Pentingnya Perencanaan Keuangan

Lebih baik investasi asuransi saya distop atau dilanjutkan? (Pentingnya Perencanaan Keuangan) Anda dalam kondisi mau menempuh perjalanan dari Monas, Jakarta Pusat menuju Depok Margonda. Anda tidak pernah menjalani rute Monas – Margonda sebelumnya. Jam 8 pagi Anda harus berangkat dari Monas, dan jam 4 siang harus sudah tiba di Depok Margonda. Mana yang Anda pilih?... 1. Mementingkan kecepatan kendaraan, lalu memacu kendaraan Anda. Anda tidak tahu harus melalui mana, tetapi Anda akan mencari tahu dalam perjalanan. Anda akan bergantung pada rambu-rambu yang mungkin berada disepanjang perjalanan. 2. Memiliki peta kota Jabotabek. Mencari dan menentukan posisi Monas, dimana Anda berada sekarang, lalu mencari dan menentukan posisi Depok Margonda sebagai lokasi tujuan Anda. Kemudian mempelajari jalan-jalan yang menuju menghubungkan kedua lokasi tersebut, beserta alternatif-alternatifnya. 3. Mencari teman perjalanan yang paham dan bisa membantu Anda. Anda mungkin tidak akan memilih pilihan nomor 1. Tetapi justru hal seperti nomor 1 itulah yang terjadi pada masyarakat kita dalam berinvestasi saat ini. Dalam kepanikan, banyak orang bertanya kepada saya: "Bagaimana nih? Saya memiliki investasi di reksadana dan unitlink. Nilainya jatuh! Sebaiknya saya putuskan kontraknya agar tidak makin merugi, atau saya bertahan dengan harapan harga akan naik lagi?" Saya melihat kondisi ini sebagai kegagalan industri keuangan (Bank, Asuransi, Sekuritas, Manajer Investasi, Dana Pensiun) dalam mendidik hal pengetahuan keuangan kepada para nasabahnya, yang mestinya sudah dilakukan sebelum terjadi krisis ekonomi. Akibatnya adalah terjadi kepanikan, yang dapat dapat menimbulkan kerugian baik bagi perusahaan keuangan maupun bagi nasabahnya. Kerugian immaterial yang lebih besar adalah rusaknya kepercayaan nasabah terhadap lembaga keuangannya. Kita tahu bahwa beberapa bank seperti `sembunyi' dibalik peraturan Bank Indonesia yang mengharuskan pencantuman tulisan: "Produk investasi ini bukan milik Bank. Bank hanya bertindak sebagai agent penjualan. Maka produk ini tidak dijamin oleh Bank dan tidak termasuk dalam program penjaminan dari pemerintah." Tinggallah nasabah yang bengong saat investasinya ternyata merugi. Saat Nilai Aset Bersih (NAB) menurun dan Total Investasi pun menurun... Belum lagi, banyak hal yang masih tersembunyi yang belum diketahui oleh nasabah, yang kalau mereka sudah tahu, bisa makin banyak lagi yang jantungan!... (Belum tau dia!) Lalu nasabah harus menyalahkan siapa? Banyak investor di beberapa negara mempersalahkan negaranya yang tidak membuat peraturan yang ketat. Lalu apakah hal itu efektif dalam mengembalikan investasi mereka? Seperti baru mengetahui pedal kanan untuk gas, pedal tengah untuk rem dan pedal kiri untuk kopling, kebanyakan dari masyarakat kita kan mengatakan "Saya sudah bisa mengemudi mobil!" Demikian juga berlaku dalam hal investasi. Banyak masyarakat kita lantas terjun langsung berinvestasi karena tergiur hasil yang tinggi, baik dalam bentuk investasi saham, reksadana saham, option, indeks, kontrak berjangka, dan lain-lain. Selama ini sebagian besar masyarakat yang membuka rekening investasi melalui perbankan dan asuransi, percaya pada penjelasan para agent / petugas pemasaran akan `amannya' uang mereka yang diinvestasikan. Tiba-tiba menjadi bingung dengan investasinya yang merugi karena krisis ekonomi. Kemana semua optimisme dan angka-angka illustrasi yang diberikan oleh perusahaan dan produk investasinya selama ini? Bagaimana nasabah mendapat penjelasan dari lembaga keuangan akan apa yang terjadi dengan investasinya? Bila selama ini masyarakat lebih percaya pada institusi keuangan besar dalam memberikan nasihat-nasihat keuangan bagi mereka (dalam bentuk layanan Wealth Management), berapa banyak institusi keuangan terbesar di dunia ini yang hancur atau nyaris hancur? Bagaimana dengan strategi keuangan mereka sendiri? Bagaimana dengan nasehat yang mereka berikan? Lantas bagaimana nasib para investor yang mempercayakan uangnya? Kesalahan perusahaan keuangan baik itu bank, asuransi, sekuritas, Manajer Investasi pada saat ini masih pada hal klasik, yaitu gagal membangun pemahaman masyarakat akan investasi (gagal mendidik masyarakat!). Semuanya berpangkal pada satu hal: pendidikan investasi! Minimnya `edukasi' juga yang menjadi penyebab `rush-out' sehingga instrument investasi malah semakin jatuh! Sesungguhnya masyarakat perlu mengetahui bahwa dalam investasi ada 2 aspek yang penting untuk dibangun yaitu: 1. Aspek Internal : Pengetahuan akan diri sendiri. 2. Aspek External : Pengetahuan akan investasi dan dunia investasi. Aspek internal harus kita bangun terlebih dahulu, barulah kemudian membangun aspek external. Aspek internal akan memberikan hal yang sangat penting, yaitu arah dari investasi Anda. Sementara aspek external akan memberikan pertumbuhan dari investasi Anda. Coba lihat lagi cerita diawal tulisan ini untuk memberikan pengumpamaan ini jelas. Apa itu aspek internal? Aspek internal menyangkut keputusan akan: 1. Investasi dan Tujuan Investasi 2. Jangka Waktu Investasi 3. `Risk Profile' 4. `Activity Profile' Apa itu aspek eksternal? Aspek eksternal menyangkut keputusan akan: 1. Instrument Investasi (Risk & Return) 2. Portofolio 3. Target Growth 4. Makro Ekonomi dan Mikro Ekonomi 5. `Economic Life Cycle' Dengan memiliki pemahaman yang baik akan aspek internal dan aspek eksternal, maka kita dapat memutuskan: 1. Strategi Investasi apa yang harus saya miliki? • Market Timing? Buy And Hold? Portofolio? • Instrument apa: Bond? Saham? Cash? Gold? • Dollar Cost Averaging? 2. Strategi Asuransi apa yang harus saya miliki? Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa ASURANSI BUKAN INVESTASI. Kita harus memiliki strategi asuransi yang kenyataannya sangat berbeda dengan strategi investasi. Sesungguhnya kita juga salah kaprah bila mengatakan "Saya sudah berinvestasi dalam polis asuransi saya!" Investasi adalah Perencanaan. Bila uang dilakukan tanpa perencanaan, artinya adalah spekulasi. Demikianlah yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Kebanyakan kita mengira sedang berinvestasi. Padahal yang terjadi adalah berspekulasi. Apakah Anda sedang berinvestasi atau berspekulasi? Jawabannya adalah: Apakah Anda memiliki Tujuan Investasi? Tahu persis Jangka Waktu Invetasi Anda? Tahu persis Risk Profile Anda? Tahu persis Activity Profile Anda? Tahu akan instrument investasi dengan risk-return nya? Tahu apakah atau kapan, Anda harus Portofolio (meletakkan telur dalam beberapa keranjang) atau justru Anda harus `meletakkan semua telur dalam keranjang'? (Tidak selalu bahwa telur investasi kita diletakkan dalam banyak keranjang!) Apakah Anda tahu kapan harus shifting dari obligasi-saham-cash-gold? Apakah Anda tahu strategi `Dollar Cost Averaging'? Apakah Anda maklum akan terjadi siklus ekonomi? Bahwa Crisis Economy pasti terjadi dalam suatu siklus? Bila jawaban Anda sebagian besar dari pertanyaan diatas adalah: TIDAK, maka Anda berspekulasi! Tanpa arah, kita tidak akan mencapai tujuan. Hanya mengandalkan kecepatan saja, mungkin akan menyesatkan kita. Sementara pertumbuhan yang kurang cepat masih bisa diterima asalkan masih menuju arah yang tepat. Jadi sekali lagi, aspek internal lebih dahulu harus dibangun daripada aspek eksternal. Kembali kepada cerita diawal tulisan ini, saya sarankan Anda untuk mengambil pilihan nomor 2 (memiliki peta perjalanan dan mempelajarinya) atau pilihan nomor 3 (mengajak orang yang lebih paham). Dalam pilihan nomor 3, Profesi Perencana Keuangan (Financial Planner) yang paham akan kebutuhan Anda dan kondisi ekonomi, dapat menjadi pihak yang membantu Anda mencapai Tujuan Anda. Suatu saat setelah Anda dapat membuat peta perjalanan pribadi Anda, Anda tentu bisa berjalan sendiri. Saat itulah, seperti yang saya sering katakan, bahwa setiap orang hendaknya menjadi Perencana Keuangan bagi dirinya sendiri. Lantas bagaimana? Apakah saya harus memutuskan (kontrak) investasi saya, atau saya teruskan? Kalau Anda sudah memahami aspek internal dan aspek eksternal alias Anda sudah memiliki Perencanaan Keuangan, Anda PASTI BISA MENJAWABNYA! Bila Anda tidak bisa menjawabnya, Anda tampaknya membutuhkan teman dalam perjalanan Anda. Cari Perencana Keuangan yang dapat membantu Anda! Selamat membangun Perencanaan Keuangan Anda. Sampai jumpa di masa depan sejahtera.

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer