”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” ”RAPID MAPPING” TENDA-TENDA PENGUNGSI KORBAN TSUNAMI DI PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD) DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV M. Darmawan1 dan Gatot H. Pramono2 1 Peneliti Bidang Aplikasi Penginderaan Jauh dan Koordinator Kelompok Studi Perubahan Sumberdaya alam dan Lingkungan (NaRES), 2 staf bidang Basis Data Spasial SDA Laut Bakosurtanal. Abstrak Salah satu dampak langsung dari bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan sebagian Sumatera Utara (SUMUT) pada 26 Desember 2004 adalah berdirinya tenda- tenda pengungsi yang dihuni sekitar 426.849 orang. Lokasi tenda-tenda pengungsi umumnya terbentuk secara alami dan tersebar dalam jarak yang cukup berjauhan sehingga menyulitkan penyaluran bantuan. Bakosurtanal dan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP) memandang perlu melakukan pemetaan secara cepat (rapid mapping) sebaran pengungsi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi Gegrafic Information Systems (GIS). Secara garis besar kegiatan ”rapid mapping” terdiri atas tiga aktivitas utama, yakni survei lokasi dan relokasi, membangun sistem aplikasi pemetaan dan sosialisasi hasil pemetaan lewat web. Kegiatan survei lokasi berupa pengambilan titik-titik GPS termasuk melakukan wawancara dengan para pengungsi. Sistem aplikasi dibangun dengan pemograman bahasa Script Avenue yang ada dalam Arcview 3.3 ESRI. Paper ini mempresentasikan model pemetaan cepat sebagai bagian dari managemen bahaya bencana alam, khususnya untuk memetakan distribusi pengungsi. Hasil kegiatan menunjukan lebh dari 50% titik lokasi pengungsi dapat di petakan secara cepat dalam waktu kurang dari 1 minggu dan disajikan dalam bentuk spasial berbasis data GIS. Lewat cara ini memungkinkan otomatisasi tampilan dan mencari (querry) informasi tentang sebaran dan kondisi tenda pengungsi serta sebaran tempat relokasi sehingga membantu penyaluran logistik. Keyword: Tsunami, Rapid mapping, GPS, dan sistem aplikasi GIS I. PENDAHULUAN ”Rapid mapping (pemetaan cepat)” adalah kegiatan pengumpulan (survei), pengolahan (analisis), dan visualisasi (display) data geospasial secara cepat sehingga kebutuhan informasi akan sesuatu peristiwa dapat dipenuhi sesuai standart yang berlaku. Informasi yang dihasilkan dari kegiatan rapid maping dapat dijadikan kerangka kerja (frame work) untuk mensuport kebijakan dalam memanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan ataupun info dini untuk membantu pengelolaan bencana alam (initial disaster management), meskipun informasi yang dihasilkan ini kemungkinan pula tidak dikembangkan lebih jauh. Sebagai negara yang berada dalam lingkaran ”ring of fire” berbagai bencana alam (kebakaran hutan, gempa bumi dan tsunami) seperti menjadi bagian dari siklus kehidupan ekologis bangsa ini. Oleh karena itu selain diperlukan kesadaran dan keakraban bahwa kita hidup dalam wilayah yang penuh bencana alam, diperlukan pula kesiapan dalam menghadapi berbagai kemungkinan. Salah satu unsur kesiapan tersebut adalah perlunya suatu ”tim khusus (rapid team)” pengumpul berbagai informasi bencana alam yang terjadi dimanapun diwilayah tanah air ini. Tim tersebut adalah tim pendahulu yang terkoordinasi dalam bekerja dan mampu menyajikan laporan dalam bentuk spasial. Masih belum hilang dalam ingatan, bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami yang melanda Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan sebagian Sumatera Utara (SUMUT) pada 26 Desember 2004. Bencana ini tidak hanya merubah fisik dan kondisi muka bumi Aceh, namun juga mempengaruhi struktur sosial dan ekonomi masyarakat keseluruhan. Sedikitnya 43 negara telah mengirim para relawannya baik militer maupun sipil dan lebih dari 60 organisasi dalam negeri telah berada di sana sejak awal terjadinya bencana (Aceh Media Center, 2005). Semua tim-relawan yang datang ke Aceh pada Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 – 15 September 2005 MBA - 108 Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV ”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” awal-awal kejadian adalah ”rapid team”, hanya berupa pengambilan titik-titik GPS termasuk yang ”rapid team” melaksanakan ”rapid mapping” melakukan wawancara dengan para pengungsi masih bisa dihitung dengan jari. Akibat dari dengan menggunakan metode deskriptif. Data- lemahnya koordinasi dan visualisasi, Kegiatan data yang diumpulkan selama survei ini meliputi, ”rapid mapping” yang dilaksanakan pun tidak informasi lokasi dan kondisi tenda pengungsi tersosialisasi optimal sehingga tidak dimanfaatkan berupa nama kecamatan, nama desa, nama tenda, oleh pengambil keputusan selain hanya menjadi alamat, posisi geografis, kontak person, laporan pertanggung jawaban pelaksana kegiatan. konstruksi, sumber air, kondisi air, listrik, sanitasi, Sehingga kesulitan utama para relawan disana logistik, kesehatan dan jumlah pengungsi ; Foto dalam dan video tentang kondisi tenda pengungsi dan membantu relokasi ; dan identikasi kekurangan yang paling para umum di lokasi pengungsi. korban adalah mendistribusikan bantuan secara merata akibat minimnya data spasial sebaran pengungsi. Padahal salah satu dampak dari bencana ini adalah 2.2. Membangun Sistem Aplikasi Pemetaan berdirinya tenda-tenda pengungsi yang dihuni sekitar 426.849 orang. Lokasi tenda-tenda pengungsi umumnya terbentuk secara alami dan tersebar cukup berjauhan sehingga memang menyulitkan penyaluran bantuan. Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP) sebagai lembaga resmi dan terdepan penanggulangan bencana di Indonesia hingga bulan februari akhir ( 2 bulan sesudah kejadian) masih belum mempunyai informasi spasial (peta) akurat tentang sebaran pengungsi. Oleh karena itu Bakornas PBP meminta Bakosurtanal melakukan rapid maping sebaran pengungsi korban bencana gempa bumi dan tsunami di propinsi NAD. Maksud kegiatan ini adalah memetakan sebaran pengungsi korban tsunami dan gempa bumi di Nanggroe Aceh Darusalam dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG). Tujuannya membantu Bakornas PBP dalam program penanganan dan penanggulangan pengungsi. 2. METODOLOGI PENELITIAN Secara garis besar kegiatan ”rapid mapping” tenda pengungsi dilaksanakan selama sepuluh hari terbagi atas tiga aktivitas utama, yakni survei lokasi, membangun sistem aplikasi pemetaan dan sosialisasi hasil pemetaan. urvei terestris dan analisa deskriptif. 2.1. Survei Lokasi Pengungsi Survei lokasi pengungsi dilaksanakan secara langsung dengan mendatangi lokasi tenda-tenda dilapangan (terestris). Kegiatan utama survei ini Setelah survei lokasi tenda pengungsi dan pengisian quesioner selesai selanjutnya dilakukan pemetaan dengan memanfaatkan teknologi SIG. Aplikasi SIG ini dibuat dengan pemograman bahasa Script Avenue yang ada dalam Arcview. Aplikasi SIG ini mampu melakukan otomatisasi tampilan dan mencari informasi tentang sebaran dan kondisi pengungsi; sebaran dan kondisi tenda pengungsi; serta sebaran dan kondisi tempat relokasi pengungsi. 2.3. Sosialisasi Hasil Pemetaan Sosialisasi hasil survei dan pemetaan lokasi tenda pengungsi dilakukan dengan memanfaatkan internet, sehingga diharapkan bisa diakses dalam jaringan yang lebih luas. Format Web didesain untuk menampilkan peta wilayah kotamadya Banda Aceh dan kabupaten Aceh Besar dengan plot lokasi pengungsi dan relokasi. Pengguna dapat memilih lokasi pengungsi atau relokasi tertentu dan akan terlihat foto dan informasinya. Contoh dari aplikasi web ini telah diupload pada website Bakosurtanal. 2.4 Peralatan dan Schedule Kerja Untuk mengoptimalkan kerja, tim dibekali berbagai peralatan survei seperti laptop, GPS, Handy camera, dan data digital baik rupabumi maupun data tematik. Spesialisasi keanggotaan tim secara kasar terbagi atas SIG sistim developer and desain, Remote sensing and SIG analisis, operator SIG dan GPS. Schedule kerja tim dilapangan tersaji dalam tabel 1. Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 – 15 September 2005 MBA - 109 Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV ”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” Tabel 1. Shedule kerja Tim pemetaan di Aceh No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perencanaan survei Survei tenda dan relokasi Memasukkan data ke sistem Menyiapkan layer data dasar Desain basisdata Desain user interface Membangun aplikasi web Membangun aplikasi SIG Presentasi dan diseminasi hasil Koordinasi antar instansi 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Salah satu kategori kegiatan yang masuk ”rapid mapping” yang ada di Aceh adalah survei lokasi pengungsi yang dilaksanakan oleh MAPALA Universitas Indonesia (UI) sekitar awal Januari 2005 (Wawancara dengan staf GIS dari The United Nation Join Logistic Centre). Sekitar 391 titik lokasi pengungsi berhasil dikumpulkan dalam waktu satu bulan dan telah pula disajikan dalam bentuk peta oleh MAPALA UI. Pengeplotan ulang titik tersebut kedalam format peta dasar Bakosurtal hanya menghasilkan 147. Hal ini karena sebagian besar lokasi/titik tidak memuat informasi posisi koordinat, atau beberapa lokasi mempunyai titik oordinat yang sama; selain itu terdapat beberapa titik koordinat yang jatuh ke laut. Satu bulan sejak survei oleh Mapala UI, maka survei yang dilakukan tim Bakosurtanal mendapati sebanyak 48 titik tenda yang masih dihuni para pengungsi disekitar Banda Aceh dan Aceh Besar sebagian lain telah kosong ditinggal penghuninya. Selain itu survei kali ini juga sudah mendata 9 titik relokasi untuk wilayah kota Banda Aceh dan Aceh besar. Jumlah tenda pengungsi yang disurvei lebih kecil dari yang pernah dilakukan Mapala UI. Hal ini menunjukkan adanya kedinamisan pengungsi, sehingga banyak tempat pengungsian yang sudah ditinggalkan oleh para pengungsi karena faktor- faktor seperti seperti pulang ke rumah, berpindah kerumah-rumah saudara atau penduduk, atau lokasi pengungsian lainnya. Route survei ditampilkan dalam Gambar 1. Metode deskriptif sangat berguna untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi parpengungsi. Menurut Singarimbun (1989) metode deskriptif tidak memerlukan pengujian hipotesa dalam menghimpun fakta untuk menghasilkan pengukuran yang cermati. Kehidupan para pengungsi tersebar pada beberapa tempat penampungan sebagai berikut: tenda- tenda, bangunan-bangunan sosial milik pemerintah dan swasta; rumah-rumah penduduk, dan areal transmigrasi yang telah ditingalkan penghuninya. Permasalahan umum yang dijumpai kondisi tenda yang kurang memadai, pasokan sembako yang menipis, keinginan untuk kembali bekerja, keinginan untuk segera direlokasi, air yang masih kotor, MCK yang tidak memadai dan kotor, dan kekurangan alat masak. Setelah kegiatan survei selesai dilakukan selanjutnya dibangun sistem aplikasi untuk memvisualisaikan hasil survei. Kendala utama adalah ketidaktersediaan data dasar dan data batas administrasi. (khususnya skala 1:50.000), sehingga menyulitkan pemetaan dalam format standard nasional per batas administrasi. Hal utama dalam sistem aplikasi SIG ini adalah pada basis data yang dibuat. Menurut Date (2004) gambaran sistem basis data umumnya meliputi empat komponen utama yaitu: Data, perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan pemakai (user). Dalam ”rapid mapping” ini basis data yang dibangun menggunakan coverage model dari Environmental System Research Institute (ESRI). Dua kunci utama basis data model coverage yaitu (Zeiler, 1999): Pertama, setiap data spasial selalu disertai atribute. Data spasial disimpan dalam dalam index binari file dan data atribute disimpan dalam bentuk table Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 – 15 September 2005 MBA - 110 Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV ”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” yang mempunyai hubungan relational. Kedua, Setiap features vector (titik, garis dan area) mempunyai topologi. Contoh tampilan sistem aplikasi SIG untuk tenda- tenda pengungsi tersaji dalam gambar 2. Visualisasi hasil survei dalam bentuk aplikasi sangat membantu instansi pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat yang sejak awal terlibat aktip dalam proses rekuntruksi aceh. Melalui sistem aplikasi pemetaan distribusi pengungsi ini maka data keruangan (data spasial) atau peta SIG dapat ditampilkan lebih mudah dan interaktif sehingga memudahkan rapat-rapat koordinasi antar lembaga pemerintah maupun swasta di propinsi NAD. Karena bagi sebagian besar informasi lebih mudah dimengerti manakala tersaji dalam bentuk peta daripada data table. Data spasial atau peta yang banyak digunakan di NAD selama ini dikeluarkan oleh The united nation join logistic centre (UNJLC). Mesti tergolong sederhana dan hanya merupakan kompilasi dari data yang sudah ada, namun karena memuat informasi yang terkait langsung dengan kondisi bencana seperti lokasi pengungsi, posko relawan asing maka peta-peta dari UNJLC banyak beredar diantara para relawan di NAD. Sumber peta mereka adalah data jalan Bakosurtanal skala 1:600.000, peta batas administrasi dari Biro Pusat Statistik (BPS), dan peta dasar Aceh yang dikeluarkan tentara Australia. 4. KESIMPULAN Belajar kejadian bencana gempa tsunami di NAD dan Sumut memberikan bukti bahwa sistem pemetaan yang cepat, akurat dan terintegrasi sangat diperlukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu memonitor sebaran dan jumlah tenda-tenda pengungsi yang bersifat dinamis dan sangat terkait dengan masalah penyaluran bantuan (logistic). Kontribusi langsung tim pemetaan pada masa darurat, selain melakukan pemetaan cepat akan daerah bencana juga membantu penyusunan sistem pemetaan interaktif dengan memanfaatkan teknologi SIG untuk mensuport kebijaksanaan pemerintah dalam penanganan masalah pengungsi. serupa besar kemungkinan akan terjadi lagi dengan periode yang tertentu. Oleh karenanya, perlu keseriusan dari lembaga yang tergabung dalam riset dan teknologi, untuk membentuk suatu tim survei (rapid team response) yang berbasis sistem informasi geografis guna merespon kejadian-kejadian yang tidak diharapkan tersebut. Sehingga informasi yang sampai ke masyarakat luas bukan hanya mengetahui peristiwa kejadian namun juga mengetahui sebaran pengunsi dan dampak yang ditimbulkannya. Termasuk pula untuk memnyiapkan data dasar dan peta yang bersifat ”publik domain”. Melihat peran penting data dijital (peta dasar rupabumi dan batas administrasi) di masa depan, maka para penyedia data digital dan data batas administrasi perlu lebih aktif dalam melakukan koordinasi dan menyempurnakan data-data tersebut, terlebih pada masa recovery (tahap rehabilitasi dan rekonstruksi) lembaga ini sebaiknya bisa berperan lebih aktif dalam membantu pemerintah daerah NAD dalam menyediakan data dan sistem informasi keruangan. DAFTAR PUSTAKA Aceh Media Center, 2005. Date, C.J., 2004. Pengenalan Sistem Basis Data. Edisi 1 Gramedia. Jakarta. Darmawan, M, dan G.H. Pramono, 2005. Laporan Survey Tim Bakosurtanal ke Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) 3 -17 Februari 2005 Bakosurtanal. Singarimbun, M., 1989 (dalam Metode Penelitian Survei editor Singarimbun, M dan Effendi , S) LP3ES. Jakarta. Zeiler, M, 1999. Modeling Our World, ESRI Press. USA. Akibat posisi geografis Indonesia yang sebagian besar berada pada jalur gempa, maka bencana Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 – 15 September 2005 MBA - 111 Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV ”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” Gambar 1 Sebaran pengungsi (IDP camp) di Banda Aceh dan kabupaten Aceh besar. Terlihat tenda pengungsi tersebar hingga kedaerah pegunungan di Jantho di selatan Gambar 2. Tampilan depan Sistem informasi geografi penyebaran tenda-tenda pengungsi dan relokasi Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 – 15 September 2005 MBA - 112 Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV ”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” Gambar 3. halaman muka tampilan web Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 14 – 15 September 2005 MBA - 113

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer