”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” PENGEMBANGAN MODEL MULTINOMIAL NEURAL NETWORK DALAM KONTEKS KLASIFIKASI PENUTUP LAHAN
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
Wiweka1 dan Wawan Setiawan2
1
Pusbangja, LAPA, email: wiweka@yahoo.com
Program Ilmu Komputer FPMIPA UPI, email: wawans@upi.edu
2
Abstract
Image sensor the optic have the distribution model Gaussian, is while image sensor SAR have characteristic non-
Gaussian. Co-Occurrence matrix is modeling tekstur which used many. Basically image good sensor the optic and SAR
consist of the homogeneous area and tekstur. This research propose Model Multinomial Neural Network as
classification methodologies good to image sensor the optic and SAR. Pengklasifikasi measured by theX his
performance through accuration storey;level ( producer’s accuracy, user’s accuracy, overall accuracy), computing
storey;level, generalizing storey;level, and storey;level signifikansinya. Pursuant to experiment result, can be indicated
that by theX the mean mount the accuration classifiers model multinomial better compared to with model Gaussian for
same data. Pengklasifikasi model multinomial have ability of consistent recognition for image sensor the optic and
SAR, consistent also to every class categorize obyek the, that thing is shown by high generalizing storey;level. In
general pengklasifikasi developed have the accuration storey;level and good generalizing, but require the computing
storey;level a few longer of model Gaussian and need sampel the training a few bigger. Classifiers developed also
support solution of context internal issue multitemporal to detect change of region.
By using decision order joint, accuration storey;level detect change of region use the model multinomial, higher mean
of scheme detect change of the region use back propagation for same case.
1. PENDAHULUAN
Banyak metode klasifikasi citra berdasarkan tekstur
yang didahului dengan menggunakan dasar
pengukuran statistik pada Gray Level Co-occurrence
Matrik (GLCM) [6]. Berdasarkan beberapa studi
peneliti terdahulu, dapat dinyatakan bahwa teknik co-
occurrence matrik memberikan fitur yang baik untuk
klasifikasi citra terurama untuk citra sensor Synthetic
Aperture Radar (SAR).
Dalam penelitian ini
digunakan co-occurrence matrik sebagai masukan
pengklasifikasi citra dengan metode neural network.
Donald dkk. tahun 1990 berhasil dengan baik
mengembangkan Neural Network (NN) model
Gaussian untuk data citra sensor optik, namun untuk
data citra sensor SAR memberikan hasil yang kurang
memuaskan [27]. Berdasarkan hal di atas, penelitian
ini mengembangkan model multinomial pada Gray
Level Co-occurence Matrix (GLCM), dan selanjutnya
Selanjutnya sebuah citra dapat direpresentasikan
sebagai matrik dari probabilitas pij berdasarkan co-
occurrence u=(u1,1, u1,2, ..., um,m) yang dimodelkan
struktur neural network yang dikembangkan
disebut model multinomial. GLCM merupakan
suatu model yang sering digunakan dalam
pekerjaan analisis tekstur. Model ini
merupakan transformasi suatu citra tekstur
menjadi
citra dengan karakteristik yang
bersifat homogen.
Hal ini dilakukan
diantaranya agar mudah dalam pekerjaan
klasifikasi atau interpretasi citra. Matrik co-
occurrence berisi informasi tentang seberapa
sering atau frekuensi kemunculan suatu piksel
i dengan nilai gray level
gi berada
berdampingan atau bersamaan dengan piksel j
dengan nilai gray level gj secara horizontal
o
atau Barat-Timur (0 ), vertikal atau Utara-
o
Selatan (90 ), diagonal atau Timur Laut –
o
Barat Daya atau Barat Laut – Tenggara (45
o
atau 135 ), dan berada pada jarak d =1, 2,..,.
dengan fungsi kerapatan multinomial sebagai
berikut [21]:
p (u ) = n! ∏
i, j
u
∑
p ij ij
u ij !
∑u
p ij = 1 dan (1)
i, j
ij
=n
(2)
i, j
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 185
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Keterangan :
p (u ) : probabilitas occurrence kelas u
i, j : nomor gray level
n
: jumlah kemunculan piksel pada kelas u
u
p ij ij : probabilitas occurrence piksel dengan gray
level i berdampingan dengan gray level j dari kelas
u
ui
: frekuensi kemunculan piksel pada kelas u
dengan gray level i berdampingan dengan gray level
j
Banyaknya occurrence
untuk setiap
kelas
ditunjukkan dengan n1, n2, n3, ... nJ, maka
probabilitas occurrence dinyatakan:
Keterangan :
i,j
: nomor gray level
u
p ij : Probabilitas occurrence kelas pelatihan
u
v
p ij : Probabilitas occurrence kelas pelatihan
v
p ij : Probabilitas occurrence sumber
xij
: Probabilitas occurrence kelas uji
2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Arsitektur
dan Algoritme Model
Multinomial Neural Network
p1, p2, p3, ..., pJ : P (n1, n2, n3, ... nJ ; p1, p2, p3, ..., pJ)
J
P(n, n2, ... nJ ; p1, p2, ... pJ ) = PoNo = N!∏
,
,
1
j =1
pn
J
J
nJ !
Misal X adalah sebuah fitur, p(u) adalah probabilitas
prior
kelas u, dan p(u|x) adalah probabilitas
posterior kelas u dari fitur x, maka hubungan fitur x
dengan kelas u dapat dinyatakan sebagai berikut [21]:
C ( x , u ) = log
p( u | x )
p( u )
(5)
Algoritma yang dikembangkan terdiri atas
algoritma pelatihan, dan algoritma pengujian.
atau
p( u | x )
p( x | u )
= log
p( u )
p( x )
C ( x ,u ) = log
(6)
Jika pij adalah probabilitas occurrence dari citra
u
sumber, pij adalah probabilitas occurrence dari
kelas obyek u, dan xij menyatakan probabilitas
occurrence data uji maka :
p(x |u)
=
p(x)
∏
i, j
u
⎛ p ij
⎜
⎜ p
ij
⎝
⎞
⎟
⎟
⎠
Arsitektur neural network terdiri atas 4 unit,
yaitu unit masukan, unit pola, unit jumlah, dan
unit keputusan.
1. Unit masukan terhubung ke semua unit
pola.
2. Unit pola terhubung ke unit jumlah dari
kelas yang sama.
3. Unit jumlah terhubung ke unit kaputusan.
4. Unit keputusan memutuskan kelas (label)
dari masukan.
x ij
(7)
Algoritme Pelatihan :
Langkah-1: Rekuantisasi citra utuh ke dalam
sejumlah gray level (6).
Langkah-2: Hitung deskriptor co-occurrence
citra utuh (Pij).
Langkah-3: Untuk setiap kelas pelatihan,
lakukan langkah 4 -9
Langkah-4: Tentukan koordinat dan ukuran
kelas pelatihan.
Langkah-5: Hitung deskriptor co-occurrence
u
atau
log
p( x | u )
=
p( x )
∑x
ij
u
(log p ij − log p ij )
i,j
(8)
Aturan keputusan fitur X masuk ke dalam kelas u
jika :
∑x
i,j
ij
u
v
(log p ij − log p ij ) > ∑ x ij (log p ij − log p ij ) (9)
i,j
kelas pelatihan ( p ij )
Langkah-6: Buat unit masukan (Xij).
Langkah-7: Buat unit pola sebanyak sampel
pelatihan (m) setiap kelas (k).
Langkah-9: Lakukan pembagian co-occurrence
kelas pelatihan oleh co-occurrence citra dan
nyatakan sebagai bobot unit masukan dengan
unit pola (Vkjm).
Langkah-10: Buat unit jumlah sebanyak k
kelas sampel pelatihan dan hubungkan dengan
unit pola dengan bobot koneksi 1 (wmk=1) .
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 186
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Langkah-11: Buat unit keputusan dan hubungkan kemudian hitung aktivasinya dengan fungsi
dengan unit jumlah. aktivasi:
Algoritme Pengujian: Pk = f ( netk )
Langkah-1:
Untuk setiap piksel citra uji, lakukan
langkah-2 – langkah-4.
Langkah-2: Tentukan ukuran occurrence.
Langkah-3:
Hitung deskriptor co-occurrence
piksel uji ( x ij ) sebagai sinyal masukan.
Langkah-4:
Untuk setiap unit pola m pada setiap
kelas, jumlahkan hasil kali sinyal masukan dengan
bobot yang bersesuaian:
net
km
=
∑
x ij (log
u
p ij − log p ij ). (10)
i,j
kemudian hitung aktivasinya dengan fungsi aktivasi:
zkm = f ( netkm )
(11)
dan meneruskan sebagai sinyal masukan unit jumlah.
Langlah-5: Setiap unit jumlah k, jumlahkah hasil kali
sinyal masukan dengan bobotnya:
netk =
∑z
m =1
km
.wmk
(12)
yang digunakan adalah tingkat akurasi klasifikasi,
tingkat komputasi, tingkat generalisasi, dan
tingkat
signifikansi.
Tingkat
akurasi
menggunakan parameter yaitu User’s accurasy
(UA), Producer’s Accurracy(PA), dan Overall
Accuracy
(OA).
Tingkat
generalisasi
menggunakan selisih OA dengan PA dan
perbandingan terbalik dari norm tersebut. Tingkat
komputasi menggunakan cpu time dengan satuan
sekon,
sedangkan
tingkat
signifikansi
menggunakan
parameter
chi-square
non-
parametrik [7].
(13)
dan meneruskan sebagai sinyal masukan unit
keputusan.
Langkah-6:Unit
keputusan
melakukan
pemilihan nilai maksimum dari unit jumlah :
(14)
C ( x ) = arg max{ Pk ( x )}
C : kategori obyek dari piksel uji x kemudian
melakukan klasifikasi.
3. DATA DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini menggunakan paket citra optik
dan SAR untuk daerah uji antara lain citra
Muara Sekampung SPOT (bebas awan) dan
Airborne SAR serta Peta Rupa Bumi yang
diperoleh dari BAKOSURTANAL RI dan citra
Teluk Belatung
SPOT (berawan) dan
Airborne SAR serta peta rupa bumi yang
diperoleh dari BAKOSURTANAL RI.
Eksperimen
ini
juga
menggunakan
pengklasifikai pembanding yaitu model
Gaussian Neural Network. Ukuran kinerja
obyek air merupakan paling besar antara optik
dan SAR.
Tingkat akurasi model multinomial memiliki
penurunan paling rendah yaitu dari 97.54%
menjadi 92.07% atau turun sebesar 0.47%.
Tabel-2 dan Gambar-3 menunjukkan kinerja
model multinomial rata-rata untuk jenis citra
optik dan SAR.
Tabel-1 : Tingkat Akurasi Model Gaussian
Lahan Hutan
Rata-Rata
Buka Basah
Citra Sensor Optik 100.00 94.25 94.65 93.82 95.68
Citra Sensor SAR 91.84 89.38 92.79 94.85 92.21
Selisih
-8.16 -4.88 -1.86 +1.03 -3.47
Keterangan :
Selisih = Tingkat Akurasi (SAR – Optik)
-
:
turun
+
:
naik
Air Pertanian
Tingkat akurasi dengan model Gaussian turun dari
95.68% menjadi 92.21% atau turun sebesar
3.47%. Tabel-1 dan Gambar-2 menunjukkan
kinerja model Gaussian rata-rata untuk jenis citra
optik dan SAR. Untuk kelas obyek hutan basah,
fitur dari citra sensor SAR lebih baik dikenali
dengan model Gaussian dan kelas obyek air
memiliki perbedaan fitur paling besar. Model
Gaussian juga merupakan pengklasifikasi dengan
pengenalan paling tinggi untuk kelas obyek air
yaitu 100% pada optik, namun perbedaan fitur
Untuk kelas obyek pertanian dan hutan basah,
fitur dari sensor SAR lebih baik dikenali oleh
model multinomial. Untuk kedua obyek tersebut
juga ditunjukkan hal yang sama oleh metode
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 187
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
maximum likelihood dan model Gaussian. Hal ini
dapat ditafsirkan bahwa karakteristik ketiga
pengklasifikasi memiliki keidentikan yang tinggi.
Namun secara keseluruhan model multinomial
relatif konsisten untuk semua kelas obyek dengan
akurasi yang lebih besar dan penurunan tingkat
akurasi paling kecil. Pemodelan multinomial dari
co-occurence memiliki kemampuan untuk
mengidentikkan fitur dari citra sensor optik dan
SAR.
Untuk citra sensor SAR, metode neural network
menunjukkan konsistensi yang baik dan paling
tinggi ditunjukkan oleh model multinomial baik
untuk citra sensor optik maupun SAR maka
bersifat
sensor
independent
classifier.
Kemampuan klasifikasi model multinomial rata-
rata sekitar 13.35% lebih besar sekitar 1.86%
dari model Gaussian pada citra sensor optik.
Sedangkan untuk citran sensor SAR, model
multinomial rata-rata lebih besar sekitar 4.85%
dari
model
Gaussian.
Untuk
setiap
pengklasifikasi, obyek air dan hutan basah cukup
mudah
untuk dikenali sedangkan obyek
pertanian dan lahan buka relatif sulit.
Pengklasifikasi model multinomial menunjukkan
konsistensi yang baik dengan memperhatikan
jumlah kelas salah yang relatif sedikit, sedangkan
ketiga
pengklasifikasi
yang
lainnya
menunjukkan, bahwa jumlah kelas kesalahan
umumnya tersebar hampir terjadi pada semua
kelas yang ada.
3.1 Tingkat Generalisasi Pengklasifikasi
Tingkat generalisasi pengklasifikasi secara umum
dapat dilihat melalui perhitungan norm selisih
user’s accuracy dan producer’s accuracy.
Generalisasi merupakan kebalikan norm selisih.
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 188
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Perhitungan
Deskriptor
Co-occurrence
Unit Masukan
X11
X12
X13 ... X1j
X21
X22
X23 ... X2j
Z12
Z13 ... Z1m
W1 W2 W3 W
P1
Xi1
V21 V22 V23 22j
V11 V12 V13 V1j
Z11
...
Z21
Z23 ... Z2
Z22
...
Xi3 ... Xij
Vk1 Vk2 Vk3 Vkj
Zk1
W1 W2 W3 W
P2
Xi2
Zk2
Zk3
Unit
Pola
... Zkm
W1 W2 W3 W
...
Pk
Unit Jumlah
Ck
Xij : elemen ke-ij dari co-occurrence masukan X
Vkjm : bobot neuron masukan ke j untuk neuron pola m dari
kelas k
Wmk : bobot neuron pola ke m untuk neuron jumlah kelas k
Gambar 1. Arsitektur PNN model Multinomial
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 189
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Tabel-2: Tingkat Akurasi PNN Multinomial
Citra Sensor Optik
Citra Sensor SAR
Selisih
Keterangan :
Selisih = Tingkat Akurasi (SAR – Optik)
+ : naik
- : turun
Air
99.48
97.70
-1.78
Pertanian
96.43
96.59
+0.16
Lahan Buka Hutan Basah
97.98
96.27
96.35
97.62
-1.63
+1.35
Rata-Rata
97.54
97.07
-0.47
100
90
80
70
60
50
Air
Pertanian
Lahan Buka
Hutan Basah
Kelas Obyek
Citra Sensor Optik
Citra Sensor SAR
Gambar2: Tingkat Akurasi Model Gaussian
100
90
80
70
60
50
Air
Pertanian
Lahan Buka
Hutan Basah
Kelas Obyek
Citra Sensor Optik
Citra Sensor SAR
Gambar 3. Tingkat Akurasi Model Multinomial
Semakin kecil norm selisih, maka suatu
pengklasifikasi semakin baik dan sebaliknya.
Pengklasifikasi yang baik adalah yang memiliki
generalisasi yang baik (besar) dan berarti
pengklasifikasi akan berlaku sama untuk data sejenis
lainnya.
pertanian dan lahan buka, norm BPNN besar
untuk pertanian dan hutan basah, norm Model
Gaussian besar untuk air dan hutan basah, dan
norm PNN multinomial besar untuk pertanian
dan lahan buka. PNN multinomial merupakan
pengklasifikasi dengan norm rata-rata paling
rendah terutama untuk air.
Untuk citra sensor
optik, maximum likelihood
menunjukkan norm yang besar untuk kelas obyek
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 190
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Tabel-3 : Selisih User’s & Producer’s Accuracy pada
Citra Sensor Optik
Pertani Lahan Hutan Rata-
an
Buka Basah Rata
Air
Model
Gaussian
Model
Multinomial
6.03 0.48 0.72 6.18 3.35
0.04 1.67 2.57 0.92 1.30
Tabel-5 : Norm User’s & Producer’s Accuracy Rata-
Rata pada tiap sensor
Tabel-4 : Norm User’s & Producer’s Accuracy pada citra
Sensor SAR
Pertani Lahan Hutan Rata-
an
Buka Basah Rata
Air
6.12 9.35 1.45 0.71 1.15 1.44 0.31 0.58
Model Gaussian
Model
Multinomial
4.41
Citra Rata-
Sensor Rata
SAR 3.88
4.41
1.30 0.87 1.09
0.87
Model
Gaussian
Model
Multinomial
Citra
Sensor
Optik
3.35
7
6
5
4
3
2
1
-
Air
Pertanian
Lahan Buka
Hutan Basah
Kelas Obyek
Maximum Likelihood
Back Propagation
PNN Gaussian
PNN Multinomial
Gambar-4 : Selisih User’s & Producer’s Accuracy pada Citra Sensor Optik
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 191
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
10
8
6
4
2
-
Air
Pertanian
Lahan Buka
Hutan Basah
Kelas Obyek
Maximum Likelihood
Back Propagation
PNN Gaussian
PNN Multinomial
Gambar-5 : Selisih User’s & Producer’s Accuracy pada Citra Sensor SAR
5
4
3
2
1
-
M axim um
Likelihood
C itra S ensor O ptik
Back
Propagation
PN N G aussian
PN N
M ultinom ial
C itra S ensor S A R
Gambar-6 : Selisih User’s & Producer’s Accuracy Rata-Rata pada tiap sensor
Model multinomial merupakan pengklasifikai dengan
norm selisih rata-rata paling rendah terutama untuk
lahan buka. Norm selisih model multinomial lebih
rendah untuk citra sensor SAR dibanding optik,
sedang model Gaussian sebaliknya. Untuk melihat
tingkat
generalisasi,
ditentukan
dengan
membandingkan kebalikan dari norm selisih.
Tabel-6 : Generalisasi Rata-Rata Pengklasifikasi pada
tiap sensor
Citra Sensor
Optik
Model
Gaussian
Model
Multinomial
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
Citra Rata-
Sensor Rata
SAR
0.30 0.23 0.26
0.77 1.15 0.96
TIS - 192
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
1.4
1.2
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
-
Maximum
Likelihood
Citra Sensor Optik
Back
Propagation
PNN Gaussian PNN Multinomial
Citra Sensor SAR
Gambar-7 : Tingkat Generalisasi Rata-Rata Pengklasifikasi pada tiap sensor
Tabel-7 : Waktu Komputasi Pengklasifikasi (cpu-time)
PNN Gauss
Pelatihan
Pengujian
Jumlah
PNN Multinom
668.40 1,197.29
1,686.37 4,697.83
2,354.77 5,895.12
3.2 Tingkat Komputasi
Proses pengujian pada model multinomial relatif
lebh lama dengan kompleksitas sebagai berikut :
a. Kompleksitas Model Gaussian ; O(f(n)) ≈
O(n).
b. Kompleksitas PNN mutinomial ; O(f(n)) ≈
O(n2).
Kriterian : O(n) < O(n2)
Maka kompleksitas Model Gaussian < PNN
multinomial.
8 dan Gambar-8 menunjukkan tingkat signifikansi
model multinomial dengan derajat kebebasan 3
yaitu banyak kelas kurang 1 (k-1).
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sistem
yang dikembangkan signifikan untuk citra sensor
optik pada α = 0.05, α = 0.025, dan α = 0.01,
sedangkan untuk SAR signifikan pada α = 0.05
dan α = 0.025.
Penurunan tingkat akurasi paling besar dengan
PNN multinomial pada citra sensor SAR terjadi
pada kelas air dan paling rendah pada lahan buka.
PNN multinomial sangat dipengaruhi jumlah
sampel pelatihan yang ditunjukkan oleh selisih
tingkat akurasi yang besar.
Tabel-8 : Chi-Square pada α:0.05, 0.025, 0.01,
0.0025 dan Chi-Square hitung pada db 3
3.3 Tingkat Signifikansi
db
Tingkat
signifikansi
ditentukan
dengan
menggunakan perhitungan chi-square (χ2). Jika
χ2hitung > χ2tabel
maka hasil yang diperoleh
signifikan untuk derajat kebebasan tertentu. Tabel
3
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
χ20.05 χ20.025 χ20.01 χ20.005
7.82
χ2hitung χ2hitung
(Optik)
(SAR)
9.35 11.35 12.84 12.46 10.96
TIS - 193
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Waktu (cpu-time )
1,400.00
1,200.00
1,000.00
800.00
600.00
400.00
200.00
-
Statistik
PNN Gauss
PNN Multinom
Pengklasifikasi
Gambar-8 : Tingkat Komputasi Pelatihan 3 Pengklasifikasi
Tabel-9 : Tingkat Akurasi Model Gaussian untuk Citra Sensor Optik
Air
100.00
98.72
-1.28
Pertanian
94.25
90.73
-3.53
Lahan Buka
94.65
92.45
-2.20
Sampel 40 : 60
Sampel 20 :80
Selisih
Keterangan :
Selisih = Tingkat Akurasi Sampel (20:80 - 40:60)
-
: turun
+
: naik
Hutan Basah
93.82
92.57
-1.25
Rata-Rata
95.68
93.62
-2.06
14
12
10
8
6
4
2
0
0.05
0.025
0.01
0.005
Optik
SAR
Tingkat Signifikansi
Gambar-9 : Chi-Square pada db 3
Tabel-10 : Tingkat Akurasi Pengklasifikasi Rata-Rata pada Citra Sensor Optik
Model Gaussian
Model Multinomial
Sampel 40 : 60
95.68
97.54
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
Sampel 20 :80
93.62
94.09
TIS - 194
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
105
85
65
45
25
Maximum
Likelihood
Back
Propagation
PNN Gaussian
PNN
Multinomial
Pengklasifikasi
Sampel 40 : 60
Sampel 20 :80
Gambar-10 : Tingkat Akurasi Pengklasifikasi Rata-Rata pada Citra Sensor Optik
Tabel-11 : Tingkat Akurasi Pengklasifikasi Rata-Rata pada Citra Sensor SAR
Model Gaussian
Model Multinomial
Sampel 40 : 60
92.21
97.07
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
Sampel 20 :80
90.26
94.92
TIS - 195
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
105
85
65
45
25
Maximum
Likelihood
Back
Propagation
PNN Gaussian
PNN
Multinomial
Pengklasifikasi
Sampel 40 : 60
Sampel 20 :80
Gambar 11 : Tingkat Akurasi Pengklasifikasi Rata-Rata pada Citra Sensor SAR
4. KESIMPULAN
Pengklasifikasi model multinomial cocok untuk
diterapkan pada citra optik dan Synthetic Aperture
Radar (SAR). Hasil ini menguatkan penelitian
Murni (1997), bahwa citra optik dan SAR
mengandung bagian homogen dan tekstur.
Pengklasifikasi model multinomial merupakan
metode pengklasifikasi yang bersifat sensor
independent classifier yang menghasilkan akurasi
lebih baik dari pengklasifikasi Model Gaussian
pada kasus yang serupa. Model multinomial
memiliki tingkat generalisasi relatif tinggi dan
signifikan pada
α 0.05 dan 0.025, namun
membutuhkan sampel pelatihan yang sedikit
besar. Pengklasifikasi model multinomial dapat
meningkatkan akurasi klasifikasi citra sensor
optik sampai sekitar 13.35% dan citra sensor SAR
sampai 15.62% Metodologi pengklasifikasi yang
diusulkan merupakan mekanisme optimal untuk
citra penginderaan jarak jauh dan bersifat sensor
independent classifier pada lingkungan optik dan
SAR. Pengklasifikasi yang diusulkan sebagai
metode alternatif dari pengklasifikasi Model
Gaussian yang memiliki masalah antara lain
waktu, kebergantungan sensor, dan tingkat
akurasi.
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Fausett, L., Fundamentals
Networks, Prentice Hall, 1994.
of
[2]. Frean, M., The Upstar Algorithm : A
Method for Constructing and Training
Feedforward Neural Networks, Neural Computa.,
vol.2, 1990, 198 – 209.
[3]. Freeman, J.A. and D.M. Skapura, Neural
Networks : algorithm, application and
programming techniques, Addison Wesley, 1991.
[4]. Haykin
Simon, Neural Network: A
Comprehensive Foundation, Prentice-Hall, New
Jersey, 1994.
[5]. Rich, E. and K. Knight, Artificial
Intelligence, 2nd ed., McGraw-Hill, Inc., 1991.
[6]. Russel and Norvig, Artificial Intelligence : A
Modern Approach, (Prentice Hall, 1995).
[7]. Setiawan W., A. Murni dan
B.
Kusumoputro, Pendekatan Neural Network
berbasis Algoritma EM untuk masalah Klasifikasi
Campuran
Neural
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 196
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan Efektif Penginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
[8]. Setiawan W., A. Murni, and
B.
Kusumoputro,
Proceeding
The 2002
International Conference On Opto-Electronic and
Laser Applications, Jakarta, 2002.
[9]. Setiawan W., A. Murni, and
B.
Kusumoputro, Probabilistic Neural Network
Based On Multinomial Model For Remote
Sensing Image Classification, Proceeding
International
Conference
On
Computer,
Communication and Control Technologies
CCCT’03, The 9th International Conference on
Information Systems Analysis and Synthesis
ISAS’03, Florida, USA, 2003.
[10]. Setiawan W., A. Murni, dan B. Fusi Data
Sensor Optik dan Synthestic Apreture Radar
(SAR) : Pendekatan Statistik dan Jaringan
Syaraf Tiruan,
Prosiding Pertemuan Ilmiah
Tahunan XII Masyarakat Penginderaaa Jauh
Indonesia, Bandung, 2003.
[11]. Setiawan W., and A. Murni, Evaluation of
Several Classification Methods for Land Cover
Development Constrain Parameters, Proceeding
World Multiconference on Systemic, Cybernetics
and Information, Florida, USA, 2000.
[12]. Setiawan W., and B. Kusumoputro, Shape
and color analysis of Malignant Skin Cansers
Using Artificial Neural Network Approach,
Proceeding Proc. 5th Asian Symp. On
Visualization, Jakarta, 1998.
[13]. Setiawan W., dan
B. Kusumoputro,
Pengembangan Algoritma Propagasi Balik Untuk
Pengenalan Image Wajah Berbasis Eigenfaces,
Jurnal ICIS, Jakarta, 2001.
[14]. Setiawan W., dan
B. Kusumoputro,
Propagasi Balik Termodifikasi Untuk Pengenalan
Image Wajah Menggunakan Jaringan Neural
Buatan Berbasis Eigenfaces, Prosiding SNKK I,
Jakarta, 1999.
[15]. Winston, P.H., Artificial Intelligence,3rd ed., MA
: Addison – Wesley Pub., 1992.
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 197