang tidak memiliki perbedaan antara pemimpin dan pengikut dalam merumuskan tugas dan pencapaian tujuan bersama. Hal ini menjadi sesuatu yang dianggap penting karena mampu menumbuhkan perasaan yang kuat bagi pengikutnya dalam menjalani pahit getirnya usaha-usaha pembangunan sehingga mereka selalu merasa didampingi dan dilindungi oleh para pemimpinnya. Interaksi dialogis ini terlihat ketika sat tertentu para pemimpin mengarahkan pengikut, tetapi pada saat yang lainnya para pemimpin mencari petunjuk dari kehidupan para pengikutnya. Secara tidak langsung para pengikut dapat berfungsi sebagai pemimpin dan sebaliknya, pemimpin berperan sebagai pengikut. Sehingga memungkinkan untuk memperbaiki diri masing-masing secara terus menerus.
5. jelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan “model kepemimpinan yang efektif” oleh penulis! Faktor apa saja yang dianggap penting sehubunan dengan hal ini? Mengapa?
Menurut penulis, pemimpin karismatik pun belum cukup untuk dapat mengatakan kepemimpinan yang efektif. Meski secara umum dikatakan, karisma merupakan faktor penting untuk menggalang dukungan bagi seorang pemimpin. Tetapi untuk mencapai keberhasilan yang nyata dan berarti – yaitu perubahan-prubahan dalam kehidupan para pengikut sesuai dengan aspirasi meeka – masih dibutuhkan faktor lain lagi yaitu faktor ideology, yang pada dasarnya adalah kristalisasi dari keinginan suatu masyarakat atau aspirasi suatu rakyat. Makin besar kreativitas seorang pemimpin dalam memadukan karisma dan ideology ini, makin besar pula keberhasilan politik yang dapat diraihnya. Pemimpin karismatik pun tidak hadir dalam setiap generasi. Perlu ada kesadaran bahwa kepemimpinan pada akhirnya adlah seni untuk mengenali, menggalang, dan menyalurkan segenap daya aspiratif yang hidup dalam hati para pengikut, yaitu daya yang terpendam dalam keinginan untuk memperbaiki kehidupan sendiri, kehidupan keluarga dan kehidupan bangsa.
6. bagaimana hubungan atasan-bawahan dan sistem kepegawaian antara yang berlaku dalam perusahaan-perusahaan di Indonesia, bandingkan dengan yang berlaku di negara barat?
Jika melihat kondisi kepemimpinan di Indonesia, hubungan atasan-bawahan seakan, dikuasai oleh atasan, dimana atasan yang selalu mendominasi bawahannya,dan bawahan cenderung selalu mengikuti atasan mereka. Istilah ABS (Asal Bapak Senang) sering menjadi budaya di kegiatan perkantoran di Indonesia, hal ini tidak sama dengan hubungan atasan dan bawahan di Negara barat yang lebih menghargai ideology bawahannya dalam suatu manajemen, contoh kasus, seperti di Amerika Serikat, yang menjunjung asas demokrasi dimana berbagai kegiatan administrasi mereka didasarkan benar-benar merujuk pada rakyat, dan hal ini juga berdampak pada hubungan atasan-bawahan yang cenderung lebih demokratis jika dibandingkan di indonesia
7. Ya, bisa terjadi ketika posisi seorag pemimpin organisasi bukan hanya terletak pada bagaimana dia dapat memutuskan keputusan formal saja, amun juga dipegaruhi latar belakang budaya dari sebuah masyarakat. Sebagai contoh dalam sebuah masyarakat tradisional, posisi pemimpin bukan hanya dibebankan untuk menyelesaikan masalah formal yang berkaitan dengan administrasi desa, namun juga sebgai penengah dalam hal2hal penting dan salah satunya adalah masalah keluaraga dan peredam konflik dalam masyarakat.
8. Sosok pemimpin ideal pada masa datang menurut Herben. N yaitu dengan meninggalkan personalisme dalam kehidupan politik dan pembangunan. Sudah waktunya bagi kita untuk membudayakan semangat kerakyatan dalam kepemimpinan. Pemimpin dari pengikut bukan posisi-posisi yang mati, yang melekat mutlak pada diri seseorang. Pemimpin perlu belajar menjadi pengikut, dan pengikut perlu menyadari peranan kepemimpinan yang dapat mereka lakukan. Menurut saya, ini harus dilakukan.