Peran Komunikasi Keluarga Primer dan Lingkungan Sosial dalam Perkembangan Anak Autis

Siti Maulina N.K I34090049 Dosen : 1. Dr. Ekawati Sri Wahyuni 2. Ir. Murdianto, MS Asisten : Dyah Ita Mardiyaningsih, SP, M.Si Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor 2011 ABSTRAC Every day more and more children are born to have mental retardation, such as autism. Children who have autism are certainly difficulties in interacting with other people because they seems to have their own "world". Lack of management and communication of a parent or primary family, may be detrimental for the development and communication of the child. Not only that, the social environment is also important in guiding children for their participation becomes more normal. DAFTAR ISI ABSTRAC i DAFTAR ISI ii PENDAHULUAN 1 BAB I 3 DASAR DAN FAKTOR PENYEBAB LAHIRNYA ANAK AUTIS 3 BAB II 5 PERAN KELUARGA PRIMER DAN LINGKUNGAN SOSIAL SAAT INI 5 BAB III 7 TINDAKAN ATAU KOMUNIKASI YANG 7 DILAKUKAN DAN DAMPAKNYA 7 KESIMPULAN 9 DAFTAR PUSTAKA 10 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, tidak dapat dipungkiri bahwa kita akan selalu berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain. Sedari dini kita harus mendapatkan dasar-dasar berkomunikasi yang baik. Oleh karena itu, perlulah dipelajari dan dipraktekkan cara-cara untuk berkomunikasi yang baik sehingga terciptanya persamaan persepsi antar orang yang melakukan komunikasi. Namun lain halnya apabila individu yang melakukan komunikasi adalah bukan seseorang yang tumbuh normal. Tentunya dalam suatu tempat akan ada individu-individu yang tumbuh kembangnya tidak sewajarnya atau keterbelakangan mental. Harus kita sadari bahwa faktanya, saat ini justru angka keabnormalan pertumbuhan mental anak-anak yang lahir semakin banyak. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya asupan nutrisi saat masih dalam kandungan, terlalu banyak mengonsumsi bahan-bahan kimia, atau pun berada di lingkungan yang banyak mengandung kimia, polusi, dan zat-zat berbahaya bagi kesehatan lainnya. Salah satu contoh keterbelakangan mental yang sering terjadi adalah autis. Terkadang pada masa kecilnya, orang yang autis akan dikucilkan oleh teman-teman seusianya karena keterbatasannya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Apabila keabnormalannya tersebut tidak diatasi dengan baik, maka ia akan selama menjadi individu yang tidak dapat berkomunikasi ataupun berinteraksi dengan orang lain. Sehingga pada perkembangannya ia akan menjadi individualis yang tidak mementingkan orang lain dan memiliki dunia sendiri. Oleh karena itu, penting sekali adanya peran serta keluarga primer dan lingkungan sosialnya sebagai pembentuk pribadi serta cara berinteraksi dengan orang lain. 1.2 Perumusan Masalah 1. Apakah penyebab lahirnya anak autis dilihat dari berbagai macam faktor dan dilihat dari segi kesejahteraan hidup keluarganya? 2. Sejauh mana faktanya peran serta komunikasi keluarga primer dan lingkungan sosial dalam perkembangan anak-anak khususnya bagi penderita autis saat ini? 3. Apa saja tindakan atau komunikasi yang seharusnya dilakukan oleh keluarga primer dan lingkungan sosial dalam menghadapi anak autis 4. Bagaimanakah dampak komunikasi tersebut bagi anak itu sendiri, keluarga inti, dan lingkungan sosialnya? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui penyebab dasar lahirnya anak autis dari berbagai faktor dan melihat dari segi kesejahteraan hidupnya. 2. Mengetahui peran komunikasi yang sudah dilakukan oleh keluarga primer dan lingkungan sosial bagi perkembangan anak autis saat ini. 3. Mengetahui hal-hal yang dapat dilakukan oleh keluarga primer dan lingkungan sosial khususnya dalam bidang komunikasi demi perkembangan anak autis. 4. Mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan dengan adanya komunikasi bagi anak autis, keluarganya, dan lingkungan sosial. 1.4 Kegunaan Harapan penulis dari hasil penulisan makalah ini adalah dapat dimengerti dan menimbulkan manfaat bagi pembaca, khususnya bagi yang di sekitarnya memiliki kenalan anak autis atau bahkan memiliki anak autis. hal ini disebabkan terkadang banyaknya orang tua yang berputus asa jika ditakdirkan memiliki anak autis. Padahal, tidak seharusnya berdiam diri saja dan mengasihani, sebaliknya justru merangkul dan membimbing mereka agar dapat menjadi manusia yang lebih produktif dan mandiri. Sehingga kelak, setidaknya dapat terjalin komunikasi yang lebih efektif antara anak autis dan orang-orang yang normal. BAB I DASAR DAN FAKTOR PENYEBAB LAHIRNYA ANAK AUTIS Dewasa ini, semakin banyak saja orang tua yang memiliki anak yang keterbelakangan mental khususnya autis. Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya, anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas, dan minat yang obsesif. Karakteristik anak autisme, ada enam gangguan dalam beberapa bidang, yaitu : • Interaksi sosial, • Komunikasi (bahasa dan bicara), • Perilaku-emosi, • Pola bermain, • Gangguan sensorik dan motorik, • Perkembangan terlambat atau tidak normal. Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya anak autis tersebut adalah disebabkan oleh faktor turunan atau mutasi gen, pola makan ketika sedang hamil, dan lingkungan. Faktor turunan atau mutasi gen adalah hal ini disebabkan adanya kelainan pada saat pembelahan kromosom sehingga menimbulkan sindrom-sindrom tertentu seperti sindrom down. Selain itu juga kemungkinan karena adanya teratogen, yaitu faktor non-genetik yang menyebabkan malformasi pada embrio dan janin. Faktor pola makan ketika sedang hamil adalah kurangnya asupan nutrisi bagi sang bayi ketika masih dalam pertumbuhan janinnya sehingga memungkinkan terjadinya kelainan saat lahir. Terakhir, faktor lingkungan adalah apabila banyaknya zat-zat berbahaya yang dikonsumsi sang ibu sehingga dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Ketiga faktor tersebut hanyalah faktor secara garis besarnya saja, tetapi tentunya ada faktor-faktor lain yang tidak begitu terlihat misalnya saja tingkat kesejahteraan masing-masing keluarga. Pada tingkat kesejahteraan, lebih mengacu kepada cara masyarakat menghadapi anak autis dalam kehidupannya. Tingkat kesejahteraan hidup suatu keluarga dapat dilihat melalui dua sudut pandang, yaitu dilihat dari pola pikir dan pendapatan. Pola pikir masyarakat terkadang sangatlah sempit dalam menghadapi anak autis, sehingga kurangnya perhatian atau respect terhadap orang-orang yang kelainan mental. Hal ini dikarenakan mereka menganggap anak autis adalah individu yang kelak akan menjadi individu yang kurang produktif atau useless. Padahal pada dasarnya, asalkan kita mampu membimbingnya dengan baik, tentu akan memunculkan sifat-sifat cerdasnya dan dapat berinteraksi dengan orang lain. Dilihat dari sudut pendapatan, tentu bagi mereka yang tidak mampu akan kesulitan untuk memanggil pembimbing khusus bagi anak autis. Sehingga terpaksa mau tidak mau hanya berpasrah atau menggunakan kemampuan diri. Faktanya banyak yang memperlakukan anaknya dengan penuh kekerasan atau terlalu dimanja yang justru tidak membuat sang anak berkembang menjadi individu yang normal. Perlu diketahui, perhatian orang tua sangat penting dalam perkembangan dan komunikasi anak autis, sesuai teori “…Kedua orang tua menanamkan hubungan kasih dengan anak-anak mereka, tetapi mempergunakan ikatan ketergantungan emosional ini untuk memaksa segera bertahap anak-anak ke arah berdiri sendiri…” (Goode 2007:158). Namun terkadang orang tua tidak memahami hal tersebut dan menyerahkan anak kepada yang lebih ahli. Selain itu, hal ini mungkin dikarenakan masyarakat tidak tahu caranya sehingga dalam menghadapi anak-anak autis tidak berjalan mulus atau semestinya. Maka dengan kata lain, tidak adanya pengetahuan tentang cara menghadapi anak autis dan pola pikir yang sempit. BAB II PERAN KELUARGA PRIMER DAN LINGKUNGAN SOSIAL SAAT INI Pada dasarnya, anak autis memiliki ciri-ciri komunikasi sosial sebagai berikut : • Tidak atau terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal • Dapat berbicara, tetapi tidak untuk komunikasi atau inisiasi, egosentris • Bahasa aneh dan diulang-ulang atau stereotip • Cara bermain kurang variatif atau imajinatif, kurang imitasi sosial sehingga seharusnya ada perhatian ekstra baik dari orang tua atau keluarga primer dan sedikit banyak dari lingkungan sosial. Padahal ‘…manusia adalah makhluk multidimensional, yaitu sebagai personal/individual, sosial-komunal, dan spiritual-kosmological …’ (Sudarma 2009:23), sehingga pentingnya interaksi dalam pembentukan kepribadian diri dan juga gaya interaksi dengan orang lain. Namun sayangnya dalam kehidupan nyata saat ini tidak terlalu banyak orang yang mengetahui cara mendidik yang sesuai. Ambil saja contoh dalam kehidupan nyata saya untuk menjadi perbandingan yang telah tampak. Ada dua anak autis di antara dua keluarga dalam keluarga besar saya, tetapi banyak sekali perbedaan dalam penanganannya sehingga perkembangan yang muncul pun berbeda. Sebut saja kedua anak autis tersebut A dan B (nama disamarkan). Masing-masing ibu dari keluarga tersebut, awalnya adalah wanita karir. Namun begitu melahirkan anak yang ternyata keterbelakangan mental, ibu dari si B memutuskan untuk berhenti kerja walaupun prestasi pekerjaan sedang dalam posisi puncak. Ia lebih memilih mengasuh dan mendidik anaknya lebih intens daripada harus sepenuhnya menyerahkan pengasuhan perkembangan anaknya kepada yang lebih ahli. Ia pun merawatnya dengan perhatian ekstra, penuh kasih sayang, dan dengan memberikan pelajaran spiritual dalam pengasuhannya. Keluarga terdekat lainnya pun ikut membantu perkembangan komunikasi si B sehingga ia dapat merasakan bahwa dalam kehidupannya, ia tidak hanya sendiri. Keluarganya pun membiarkan dan membebaskan namun tetap mengawasi sang anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar, yaitu teman-temannya. Beruntung, ia memiliki lingkungan sosial yang respectfull sehingga ia dapat berkembang selayaknya anak-anak yang tidak keterbelakangan mental. Sekarang dalam perkembangannya, anak tersebut termasuk anak yang cerdas dalam bidang kognitif dan tentunya dapat berinteraksi dengan cukup normal seperti menerima telepon, chatting, bahkan ia dapat menggunakan jejaring sosial facebook dan membalas wall dan comment dari orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya interaksi komunikasi dari keluarga primer dan lingkungan sosial sebagai faktor pendukung agar sang anak dapat berkembang dengan baik. Berbeda dengan si B, keluarga si A yang tergolong mampu ini kurang adanya penanganan di dalamnya. Sang ibu tidak berhenti kerja dan tetap melanjutkan pekerjaannya karena ia merasa dapat menyerahkan sepenuhnya penanganan anaknya kepada yang ahli. Memang pada kenyataannya ia tidak lepas tanggung jawab dari mendidik anak, hanya saja kurang adanya keterlibatan sang ibu bahkan keluarga primer atau keluarga inti dalam perkembangan si A. Keluarga sekitarnya pun kurang respect terhadap perkembangan karena seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, yaitu kurangnya pengetahuan dan pengalaman dalam mendidik anak-anak yang keterbelakangan mental khususnya autisme. Hal ini menyebabkan keluarga primer dan lingkungan sosialnya hanya sebagai “penonton” dalam perkembangan si A dan tidak terlalu terjun ke dalamnya. Sekarang dalam perkembangannya, B menjadi anak yang cerdas dan hafal isi Al-Qur’an dan sangat pintar dalam bidang kognitif. Ia juga dapat menebak hari pada tanggal tanpa melihat kalender, misalnya saja tanggal 2 Oktober 1990 adalah hari Selasa. Ia dapat memberitahu jawabannya tanpa melihat kalender dengan tehnik pemikirannya sendiri, dan hal tersebut bukan dari pengajaran guru di sekolah khususnya melainkan hasil pemikirannya sendiri. Si A juga dapat bermain game, membaca buku pelajaran, dan hal-hal lainnya yang bersifat kognitif. Namun sayang, interaksinya dengan orang lain tidak terlalu menunjukkan hasil yang bagus dari pengasuhan oleh ahlinya. Memang ia dapat berinteraksi dengan orang lain, tetapi hanya ketika ia mau menjawab dan tidak asyik dengan “dunianya”. Sesungguhnya anak autis memiliki daya ingat yang kuat dan cerdas, hanya saja tidak ada kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan komunikasi keluarga primer dalam perkembangan sang anak dengan menggunakan pendekatan ekstra yang terkadang harus mengorbankan sesuatu yang telah kita capai misalnya pekerjaan. Selain itu, kepribadian adalah keseluruhan dari perilaku seseorang dengan sistem kecenderungan terhadap sesuatu dalam interaksi pada situasi tertentu (Horton dan Hunt 1999:90). Sehingga peran keluarga sesungguhnya sangat penting dalam perkembangan kepribadian sang anak, di samping dari segi kognitif. Beruntung, kedua keluarga ini membentuk kepribadian anaknya