PENGGILINGAN BAHAN, PENCAMPURAN BAHAN DAN UJI HOMOGEN

LAPORAN PRAKTIKUM Mata Kuliah : Industri Pakan Ternak Dosen : Dr. Ir.Yuli Retnani, Msc Tanggal : 29 April 2011 Tempat : Lab. Industri Pakan Kelompok : lima PENGGILINGAN BAHAN, PENCAMPURAN BAHAN DAN UJI HOMOGEN Disusun Oleh : Regina M. Simangunsong D14080290 Inessya Feronica D14080192 DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 PENDAHULUAN Latar Belakang Memperkecil ukuran partikel suatu bahan dimaksud selain untuk mempermudah kegiatan prosesing lanjutan juga untuk memperoleh ukuran partikel bahan yang dokehendaki bagi ternak yang menkonsumsinya, dan sebagai tujuan akhir adalah untuk meningkatkan penampilan produk. Dalam praktikum ini akan dilakukan kegiatan penggilingan beberapa jenis bahan dari hijauan kering, biji-bijian dan bongkahan yag memakai 2 jenis mesin grinder yang ada, yaitu Hammer mill tipe swing, fixed, semi fixed dan Burr Mill atau attrition mill atau Disk Mill. Pencampuran yaitu mengahasilkan ransum yang mengandung zat-zat makanan dan obat-obatan yang menyebar secara merata dan seragam. Pencampuran makanan yang baik akan meningkatkan penampilan produksi ternak dan juga merupakan salah satu bagian tatacara praktek produksi yang baik (GMP). Proses pencampuran yang baik akan menghasilkan ransum yang seragaman dalam waktu yang minimum dengan biaya tenaga yang minimum. Dalam setiap sampel yang diambil dari mixer dapat bervariasi, secara ideal sesuatu campuran harus memiliki variasi yang minimum. Faktor-faktor yang menentukan keseragaman hasil campuran adalah besar dan betuk partikel bahan, densitas dan muatan statis bahan, urutan pemasukan bahan, jumlah bahan yang dicampur, desain mesin, waktu pencampuran, pengosongan mesin, perawatan dan pemeliharaan mesin, pengujian mesin mixer yang terdiri dari dua yaitu pengambilan sampel da evaluasi sampel. Tujuan Penggiligan bertujuan untuk mengetahui kategori hasil gilingan bahan yang sama dengan berbagai jenis saringan yang berbeda ukurannya : halus, sedang, dan kasar. Kategori hasil gilingan bahan yang berbeda dengan perbandingan pemakaian jenis saringan yang sama, kategori hasil gilingan bahan yang sama pada perbedaan pemakaian kedua jenis grinder, menghitung jumlah kapasitas produksi per jam tiap bahan yang sama dengan pemakaian jenis saringan yang berbeda. Pencampuran bertujuan untuk menghasilkan ransum yang mengandung zat-zat makanan (nutrients) dan obat-obatan (medicated feed) yang menyebara secara merata atau seragam. MATERI DAN METODE Materi Bahan yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah bungkil kelapa, jagung pipil, CGF, CaCo3, mineral vitamin, garam, CPO serbuk gergaji, kulit kacang, dedak, pollard, pellet ikan dan air. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah karung, timbangan, grinder, Vibrator ball mill, jangka sorong, gelas ukur, plastic, timbangan digital dan corong. Metode Bahan baku diambil dan dicampur satu persatu bahan dengan catatan formula bungkil kelapa 30,61%, jagung pipil 10,20%, sumber serat seperti CGF 25,57%, CaCo3 4,08 , mineral vitamin 1,02%, garam 1,07%, CPO 1,07%. Ditambahkan bahan yang berbeda tiap kelompok. Kelompok pertama mendapat pollard, kelompok 2 serbuk gerjgaji seragam, kelompok 3 kulit kacang. Kelompok 4 dedak dan terakhir kelompok 5 adalah pollard. Semua bahan baku dicampur dan pellet ikan kurang lebih 200gram sampai tercampur homogen. Selanjutnya uji mirability dengan 10 sampel adonan dengan probesbility, hitung butir pellet ikan, hitung rataan dan standar deviasi, hitung Koefisien variasi. Adonan campuran ditimbang, kemudian adonan digiling selajutnya digiling. Adonan ditimbang. Sampel diambil 15 kg dilakukan uji fisik yaitu BJ, KP, KPT sebanyak 100 gram. sudut tumpakan , ukuran partikel dan daya amabng mengunakan bahan sebanyak 500 gram. setelah uji fisik selesai sisa adonan dicampur dengann adonan 1kg disimpan untuk pengemasan. Sisa dari pengambilan sampel dibuat pellet. TINJAUAN PUSTAKA Ransum Ransum merupakan campuran bahan pakan yang mengandung nutrisi bagi ternak, diberikan kepada ternak untuk kebutuhan selama 24 jam. Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan bahan anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi. Sedangkan bahan pakan ternak adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak baik dalam bentuk dapat dimakan seluruhnya atau sebagian dan tidak mengganggu kesehatan ternak yang bersangkutan (Yasin, 1960). Bahan ternak ini dapat berupa butiran (jagung, sorghum, beras, kedelai), hijauan (kangkung, daun lamtoro, turi, rumput-rumputan) dan sisa industri pengolahan (ampas kecap, ampas tahu, bungkil, dedak) . Untuk memperoleh pakan dengan harga yang rendah tetapi dengan kualitas yang tinggi serta sesuai dengan kebutuhan unggas maka diperlukan penyusunan ransum. Makanan untuk ternak unggas terdiri dari bahan organik dan anorganik yang diberikan sebagian atau seluruhnya dan dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak (Yasin,1960). Dedak Padi Dedak padi merupakan hasil samping dari pemisahan beras dengan sekam (kulit gabah) pada gabah yang telah dikeringkan melalui proses pemisahan dengan digiling atau ditumbuk yang dapat digunakan sebagai pakan ternak. Proses pemisahan menjadi dedak ini akan mendapatkan 10% dedak padi, 50% beras dan sisanya hasil ikutan seperti pecahan butir beras, sekam dan sebagainya, akan tetapi persentase ini tergantung pada umur, varietas padi yang ditanam, derajat penggilingan serta penyosohan (Grist, 1972). Hal ini juga didukung oleh produksi padi yang terus meningkat yaitu mencapai 64 juta ton pada tahun 2009 sehingga perkiraan produksi hasil samping dedak mencapai lebih dari 6 juta ton dedak padi (BPS, 2010). Hartadi dkk (1997) menyatakan bahwa dedak dengan kandungan serat kasar 6-12% memiliki kandungan lemak 14,1%, protein kasar 13,8% sedangkam menurut Nasional Research Council (1994) dedak padi mengandung energy metabolis sebesar 2980 kkal/kg, protein kasar 12,9%, lemak 13%, serat kasar 11,4%, Ca 0,07%, P tersedia 0,22%, Mg 0,95%. Menurut kelas nilainya, dedak dibagi menjadi empat kelas, yaitu: • Dedak Kasar Adalah kulit gabah halus yang bercampur dengan sedikit pecahan lembaga beras dan daya cernanya relatif rendah. Analisa kandungan nutrisi: 10.6% air, 4.1% protein, 32.4% bahan ekstrak tanpa N, 35.3% serat kasar, 1.6% lemak dan 16% abu serta nilai Martabat Pati 19. Sebenarnya dedak kasar ini sudah tidak termasuk sebagai bahan makanan penguat (konsentrat) sebab kandungan serat kasarnya relatif terlalu tinggi (35.3%) • Dedak Halus Biasa Merupakan hasil sisa dari penumbukan padi secara tradisional (disebut juga dedak kampung). Dedak halus biasa ini banyak mengandung komponen kulit gabah, juga selaput perak dan pecahan lembaga beras. Kadar serat kasarnya masih cukup tinggi akan tetapi sudah termasuk dalam golongan konsentrat karena kadar serat kasar dibawah 18%. Martabat Pati nya termasuk rendah dan hanya sebagian kecil saja yang dapat dicerna. Analisa nutrisi: 16.2% air, 9.5% protein, 43.8% bahan ekstrak tanpa N, 16.4% serat kasar, 3.3% lemak dan 10.8% abu serta nilai Martabat Pati (MP) nya 53 • Dedak Lunteh Merupakan hasil ikutan dari pengasahan/pemutihan beras (slep atau polishing beras). Dari semua macam dedak, dedak inilah yang banyak mengandung protein dan vitamin B1 karena sebagian besar terdiri dari selaput perak dan bahan lembaga, dan hanya sedikit mengandung kulit. Di beberapa tempat dedak ini disebut juga dedak murni. Analisa nutrisi: 15.9% air, 15.3% protein, 42.8% bahan ekstrak tanpa N, 8.1% serat kasar, 8.5% lemak, 9.4% abu serta nilai MP adalah 67. • Bekatul Merupakan hasil sisa ikutan dari pabrik pengolahan khususnya bagian asah/slep/polish. Lebih sedikit mengandung selaput perak dan kulit serta lebih sedikit mengandung vitamin B1, tetapi banyak bercampur dengan pecahan-pecahan kecil lembaga beras (menir). Oleh sebab itu masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan manusia sehingga agak sukar didapat. Analisa nutrisi: 15% air, 14.5% protein, 48.7% lemak dan 7.0% abu serta nilai MP adalah 70. Jagung Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi. Bungkil Kelapa Bungkil kelapa merupakan sumber lemak yang baik untuk unggas serta mengandung protein. Bungkil kelapa selain mudah didapat harganya juga murah. Pemberian bungkil kelapa untuk komposisi ransum maksimal sebesar 10 – 15%. Bungkil kelapa selain sebagai sumber asam lemak juga sebagai sumber Ca dan P meskipun kandungannya sedikit. Penggunaan bungkil kelapa seharusnya tidak lebih dari 20 % karena penggunaan yang berlebihan harus diimbangi dengan penambahan metionin dan lisin (tepung ikan) serta lemak dalam ransum. Kandungan protein dalam bungkil kelapa cukup tinggi yaitu 18 % , sedangkan nilai gizinya dibatasi oleh tidak tersedianya dan ketidakseimbangan asam amino (NRC, 1994). Garam Garam dapur adalah sejenis mineral yang lazim dimakan manusia. Bentuknya kristal putih, dihasilkan dari air laut. Biasanya garam dapur yang tersedia secara umum adalah Sodium klorida (NaCl). Garam sangat diperlukan tubuh, namun bila dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk tekanan darah tinggi. Selain itu garam juga digunakan untuk mengawetkan makanan dan sebagai bumbu. Untuk mencegah penyakit gondok, garam dapur juga sering ditambahi Iodium. Produksi garam adalah menguapkan air laut dalam petak-petak di pinggir pantai. Air laut yang diuapkan sampai kering mengandung setiap liternya sejumlah 7 mineral (CaSO4, MgSO4, MgCl2, KCl, NaBr, NaCl, dan air dengan berat total 1.025,68 gram. Setelah dikristalkan pada proses selanjutnya akan diperoleh garam dengan kepekatan 16,75 - 28,5 derajat Be setara dengan 23,3576 gram. Untuk menghasilkan garam dapur hanya akan diperoleh 40,97 % dari jumlah semula. Lokasi pembuatan garam yang ideal adalah memenuhi persyaratan antara lain lokasi landai, kedap air, air laut dapat naik ke lahan tambak garam (dengan atau tanpa bantuan alat), konsentrai air baku minimum 2,5 derajat Be.Lokasi juga bersih dari sumber air tawar, dengan curah hujan sedikit dan banyak sinar . Matahari untuk optimalnya penguapan air laut. Musim kemarau yang panjang akan memperkecil frekuensi turun hujan (Anonim, 2009). Penggilingan Penggilingan merupakan proses pengecilan ukuran dengan gaya mekanis mmenjadi beberapa fraksi ukuran yang lebih kecil. Alat penggilingan yang digunakan untuk menggiling bahan pakan menjadi berbentuk tepung dari serealia terdiri dari alat pengghancur dan penggilas (grinder). Hasil penggilingan kemudian diayak untuk memisahkan bagian kulit dan serat-seratnya. Hasil gilingan diayak dan pengayakan bertingkat untuk mendapat berbagai tingkat hasil giling (Rosmisari, 2006). Metode penggiligan ada dua jenis yaitu metode basah dan metode kering, metode basah dilakukan perendaman bahan terlebih dahulu sebelum digiling sedangkan metode kering tidak dilakukan perendaman. Metode basah lebih aplikatif dimasyarakt sedangkan metode kering lebih sering digunakan dalam penggilingan skala besar (Suprapto, 1998). Efisien penggunaan energy pada penggilingan kering lebih rendah disbanding dengan penggilingan basah. Metode basah dapat memperkecil kerugian akibat oksidasi bahan olah dan menghasilkan tekstur lebih halus (Haros et al., 2003). Pencampuran Teknik pencampuran pakan yang baik adalah teknik yang mampu menghasilkan pakan dengan tingkat homogenitas yang tinggi. Beberapa bahan baku suplemen aditif penting seperti vitamin, mineral, anti oksidan, asam amino dan lain mikronutrien lain biasanya memiliki porsi. Formulasi pakan dan teknik pencampuran pakan yang efisien dan efektif akan menghasilkan pakan dengan mutu baik dan harganya lebih murah. Dalam pencampuran pakan bentuk fisik, kandungan racun, kandungan zat anti nutrisi dan kandungan nutrient dari bahan baku sangat berpengaruh menghasilkan pakan yang 9homogeny atau seragam. (Raghavan, 1997). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian mixibility yaitu dengan pencampuran pakan ikan kedalam bahan yang sebelumnya telah dicampurkan hingga homogeny. Adanya pakan ikan yang dicampurkan pada tahap terakhir pencampuran dapat mengetahui seberapa 9omogeny bahan yang dicampur. Hasil pencampuran pakan ikan dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Hasil Uji Mixibility pada 10 Sampel Nilai rata-rata = 77/10 = 7,7 butir SD= 5,45 %CV = SD/rataan x100% =70, 88% Pengujian Tumpukan mempegaruhi perhitungan volume ruangan yang dibutuhkan bahan tertentu dalam penggunaan silo, elevator, feeder dan mixer. Hasil pengujian Tumpukan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Sudut Tumpukan I II tinggi = 12,38 cm tinggi = 7,78 cm D1 = 33,5 cm D1 = 23,0 cm D2 = 29,5 cm D2 = 23,0 cm Tg α = t / 0,5 d Tg α = 12,38/ 0,5 x 31,5 Tg α = 0,79 Pengujian daya ambang dilakukan dengan cara pelemparan bahan dengan ketinggia tertetu dan diukur waktunya sampai menyentuh permukaan. Hasil ujia daya amabang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Daya Ambang Lemparan Waktu (detik) 1 0,92 2 0,58 3 0,82 4 0,59 5 0,58 Pengujian partikel menentukan keefisienan produk penggilingan dan akan mempengaruhi proses produksi selanjutnya yang akan berpengaruh terhadap kecernaan dan palatabilitas ternak. Pengujian ukuran partikel dapai dilihat pada Tabel 4. Tabel 4.Hasil Uji Ukuran Partikel Ukuran lubang Berat (gram) No 8 3,8 No 16 36,2 No 30 106,4 No 50 206,7 No 100 103,6 Pen 6,7 Pembahasan Ransum merupakan campuran bahan pakan yang mengandung nutrisi bagi ternak, diberikan kepada ternak untuk kebutuhan selama 24 jam. Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan bahan anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi. Sedangkan bahan pakan ternak adalah segala sesuatu yang dapat dimakan oleh ternak baik dalam bentuk dapat dimakan seluruhnya atau sebagian dan tidak mengganggu kesehatan ternak yang bersangkutan. Bahan ternak ini dapat berupa butiran (jagung, sorghum, beras, kedelai), hijauan (kangkung, daun lamtoro, turi, rumput-rumputan) dan sisa industri pengolahan (ampas kecap, ampas tahu, bungkil, dedak) . Untuk memperoleh pakan dengan harga yang rendah tetapi dengan kualitas yang tinggi serta sesuai dengan kebutuhan unggas maka diperlukan penyusunan ransum. Makanan untuk ternak unggas terdiri dari bahan organik dan anorganik yang diberikan sebagian atau seluruhnya dan dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan ternak Penggilingan merupakan proses pengecilan ukuran dengan gaya mekanis mmenjadi beberapa fraksi ukuran yang lebih kecil. Alat penggilingan yang digunakan untuk menggiling bahan pakan menjadi berbentuk tepung dari serealia terdiri dari alat pengghancur dan penggilas (grinder). Hasil penggilingan kemudian diayak untuk memisahkan bagian kulit dan serat-seratnya. Hasil gilingan diayak dan pengayakan bertingkat untuk mendapat berbagai tingkat hasil giling. Pengayakan dilakukan dengan Vibrator Ball Mill yang menghasilkan berbagai ukuran partikel dimana dapat menentukan koefisien produk penggilingan serta mempengaruhi proses produksi selanjutnya yang akan mempengaruhi tingkat kecernaan dan palatabilitas ternak terhadap pakan. Ukuran Derajat Kahalusan adalah 0-7 dibagi dalam tiga kategori yaitu halus/fine (0-2,1), sedang/medium (>2,1-4,1) dan kasar/coarse (>4,1-7). Vibrator Ball Mill merupakan satu unit alat penyaring yang terdiri dari tujuh ayakan (Sieves) dengan ukuran lubang ayakan yang berbeda dan ditempatkan berdasarkan nomor urutan terbesar hingga terkecil : Nomor 4, 8, 16, 30, 50, 100, 400, dan 1 penampung (pan). Hasil yang diperoleh dari bahan pengujian ukuran partikel baha pada ayakan no 8 sebesar 3,8 gram, No 16 memperoleh 36, 2, No. 30 sebanyak 106,4 gram. No. 50 sebanyak 206,7 gram, No. 100 sekitar 103,6 gram dan pada pan sebannyak 6,7 gram. Pengayakan ini akan disesuaikan dengan karakteristik ternak, ternak mana yang suka tekstur halus, agak kasar dan kasar. Pengukuran sudut tumpukan dilakukan dengan menjatuhkan bahan pada ketinggian tertentu melaui corong pada bidang datar. Sebagai alas bidang datar akan digunankan kertas berwarna puith. Ketinggian bahan berada di bawah corong. Sudut tumpukan dinyatakan dengan satuan derajat dengan mengukur diameter dengan tinggi bahan. Sudut tumpukan bahan diperoleh sebesar 0,79 °. Teknik pencampuran pakan yang baik adalah teknik yang mampu menghasilkan pakan dengan tingkat homogenitas yang tinggi. Beberapa bahan baku suplemen aditif penting seperti vitamin, mineral, anti oksidan, asam amino dan lain mikronutrien lain biasanya memiliki porsi. . Formulasi pakan dan teknik pencampuran pakan yang efisien dan efektif akan menghasilkan pakan dengan mutu baik dan harganya lebih murah. Faktor-faktor yang menentukan keseragaman hasil campuran adalah besar dan betuk partikel bahan, densitas dan muatan statis bahan, urutan pemasukan bahan, jumlah bahan yang dicampur, desain mesin, waktu pencampuran, pengosongan mesin, perawatan dan pemeliharaan mesin, pengujian mesin mixer yang terdiri dari dua yaitu pengambilan sampel da evaluasi sampel. Keseragaman pada pencampuran pakan yang diperoleh dari perlakuan sebesar 70,88%. Hal ini menunjukkan bahwa keseragaman tidak dicapai. Dimana keseragaman dengan persentase lebih dari 80% sedangkan pada pencampuran atau mixing bahan pakan dibawah dari 80%. KESIMPULAN Faktor keseragaman dalam pencampuran bahan pakan adalah besar dan bentuk partikel bahan, densitas dan muatan statis bahan, urutan pemasukan bahan, dan jumlah bahan yang dicampur. Pencampuran pakan tidak seragam karena diperoleh keseragaman dibawah 80%. Penggilingan bahan pakan memperkecil bentuk partiel yang dapat meningkatkan kecernaan serta palatabilitas ternak. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2009. http://agritekno.tripod.com/garam.html. [3 Juni 2011]. Badan Pusat Statistik. 2010. Data Statistik Produksi Padi di Indonesia. http://www.bps.go.id/tnmn.pgn.php?eng=0 [3 Juni 2011]. Grist, D.H. 1972. Rice 4th Ed. Lowe and Brydine Ltd., London. Haros, M, O. E. Perez, and C.M. Rosell.2003. Effect of steping corn with lactic acid on starch properties. Ceral Chemistry 81(1): 10-14. Hartadi, H.S. Reksohadiprodjo, dan A.D. Tilman. 1997. Tabel Komposi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University press, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. National Research Council.1994. Nutrient Requitment of Poultry. 6th. Revised Edition. National Academy Press, Washington. Raghavan, V. 1997. Home-mixing-adressing the problem. Asia Focuc Proceding VIV Seminars on Poultry and Pig Production. Misset Internatioal. P. 65-67. Rosmisary, A. 2006. Review : Tepung jagung komposit, pembuatan dan pengolahanya. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Inovatif Pascapanen Pengembangan Pertanian. BPPPT, Bogor. Suprapto.1998. Bertanam Jagung. Cetakan ke 18. Penebar Swadaya, Jakarta. Yasin Suhubdy. 1960. Fungsi dan Peranan Zat-Zat Gizi dalam Ransum Ayam Petelur. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer