PERUBAHAN EKOLOGI PERTANIAN : DARI REVOLUSI HIJAU KE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
M.K. Sosiologi Umum Hari/Tanggal : Selasa/6 desember 2011
Praktikum Ke-12
PERUBAHAN EKOLOGI PERTANIAN : DARI REVOLUSI HIJAU KE SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION
Oleh : Rina Mardiana dan Soeryo Adiwibowo
Dan
MANFAAT KEARIFAN EKOLOGI TERHADAP PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
STUDI ETNOEKOLOGI DI KALANGAN ORANG BOBOKI
Oleh : Yohanes Gabriel Amsikan
Nama/NRP/Kelas : Azmi Satri/H54110006/R2
Nama Asisten/NRP: Sri Wulan Fatmawati/H14090073
Astri Sabrina Qhoirunisa/H34090065
Ikhtisar :
Bacaan 1 :
Revolusi Hijau merupakan suatu kebijakan pemerintah yang mengarah pada intensifikasi sistem pertanian pangan yang telah dicanangkan sejak tahun 1960-an. Fokus utama dalam kebijakan ini yaitu pada tanaman padi, sehingga pada tahun 1984 Indonesia memperolah penghargaan dari FAO karena Indonesia telah berhasil melakukan swasembada beras. Namun Revolusi Hijau hanya bisa mencapai tujuan makro, tanpa diiringi oleh pencapaian ditingkat mikro seperti aspek ekologis, sosial-ekonomi dan budaya. Seiring berjalannya waktu swasembada beras tidak bisa dipertahankan sehingga bangsa Indonesia harus impor beras dan berdampak dengan meningkatnya angka kemiskinan rakyat Indonesia. Bukan hanya pada beras, Revolusi Biru yang mengembangkan pertambakan udang juga mengalami keterpurukan akibat adanya virus udang yang menyebar dengan cepatnya. Oleh karena itu, Revolusi Hijau dinyatakan gagal.
Ada beberapa kesalahan dalam pelaksanaan Revolusi Hijau sehingga berakibat fatal, diantaranya penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus yang kemudian menimbulkan resistensi dan resurjensi hama, penerapan sistem monokultur, kebijakan dan intensif ekonomi dibidang pertanian sebagian besar diarahkan pada pertanian intensif dan monokultur sehingga paket kredit petani hanya dinkmati oleh petani yang menggunakan bibit unggul buatan perusahaan besar beserta input kimia pertanian, hal ini pada akhirnya menyebabkan erosi pada plasma nutfah pertanian dan pengetahuan tradisional petani mengenai sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Selain itu, konversi lahan seperti lahan sawah di pulau Jawa dan adanya pengabaian terhadap sosial-ekonomi petani yang menyebabkan anak-anak mereka sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan kurangnya informasi yang mereka dapat juga menjadi penyebab gagalnya Revolusi Hijau tersebut.
Pada tahun 1997, situasi politik Indonesia mengalami perubahan drastis. Organisasi-organisasi baik formal maupun informal telah bayak melakukan penyuluhan, bertukar informasi dengan masyarakat setempat. Banyak teknologi pertanian yang ditemukan oleh para peneliti sebelumnya, ternyata tidak memberikan banyak konstribusi terhadap petani dikarenakan masih kurang pemahaman dari petani mengenai teknologi ini. Oleh karena itu, dibentuk suatu teknik pertanian untuk mengatasi masalah itu yaitu Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification-SRI). Sistem ini melakukan penyebaran pengetahuan dengan cara saling berbagi informasi dan komunikasi antar petani. Menggunakan teknik pelebaran jarak tanam dengan tujuan untuk mengurangi serangan hama dan meningkatkan penyerapan unsur hara yang dibutuhkan. Ternyata metode SRI banyak menguntungkan para petani, hasil produksi meningkat, penghematan air hingga 50%, penggunaan pupuk dan pestisida kmia hanya sedikit.
Pada tahun 2004, secara internasional dan nasional dideklarasikan sebagai tahun beras, kemudian diikuti dengan semakin banyaknya petani kecil di Indonesia yang menerapkan SRI.