menjadi anak yang beragama kuat dan baik tanpa menyakiti orang lain. BAB III TINDAKAN ATAU KOMUNIKASI YANG DILAKUKAN DAN DAMPAKNYA Solusi cara mendidik anak autis supaya menjadi komunikan yang lebih baik adalah dengan pendekatan personal anak, pendekatan sisi orang tua, dan dari segi lingkungan. Pendekatan personal anak yang dimaksud adalah dengan banyak melakukan kontak personal-to-personal¬¬ untuk menimbulkan rasa peduli terhadap sekitarnya. Selain itu juga dengan memotivasi dan menyugestikan anak agar dapat sembuh meskipun kemungkinannya kecil. Hal ini dibutuhkan ekstra kesabaran karena kesembuhan anak autis harus dilakukan secara bertahap dan tidak instan. Jika dilihat dari segi pendekatan sisi orang tua atau keluarga primer adalah adanya partisipasi penuh dari orang tua baik bapak maupun ibu, karena keterlibatan orang tua sangatlah penting bagi perkembangan dan pertumbuhannya. Sebisa mungkin orang tua pun menjadi tempat pengaduan bagi anak dan membimbing secara keagamaan, misalnya melatih untuk sering sholat bagi yang beragama Islam. Terakhir, dari pendekatan segi lingkungan. Salah satu cara yang tepat untuk mendidiknya menjadi lebih baik adalah dengan memasukkannya ke sekolah luar biasa atau SLB sehingga anak akan lebih diperhatiakan dan dispesialkan. Anak pun dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan “sesamanya” tanpa mengganggu anak-anak yang normal. Cara lainnya pun dapat dilakukan misalnya dengan memanggil ahlinya untuk melatih anak autis berbicara sesuai yang diperintah sehingga nantinya ia mampu untuk berinteraksi dengan orang lain. Namun kembali ke pendekatan sebelumnya, keluarga primer atau orang tua tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja karena peran merekalah sebenarnya yang paling dibutuhkan oleh sang anak. Dampak bagi diri anak sendiri jika tidak dibimbing menjadi individu yang lebih baik adalah dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitar yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa tidak percaya diri dan hal tersebut akan memberikan pengaruh besar dari segi psikologisnya. Hal ini karena dikucilkan oleh masyarakat atau tidak diikutsertakan dalam pergaulan. Meskipun mereka mempunyai dunianya sendiri, tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai rasa bersosialisasi. Sehingga ketika ia tidak merasakan memiliki teman yang sebaya atau senasib, ia akan cenderung menjadi semakin “asyik” dengan dunianya sendiri dan menjadi semakin tidak peduli dengan sekitarnya. Oleh karena itu, jangan sampai anak autis terbengkalai perkembangannya agar menjadi individu yang lebih berguna dan dapat berdiri sendiri karena komunikasi merupakan hal yang penting dalam interaksi dengan orang lain. Tentunya dengan sering interaksi dengan keluarga primer, akan timbul ikatan batin yang lebih kuat dibandingkan orang lain. Lingkungan sosial juga berpengaruh sehingga akan adanya manfaat bagi diri mereka sendiri dengan ikut serta dalam membimbing anak-anak autis. KESIMPULAN Keterbelakangan mental khusunya autis, bukan murni disebabkan oleh faktor internal, melainkan juga oleh faktor eksternal. Dalam perkembangannya sedari kecil, haruslah dilakukan cara yang tepat. Pentingnya peran serta komunikasi dari kelurga primer dan lingkungan sosial menentukan pembentukan kepribadian dan interaksi sang anak dalam perkembangannya dan setelah dewasa. Karena jika tidak, akan timbul dampak bagi diri anak itu sendiri dan bagi orang-orang sekitar untuk saat itu dan ke depannya. Pada sadarnya, anak-anak yang autis bukanlah individu yang sia-sia karena dengan bimbingan yang tepat akan menjadi individu yang lebih produktivitas. Untuk mengefektifkan komunikasi bagi anak autis adalah dengan memberikan perhatian yang ekstra dan tidak sembarangan memberinya kebebasan untuk asyik dalam “dunianya”. DAFTAR PUSTAKA Autisme.2010.Autisme.20 November 2010 [internet].[dikutip 22 Desember 2010]. Dapat diunduh dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme Goode, William J.2007.Sosiologi Keluarga.Jakarta : PT Bumi Aksara. Horton, Paul dan Hunt, Chester L.1999.Sosiologi Jilid 1 Edisi Keenam.Jakarta : Erlangga. Sudarma, Momon.2009.Sosiologi untuk Kesehatan.Jakarta : Salemba Medika.

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer