LOVE YOU A LOT MOMM :)

Kuuntai kini frasa yang kerap disebut orang-orang surat cinta. Jika Ibu bertanya, bukankanh surat cinta untuk seorang kekasih ? Perlukah kutegaskan, bahwa Ibu bukanlah seorang kekasih. Perlukah kukatakan berulang kali bahwa Ibu lebih dari seorang kekasih. Selamat Hari Ibu, Bu ! Hari ini kerap semua orang merayakannya dengan wanita yang paling mereka cintai, Ibu. Mereka makan bersama, saling memberikan kado, berjalan-jalan bahkan shopping bersama. Tapi apa yang dapat kita lakukan saat ini, di tanggal 22 Desember, tanpa kebersamaan, Ibu ? Mungkin Ibu hanya dapat memasak makanan favoritku, makanan yang kerap Ibu buat ketika aku menggenapkan usia. Mungkin juga Ibu hanya dapat tidur di kamar biruku hanya sekedar membunuh rasa rindumu kepada anakmu ini. Ibu juga dapat mengunjungi tempat yang biasa kita datangi berdua dan membeli ice cream choco magma atau rainbow peak kesukaan kita. Ibu juga dapat memasukkan nomor telponku dan menghubunginya ketika waktu istirahatmu di tengah padatnya kegiatan saat tanggal 22 Desember. Tapi apa yang dapat kulakukan di tanggal 22 Desember ini Ibu ? Aku masih menerka dan mencoba mentransformasikannya dalam alam imajinasiku. Apa yang dapat kulakukan di sebuah kamar berwarna coklat muda-warna kesukaanmu- di kamar yang selalu kukeluh kesahkan padamu. Aku hanya dapat melukis guratan keikhlasan yang terbesit dari wajahmu. Aku hanya dapat membayangkan genggaman hangat dari tangan lembutmu. Aku hanya dapat merindukan belaian pada helai rambutku. aku juga hanya dapat berharap kini kau hadir di hadapanku seraya memeluk dan berkata, “Ayo kita rayakan hari yang indah ini, nak ! Ayo kita bersenang-senang hari ini ! Usah kau kelabukan hatimu ! Ibu ada di sini, di hadapmu ! Tersenyumlah, sayang !” Selamat Hari Ibu, Bu ! Kusadari kini kau begitu renta untuk memikul beban hidupmu sendiri. Kusadari pula begitu rentannya kini tubuhmu dari semua serangan yang dengan mudah dapat membuat tubuh Ibu terkulai tak berdaya. Kusadari kini rambutmu tak hanya berwana hitam. Tapi masih tetap kusadari bahwa Ibu bukan hanya sekedar manusia biasa. Ibu adalah sosok malaikat yang ditakdirkan oleh Tuhan untukku. Hanya saja, Ibu terlalu merendahkan diri dan selalu menyatakan bahwa “Ibu hanya manusia biasa yang berbatas, Nak” Selamat Hari Ibu, Bu ! Memang waktu begitu cepat berlalu meninggalkan kita yang kian lalai karena terlampau menikmati kemilau dunia. Masih kuingat jelas, saat Ibu memoleskan minyak hangat di sekujur tubuhku. Masih kuingat jelas, betapa lembutnya Ibu mengepang rambut hitam panjangku. Masih kuingat jelas, betapa lezatnya bekal yang setiap pagi kubawa ketika aku sekolah. Masih kuingat jelas, tutur katamu yang menggetarkan setiap kali Ibu bertanya, ingin makan apa aku hari ini. Masih pula kuingat jelas, betapa merdunya ketika Ibu melantunkan lagu “Ambilkan Bulan Bu” untukku sebelum aku tidur. Masih pula kuingat jelas, ketika tubuhku gatal dan Ibu menaburkan bedak gatal ke tubuhku sambil menenangkanku. Masih kuingat jelas betapa sayunya mata Ibu ketika menggendongku di saat aku sakit padahal seharusnya saat itu Ibu sudah terlelap dan dimanjakan oleh mimpi-mimpi indah. Masih kuingat sangat jelas, ketika Ibu membimbingku untuk shalat. Masih kuingat begitu jelas ketika Ibu mengajarkanku surat pembuka al-Qur’an, surat al-Fatihah. Masih kuingat sangat jelas, saat Ibu membantuku mengingat doa sebelum makan, doa sebelum tidur, doa masuk kamar mandi, doa saat hendak bepergian, doa ini, doa itu dan doa-doa yang lain. Selamat Hari Ibu, Bu ! Rasanya, baru kemarin aku bergelayut manja di bahu Ibu yang kini mulai tak sempurna lagi. Rasanya, baru kemarin kita meniup lilin bersama di hari jadi Ibu yang ke-41. Rasanya, baru kemarin kita bercengkeramatentang hal yang pada dasarnya hanyalah sebuah cerita konyol tapi begtu menggelitik hati kita. Tak dapat kupingkiri memang begitu kejamnya aku sebagai seorang anak. Begitu jahatnya aku ketika harus membiarkan hati Ibu cemas saat aku tinggalkan keluar rumah di malam hari yang sudah mulai larut. Betapa kejamnya aku yang harus membiarkan air mata Ibu menetes karena tak kuasa menahan kecemasan. Betapa kejamnya aku ketika aku mematahkan semua argumen dengan hardikan demi hardikan yang tak layak aku lontarkan. Betapa teganya aku membiarkan Ibu melawan sakit yang Ibu rasakan. Aku sadar, betapa pantasnya Ibu membatasi ruang gerakku. Harusnya kupahami, betapa berharganya setiap untaian nasihat Ibu yang setiap kali kulalukan. Sudah sepantasnya aku tahu betapa sulitnya menjadi seorang Ibu sekaligus menjadi seorang Ayah untuk ketiga putrinya. Selamat Hari Ibu, Bu ! Dari hatimu aku temukan hati seorang Ibu. Dalam jiwamu aku temukan jiwa seorang Ayah. Masih terekam penuh kata-kata Ibu menegarkan kami bahwa kini di hidup kami Ibu-lah Ibu kami. Bahwa di hidup kami, Ibu-lah Ayah kami. Mungkin saat berkata itu, Ibu menyempatkan diri untuk memalingkan wajah hanya sekedar untuk mengusap air mata yang tak mampu Ibu bendung. Begitu terjalnya hidupmu, Ibu. Begitu perihnya duri yang tak hanya melukai kaki yang Ibu bawa melangkah, tapi juga hati yang selalu Ibu gunakan untuk memaknai hidup Ibu dan hidup putri-putrimu. Namun, tak pernah sedikit pun kudengar Ibu berkesah akan semua ini. Yang kudapati hanya semua canda Ibu yang selalu mampu membunuh kegelisahan hatiku. Tak pernah kupikirkan darimana uang yang kini kugunakan untuk aku kuliah. Tak pernah kupikirkan darimana uang yang saat itu Ibu gunakan untuk membeli sepatu baruku. tak pernah kupikirkan darimana uang yang Ibu gunakan untuk membeli handphone baru untukku agar aku dapat merasakan apa yang teman-temanku rasakan. Yang kutahu hanyalah kini aku kuliah di IPB. Yang kutahu saat itu adalah ketika aku pergi sekolah, sepatuku sudah berubah menjadi sepatu yang baru, yang kutahu adalah aku memiliki handphone yang tak jauh beda dengan teman-temanku. Sering kubertanya, batu apa yang mendasari pembuatan hatiku, sehingga begitu kerasnya hatiku, sehingga begitu membusuknya hatiku. Selamat Hari Ibu, Bu ! Ibu, saat ini, saat kurangkai kata-kata ini, jujur tak dapat kubendung air mata. Air mata yang tak tahu bermakna apa. Air mata rindu. Air mata haru. Air mata kelu. Aku masih terus mencoba menghubungkan titik demi titik yang pada akhirnya dapat melukiskan raut wajah Ibu yang terakhir kali kutatap. Wjah Ibu saat melepaskan keberangkatanku menuntut ilmu. Wajah sayu karena terbius angin malam yang begitu tajam. Padahal tubuh Ibu begitu rentan dengan sapaan angin, tapi malam itu, ketika jam handphone kita menunjukkan angka 00:02, Ibu tetap setia menemaniku menunggu bis yang akan membawaku pergi. Kucium punggung tangan Ibu yang kian berkerut saat bis yang ditunggu datang. Ibu kecup kedua pipiku seraya berujar “Hati-hati, Nak. Jaga diri baik-baik”. Begitu tulusnya hatimu untuk melakukan itu Ibu. Selamat Hari Ibu, Bu ! Sempat aku berpikir, pernahkah Ibu merasa jemu mengikhlaskan semua waktu Ibu untuk putri-putrimu Ibu ? Adakah engkau bosan menanyakan kabarku setiap hari meski kerap kali tak kubalas pesan singkatmu hanya dengan alasan yang begitu mengada-ada ? Apakah engkau masih rela aku “susahkan” setelah