”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa” PENGEMBANGAN MODEL WEB-BASED COLLABORATIVE VISUALIZATION ENVIRONMENT (WBCVE) – SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG) UNTUK PENGENDALIAN SEDIMENTASI WADUK BILI BILI SULAWESI SELATAN
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
Ahmad Munir2, M. Nurdin1, dan Paharuddin1
1
Pemerintah Kota Bontang
Sekolah Tinggi Teknologi Bontang
Jl. Awang Long No 1. Bontang
2
Universitas Hasanuddin Makassar
Jl. P. Kemerdekaan Km 11 Tamalanrea Makassar
email: amunir@unhas.ac.id
Abstrak
Rapid exploitation of natural resources has increased pollution rate that has affects on ecosystems. In Indonesia, the
damage of water quality becomes important issue. Due to damage of water quality, the government has to spend a large
amount of money in order conserve water quality. Since the regional autonomy is being involved, management of
watershed becomes important issue. Because of many watersheds are occupied by more than one regional authority,
therefore it is very hard to get an ideal integrated management for optimizing water resources.
The purpose of this paper is to describe the procedure in developing Open Management Interface in order to optimize
water management in term of minimizing erosion and sedimentation rate. The system was developed using Java, PHP
and HTML and some supporter program such as MySQL, SVG Vew and ArcView were used to develop spatial
database. The input data for the model consists of five spatial data: erosivity factor, erodibility, length-slope factor, land
cover factor and conservation factor. All the spatial data were being converted into html format. The system is being
uploaded in the http://www.unhas.ac.id/sig.
1. PENDAHULUAN
Peningkatan kebutuhan bahan makanan penduduk
(khususnya seralia) dunia akan memicu kerusakan
lahan. Leyva dan Roa (2001) melaporkan bahwa
kerusakan lahan saat ini telah terjadi 30 hingga
50% dari total luas permukaan lahan dunia Leyva
dan Roa (2001). Perkiraan kuantitas erosi yang
berpotensi mengakibatkan sedimentasi pada
badan air, di Amerika berkisar antara 10-20
ton/ha/tahun, di Asia, Afrika dan Amerika Selatan
berkisar 20-40 ton/ha/tahun.
Desakan perubahan tata guna lahan harus
dikendalikan agar supaya resiko erosi yang
ditimbulkan dapat diminimalkan (Ghadiri et al,
2001). Sedimentasi menyebabkan terganggunya
keseimbangan sustainabilitas fungsi badan air,
pencemaran pospor, rusaknya produktivitas
perairan, pengurangan fungsi bangunan air dan
banjir di daerah hilir. Kerugian-kerugian ini
berdampak negatif terhadap pembangunan
nasional. Aplikasi SIG untuk peramalan erosi
akan mengalami kesulitan dalam realisasi jika
DAS mencakup beberapa wilayah administratif
kabupaten (Ahmad Munir dan Abdullah, 2003)
oleh karena itu perlu dibuat suatu sistem yang
memungkinkan pengelolaan secara korporasi.
Tujuan khusus penelitian adalah mendesain suatu
perangkat lunak yang memungkinkan pengelolaan
secara kolaborasi daerah tangkapan hujan untuk
meminimalkan laju sedimentasi pada waduk.
Program dibuat cukup flexible, interaktif dan
mudah digunakan (user friendly). Model Web
Collaboraive
Visualization
Environment
(WbCVE) - Sistem Informasi Geografis (SIG)
komputer dilengkapi dengan Database beberapa
jenis tanah untuk daerah tropis, khususnya
Indonesia. Penerapannya untuk meminimalkan
sedimentasi waduk, terutama pada waduk yang
mempunyai daerah tangkapan hujan yang dikuasai
oleh lebih dari satu otonomi kabupaten.
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 154
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
2. PENGEMBANGAN MODEL GEOGRAFIS
Pada Model Web Collaboraive Visualization
Environment
(WbCVE)-Sistem
Informasi
Geografis (SIG), model geospasial telah
dikembangkan untuk mendukung model tersebut.
Model geospasial dikembangkan berdasarkan
model yang mengikuti persamaan 1 sampai
dengan 7.
Sebagaimana yang telah dideskripsikan oleh
Ahmad Munir dan Abdullah (2003) dan Nurdin
Abdullah et al. (2003), Sedimentasi adalah proses
lanjutan dari pengikisan tanah oleh air (erosi).
Laju sedimentasi dihitung dengan persamaan
berikut (Ahmad Munir at al., 2000):
SY = Dr ⋅ E
dimana Rb = bifurcation ratio, S = slope (%),
(Fl+Wl) persentase lahan basah dan sawah. Laju
erosi dapat dimodelkan mengikuti Universal Soil
Loss Equation (ULSE). Persamaan umum erosi
USLE (Rapp et al, 2001) adalah sebagai berikut:
E = R*K*LS*C*P
(3)
dimana E = total erosi (t/ha/tahun), R = erosivitas
hujan (KJ/ha), K = eridibilitas tanah, LS = faktor
panjang-slop-kelandaian, C = manajemen
pertanaman, P = faktor konservasi. Penentuan
masing-masing variabel di atas adalah sebagai
berikut:
Erosivitas hujan, R-faktor: Faktor R dihitung
dengan menggunakan persamaan yang dijelaskan
pada persamaan 4 :
(1)
n
dimana SY adalah jumlah sedimen yang
dihasilkan, Dr delivery rasio, E laju erosi yang
dihasilkan. Dr dapat dihitung dengan persamaan:
Dr = 203 ⋅ Rb
3, 068
S 0.4144 ( Fl + Wl ) −1.257 (2)
Erodibilitas tanah K-factor: Erodibilitas tanah
dapat ditentukan dengan menggunakan metoda
yang dikembangkan oleh Wischmeier (Levy at al,
2001).
Faktor
panjang-slope-kecuraman
LS-factor:
Faktor ini dikembangkan dengan menggunakan
metoda yang dijelaskan pad persamaan 6 (Mamo
dan Bubenzer, 2001):
LS =
(
L
0.065 + 0.0453S + 0.0065S 2
22.13
)
(6)
dimana L = panjang slop (m), and S = kemiringan
slop (m/m). L ditentukan dengan persamaan:
L=
0.5 A
LCH
dimana LCH panjang saluran dalam DAS (m),
dan A luas basin (m2). Nilai L dan S dapat
diturunkan dari model elevasi digital (Digital
R[i ] = ∑ EI 30,m (4)
1 (5)
0.526
EI 30,m = 6.119 Rm.211 N −0.474 R MAX
i =1
dimana EI30, m faktor erosivitas bulanan rata-rata
(KJ/ha), Rm = curah hujan bulanan (cm) N jumlah
hari hujan dalam satu bulan, RMAX =curah hujan
maximum
dalam
satu
bulan
(cm).
Elevation Model, DEM), sebagaimana prosedur
yang telah dipakai oleh El-Awar, (2001).
Faktor C: Nilai C bervariasi dari 0 hingga 1.
Pengujian faktor C
dilakukan pada tahun
pertama, faktor C yang ditentukan adalah pada
pertanaman semusim, tanpa pengolahan, dan
tanaman sayuran dan hortikultura.
Faktor konservasi P : Faktor P dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus yang dijelaskan pada
persamaan 7:
P = 1.0 x SR + 0.30 SRWW + PT x T
(7)
dimana P = Faktor konservasi, SR = porsi DAS
dengan pertanaman melintang kontur, SRWW =
porsi DAS dengan pertanaman rumput dan
saluran berumput, PT = porsi DAS dengan
terrasering (termasuk luas areal), dan T porsi DAS
yang diteras.
Model geografis dapat pula dikembangkan dengan
sistem pemetaan otomatis sebagaimana yang
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 155
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
dideskripsikan oleh Ahmad Munir and Abdullah
(2003).
Pengembangan WbCVE memerlukan interface
yang memungkinkan pekerjaan secara bersama
dengan berbagai alternatif. Penggunaan model
What-If memungkinkan untuk maksud tersebut.
Pengembangan model What-If untuk WbCVE,
hanya dapat dilakukan pada model yang berbasis
pada sistem komputer. Sistem Informasi Geografi
merupakan suatu instrumen yang dapat
berdayaguna dalam pengembangan model What-
If. Penyusunan logika what-if dapat dilakukan
setelah model spasial dapat bekerja dalam
lingkungan internet. Skenario What-If yang
dikembangkan pada fitur program antar muka
(interface) WbCVE mengikuti mekanisme logika
yang dikembangkan menurut model geografis.
Program yang dihasilkan bersifat interactive.
Program skenario What-If diprogram dengan
menggunakan bahasa pemrograman PHP4-
HTML-Teknologi Java. Interface yang dapat
secara langsung berinteraksi dengan basis data
spasial tataguna lahan dan konservasi, dimana
keduanya dikembangkan dalam format geografis.
Setelah melakukan perubahan basis data, proses
simulasi dapat dilakukan dengan menggunakan
data yang telah dibuat. Penyusunan model
simulasi erosi untuk menghitung laju sedimentasi
mengacu pada model geografis yang telah
dikembangkan oleh Ahmad Munir, Suripin dan
Marutani, (1998). Ahmad Munir at al (2000).
Peny iapan data
Intrerpretasi
Digitasi
(memakai Arc -In fo)
Pembangunan topologi
Pembuatan basis data
(memkai database engine)
Pemerograman
A utomatic Mapping
Gambar 1. Tahapan pembuatan peta automatis
(automatic mapping) yang digunakan dalam model
geografis dari model yang dikembangkan (Ahmad Munir
dan Abdullah, 2003)
3. PENGEMBANGAN MODEL KOMPUTER
Program komputer dikembangkan dengan
menggunakan PHP4 dalam lingkungan Teknologi
Java. JNI (Java Native Interface) merupakan
interface yang dapat menjembatani basis data
spasial menuju server sehingga memungkinkan
melakukan simulasi geografis untuk menghitung
sedimentasi,
melakukan
visualisasi
dan
pengelolaan data secara kolaborasi.
Model komputer yang dikembangkan mengacu
pada model sedimentasi selain berbasis SIG juga
berbasis Jaringan internet. PHP4 yang dipakai
dalam pemrograman dapat bekerja dalam
lingkungan Teknologi Java. Bahasa pemrograman
ini merupakan bahasa pemrograman yang sesuai
dengan perkembangan jaringan internet dan
multimedia saat ini.
Pada saat menjalankan WbCVE, WWW Client
yang melakukan posting data SIG ke WWW
Server mendapatkan respon hasil setelah diproses
oleh WWW Server WWW server s dapat
melakukan publikasi data spasial hasil simulasi
erosi yang dilakukan oleh WWW Client.
Penggunaan Bahasa PHP4 dapat disuppor oleh
program lain seperti MySQL, SVG Vew and
ArcView. Program simulasi yang dilakukan
mengikuti tahapan perhitungan pada persamaan 1
sampai dengan persamaan 7 dan model geografis
yang dibuat oleh automatic mapping, seperti yang
telah dijelaskan di atas. Arsitektur basis data pada
WbCVE adalah mengikuti arsitektur basis data
menurut Blümel et al, (2002):
4.
HASIL
PENGEMBANGAN
APLIKASI MODEL WbCVE
DAN
Pengembangan interface WbCVE telah dibuat
suatu interface yang memungkinkan pengelolaan
DAS atau SWS secara kolaborasi untuk
menyusun berbagai alternatif land use.
Penggunaan model What-If memungkinkan untuk
maksud tersebut. Pengembangan model What-If
untuk WbCVE, hanya dapat dilakukan pada model
yang berbasis pada sistem komputer. Sistem
Informasi Geografi merupakan suatu instrumen
yang dapat berdayaguna dalam pengembangan
model What-If. Penyusunan logika what-if
dilakukan setelah model spasial dapat bekerja
dalam lingkungan internet.
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 156
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Program yang dihasilkan bersifat interactive.
Program skenario What-If diprogram dengan
menggunakan bahasa pemerograman PHP4-
HTML-Teknologi Java yang saat ini dapat
dijalankan dengan Mapserver tampilan dapat
dilihat pada http://www.unhas.ac.id/~sig. Data
spasial dapat ditampilkan dengan terlebih dahulu
menginstal Scalable Vector Graphics (SVG)-View
pada level client. Interface telah dapat secara
langsung berinteraksi dengan basis data spasial
tataguna lahan dan konservasi, dimana keduanya
dikembangkan dalam format geografis. Setelah
melakukan perubahan basis data, proses simulasi
dapat dilakukan dengan menggunakan data yang
telah dibuat. Capture dari program yang telah
dikembangkan (dapat dilihat pada Gambar 2).
4.1. Ujicoba Aplikasi
Model telah diaplikasikan pada Daerah Aliran
Sungai Jeneberang yang merupakan daerah
tangkapan hujan Bendungan Bili-Bili, Sulawesi
Selatan. Bendungan ini merupakan bendungan
serba guna untuk sumber air irigasi, pariwisata,
pembangkit listrik dan sumber baku untuk
pengolahan air bersih Kota Makassar. Model telah
diupload pada jaringan internet server Universitas
Hasanuddin. Pengguna model adalah instansi
pemerintah: Sub Dinas Pekerjaan Umum, Balai
Rehabilitasi dan Konservasi Lahan dari
Kabupaten Gowa, Takalar, Maros dan Makassar.
Pengguna model dapat menjalankan program
komputer melalui jaringan internet. Hasil simulasi
geografis skenario penggunaan lahan dan erosi
dapat dimanfaatkan oleh semua instansi pada
setiap kabupaten yang tercakup dalam DAS
secara bersamaan. Uji coba dilakukan dengan
memanfaatkan data geospasial dari DAS
Jeneberang yang merupakan daeran tangkapan
hujan Waduk Bili-Bili. Kabupaten Gowa, 72 km
dari Kota Makassar. Tampilan menu berikut
digunakan untuk menemukan land use yang
sesuai untuk menekan laju erosi.
Gambar 2. Capture Tampilan Simulasi Erosi pada model WbCVE
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 157
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Gambar 3. Tampilan menu pengubahan penggunaan tanah
Model telah dicoba untuk diaplikasikan pada Model WEB-Based Collaborative Visualization
perencanaan panataan lahan pada DAS Bili-Bili Environment (WbCVE) berbasis SIG mempunyai
untuk meminimalkan laju erosi. Berdasarkan hasil prospek untuk diaplikasikan pada DAS yang
simulasi terduduki oleh dua atau lebih otoritas kabupaten.
menggunakan Namun beberapa hal yang menjadi kendala dalam
model penerapannya adalah: terbatasnya band width
WbCVE, koneksi internet dapat menghambat akses basis
rekomendasi untuk penataan lahan pada DAS data atribut dan spasial melalui jaringan internet
Jeneberang, dengan kontribusi sedimen yang pada saat menjalankan simulasi di jaringan
minimal dapat dilihat pada gambar 4. internet.
5. KESIMPULAN UCAPAN TERIMA KASIH
Pengembangan Model WEB-Based Collaborative Disampaikan kepada Kemeterian Riset dan
Visualization Environment (WbCVE) – Sistem Teknologi atas dukungan dana dalam pelaksanaan
Informasi Geografi (SIG) untuk pengendalian penelitian ini melalui riset pengembangan
sedimentasi Waduk Bili Bili Sulawesi Selatan kapasitas Tahun 2004.
telah dapat dikembangkan dan diaplikasikan pada
DAS waduk tersebut.
4.2. Aplikasi Untuk Perencanaan Tata guna
Lahan
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 158
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Gambar 4. Tataguna lahan yang direkomendasikan (memanfaatkan luaran WEB-Based Collaborative Visualization
Environment (WbCVE) –Sistem Informasi Geografi (SIG) Untuk Pengendalian Sedimentasi Waduk Bili Bili Sulawesi Selatan
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Munir and Muh. Nurdin Abdullah, 2003.
Development of an interactive embeddable
Geographic Information System (E-GIS) program
for soil erosion prediction. XXIII. General
Assembly of the International Union of Geodesy
and Geophysics. IUGG-Sapporo Japan, June 30-
July 11 2003, Sapporo Japan.
Abdullah, M.N, Ahmad Munir and Lyas, S.A,
2003. Land use scenario based GIS-Model for
reducing sedimentation rate at Bili-Bili Dam
Indonesia. XXIII. General Assembly of the
International Union of Geodesy and Geophysics.
IUGG-Sapporo Japan, June 30-July 11 2003,
Sapporo Japan.
Ahmad Munir, 1998. Application of Geographic
Information System for assessing of soil erosion.
Majalah Penelitian-Lembaga Penelitian Unhas vol
XIV no. 33 Juni 1998
Ahmad Munir, Muh. Nudin Abdullah and
Marutani T, 2000. Application of Geographic
Information System (GIS) for assessment of land
use risk on sediment yield. Journal of Agriculture,
Kyushu Univ. Japan ed no. 44 (3-4) 2000: 463-
471
Ahmad Munir and Suripin, 1998. Study of land
use risk on soil erosion at Wonogiri Catchment
Area-Indonesia from 1981-1994.
Wiener
Mitteilungen. Wasser, Abwasser und Gewaesser.
Univ. fuer Bodenkutur Wien. Band 151 1998.
pp.231 – 242
Ahmad Munir and Paharuddin, 2003. Web-Gis
For Publishing Spatial Soil Erosion Model. A
paper
was
presented
The
3rd
International/Regional Seminar On "The Global
Information Network And The Utilization Of
Geographical Information System (Gis) For
Promoting Distance Learning/Education". 25-26
February,2003. Malang. Indonesia.
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 159
Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV
”Pemanfaatan EfektifPenginderaan Jauh Untuk Peningkatan Kesejahteraan Bangsa”
Biggs, B, 1995. World Wide Web Access to
ARC/INFO Databases. User GIS Conference
Alabama 23rd October 1995, Creating a New
Word. Environmental Systems Researc Institut.
Inc. USA.
Blümel, B., J. Gotthardt, C. Metzler, B.Schulz, J.
Schemm, M. Viehl,. 2002. Visualization of the
results of groundwater models in Internet and
Intranet: a Java-framework based on RMI, JNI,
JDBC and Swing. Hydroinformatics 2002:
Proceedings of the Fifth International Conference
on Hydroinformatics, Cardiff, UK. IWA
Publishing and the authors. Vol 1. 2002 pp 1050-
1056. Cardif, UK.
Transaction. American Society of Agricultural
Engineer (ASAE). Vol. 44(5): 1175–1181
Shukla, 1997. M.K, Modelling in Erosion. Wiener
Mitteilungen. Wasser, Abwasser und Gewaesser.
Univ. fuer Bodenkutur Wien. Band 151. Vienna
Austria.
Eastman, J.R, 1992. IDRISI, vers. 4. Calrk Univ.
Grad. School of Massachusetts USA.
El-Awar, F.A, H. W. Hudeib, R. A. Zurayk,
2001. Using GIS and Hydrologic Modeling for
Erosion Hazard Assessment in Lebanese.
Mountainous Areas. in Soil Erosion Research for
the 21 st Century, Proc. Int. Symp. (3-5 January
2001, Honolulu, HI, USA). Eds. J.C. Ascough II
and D.C. Flanagan. St. Joseph, MI:
ASAE.701P0007. Pp. 295-297
Ghadiri, H, C. W. Rose, W. L. Hogarth, 2001.
The Influence Of Grass And Porous Barrier Strips
On Runoff Hydrology And Sediment Transport.
ASAE Transaction.
American Society of
Agricultural Engineer (ASAE). Vol. 44(2): 259–
268
Leyva and M.C. -Roa G, 2001. Approaches to the
Economic Analysis of Erosion and Soil
Conservation: A Review. ASAE Journal. Soil
Erosion Research for the 21 st Century, Proc. Eds.
J.C. Ascough II and D.C. Flanagan. St. Joseph,
MI: ASAE.701P0007. Pp. 202-205.
Levy, G.J,
I. Shainberg, J. Letey, 2001.
1Temporal Changes in Soil Erodibility. A
Review. ASAE Journal. Soil Erosion Research for
the 21 st Century, Proc. Eds. J.C. Ascough II and
D.C. Flanagan. St. Joseph, MI: ASAE.701P0007.
Pp. 5-8
Mamo, M and G. D. Bubenzer. Detachment Rate,
Soil Erodibility, And Soil Strength As Influenced
By Living Plant Roots Part Ii: Field Study. ASAE
Gedung Rektorat lt. 3 Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 14 – 15 September 2005
TIS - 160