Pengembangan program FFS
Bagian paling penting dari program FFS adalah pelatingan yang diberikan untuk menerapkan prinsip – prinsip PHT dengan tepat pada setiap tingkat agen petani, petani mampu mengajarkan pada petani lain tentang PHT yang baru (modern). Selama 22 tahun pertama, para pengamat hama dikumpulkan di Yogja untuk menerina pelatihan secara intensif. Fasilitas yang diberiakan adalah pengamatan hama dan penyakit di labporatorium, sawah seluas 2 ha untuk praktik lapang. Pertama, praktikan menjalani 4 bulan pelatihan meliputi, pengolahan tanah, pembibitan, pemindahan bibit, pengaturan tanaman, pengamatan gejala dan akibat hama, interaksi musuh alami. Dipelajari juga tentang insektisida dan musuh alami, wereng coklat dan memprediksi hasil panen. Empat bulam selanjutnya, mereka belajar di pusat beras. Kemudian kembali ke yogya (laboratorium) untuk menerima pelajaran PHT Non padi terutama kedelai. Terakhir, mereka dikirim ke enam kota untuk mengajarkan apa yang mereka dapat, selanjutnya mereka disebut Pemandu lapang 1.
Pada saat yang sama, 22 pemimpin lapang dilatih oleh 90 orang pengamat senior hama dari 6 propinsi yang berbeda selam 2 minggu. Setelah pelatihan ini, mereka disebut Pemandu lapang 2. Mereka dikirim ke daerah – daerah untuk membantu para petani. Pemerintah juga membantu dalam penyedian fasilitas seperti lahan sawh padi.
Pelatihan seperti ini dilakukan setiap tahun oleh tim PHT Yogya dan daerah pusat beras menjadi pioritas.
Dengan pelatihan ini, pada dua tahun pertama jumlah peseta semakin meningkat dan menciptakn banyak petani yang mengerti dan memahami PHT.
Petani untuk Pelatihan Petani : Program FFS
Pelatihan petani PHT Ini dirancang untuk “belajar dan lakukan”. Peserta didorong aktif untuk mengamati hama dan musuh alami di swah yang kemudian didiskusikan dengan trainer dan peserta lain. Tidak ada perbedaan antara peserta dan trainer. Para petani yang telah berpengalamn berpuluh – puluh tahun dengan system tradisional yang diterapkan dan para trainer dari segi pengetahuan. Sehingga dapat dibandingkan antara tradisional dan manajemen praktik. Ini akan membantu untuk mengasah kemampuan menganalisis dari informasi dan membuat keputusan.
Peserta yang ikut dalam pelatihan sejak awal berdiri mencapai 75-100 orang yang bertanggung jawab untuk mengajar para peserta lain. Semua peserta adalah petani aktif, pemilik, penyewa atau petani bagi hasil.selama pelatihan, peserta akan diberikan broser tentang hama, penyakit tanaman dan gulma.
Praktikum lapang, disediakan sawah 2 ha yang dibagi menjadi dua, yaitu mendapat perlakuan konvensional dan prinsip – prinsip PHT. Pengamatn dilakukan dengan mencatat hal – hal yang mereka temukan ,dan pada akhirnya didiskusikan bersama tentang perbedaan yang meraka temukan dalam dua perlakuan tersebut.