sebelumnya Ibu telah payah mengandungku dan setia membawaku kemanapun kaki Ibu melangkah dan mengusap-usapku setiap kali aku menendang-nendang perutmu ? Selamat Hari Ibu, Bu ! Begitu banyaknya syair yang pernah kubuat, namun baru kusadari bahwa semua syair itu tak pernah kusyairkan untuk Ibu. Aku lebih memilih melukiskan eksotisnya dunia. Padahal Ibu merupakan objek yang lebih eksotis untuk syairku. Di hari Ibu ini, ingin kupersembahkan sebait puisi yang sebelumnya tak pernah kupersembahkan untuk Ibu. Kucoba menarik tangan itu dan mencumbunya Kucoba merasakan keikhlasan yang mengalir dari setiap desah nafasmu Kucoba menikmati dekapan hangat darimu Kucoba merasakannya lebih lama lagi Masih kucoba menarik tangan itu dan mencumbunya Masih kucoba merasakan keikhlasan yang mengalir dari setiap desah nafasmu Masih kucoba menikmati dekapan hangat darimu Masih kucoba merasakannya lebih lama lagi Utopia Semua itu hanya utopia Semua itu mengelabuiku Semua menipuku Semua membuatku semakin terpuruk dengan rindu Aku memang tak pernah lalai mengingat semua kejadian yang pernah kita lewati Aku memang tak pernah khilaf melupakan gurasan paras ayumu Tapi kini aku benar-benar ingin bersamamu Tapi kini aku benar-benar ingin engkau peluk Ibu… Adakah kau tahu apa yang kurasakan Maukah engkau sedikit berkeluh kesah merasakan juga apa yang aku rasakan Ibu…. Kian lumat wajahmu termakan usia Kian rapuh bahumu terkikis zaman Kian pias rambutmu tersapa sang surya Namun hatimu tak pernah sedikit pun berkelabu Tegarmu membuatku tak mampu lagi berujar Hanya mampu berkata Aku rindu Aku Rindu A Ku Rin Du Ku Rin Du Rin Du Du U ? Selamat Hari Ibu, Bu ! Tak terbatas dari puisi. Aku pun kerap melantunkan lagu cinta. Namun mirisnya, aku jarang melantunkan lagu cinta untuk Ibu. Dan di saat inilah, aku ingin menyanyikan lagu lewat tinta hitam. Lagu masa kecilku yang saat ini masih aku ingat. Apa yang kuberikan untuk mama Untuk mama tersayang Tak kumiliki sesuatu berharga Untukmu mama tercinta Hanya ini kunyanyikan Senandung dari hatiku untuk mama Hanya sebuah lagu sederhana Lagu cintaku untuk mama Walau tak dapat selalu kuungkapkan Kata cintaku tuk mama Namun dengarlah hatiku berkata Sungguh kusayang padamu mama Hanya ini kunyanyikan senandung Dari hatiku untuk mama Hanya sebuah lagu sederhana Lagu cintaku untuk mama… Selamat Hari Ibu, Bu ! Kini aku menyadarkan diri dan menegarkan hati, bahwasanya perayaan Hari Ibu itu tidak mesti identik dengan kado, jalan-jalan, makan-makan bahkan shopping. Tapi hal yang paling mendasar ketika tanggal 22 Desember itu datang, kita harus berbenah diri. Memberi makna dalam dari setiap kejadian yang terjadi pada tanggal 22 Desember. Keberhasilan moment 22 Desember bukan terletak pada cara kita merayakannya, tapi terletak bagaimana sikap kita pada 364 hari yang lain selain tanggal 22 Desember. Jarak sekalipun tidak mematahkan hatiku untuk merayakan Hari Ibu. Karena sampai saat ini, aku masih sangat merasa beruntung karena Ibu tak pernah mau lari meninggalkan hatiku yang akan kosong kasih sayang jika Ibu angkat kaki dari hidupku. Engkau yang bernama Sri Wahyuni, kuantarkan dalam hatimu, sebuah kata selebrasi, ucapan selamat Hari Ibu beriring dengan permohonan restu atas langkah-langkah yang akan kuayunkan. Semoga kelak aku dapat menjadi Ibu sehebat Ibu. Selamat Hari Ibu Wanita Terindahku ! Dalam ruangan putih, 03 Desember 2011 Putri keduamu Putri nakalmu dulu Putri manjamu Putri kebanggaanmu ~Ening Dwi Jawaty~ LOVE YOU A LOT MOMM :)

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer