Supaya Pede Berbicara di Depan Umum
Pada tulisan sebelumnya sudah digarisbawahi bahwa untuk menjadi pede kita harus mampu melihat diri sendiri apa adanya, harus bijak memosisikan diri sendiri maupun orang lain, dan mampu menerjemahkan lingkungan sewajarnya. Kemampuan kita melihat diri sendiri secara manusiawi akan menempatkan diri kita maupun orang lain serta lingkungan ke dalam porsi yang benar. Hal tersebut akan melandasi kita supaya bisa pede dengan wajar, tanpa dibuat-buat. Namun, pede secara umum (in general situation) tidak menjamin akan pede pula saat harus berbicara di depan umum (public speaking). Mengapa demikian? Karena adanya unsur gangguan fisik dan gangguan mental dalam berbicara di depan umum.
Keadaan tidak pede saat berbicara didepan umum akan mengundang gangguan fisik maupun gangguan mental. Gangguan fisik dapat berupa tiba-tiba merasa gatal, gemetar, jantung berdebar keras, berkeringat yang tidak wajar, tangan dingin, suara parau bahkan tidak keluar, tenggorokan kering, kaki rasanya lemas, perut mulas, dan selalu ingin buang air kecil. Gangguan fisik ini kalau tidak berhasil kita atasi akan semakin membuat kita down, semakin tidak pede.
Gangguan fisik harus kita atasi secara fisik pula. Caranya adalah dengan mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Ini tidak harus dilakukan di ruang tempat kita berbicara, tetapi bisa dilakukan di luar gedung. Selanjutnya adalah kita harus mencoba tersenyum saat menarik napas maupun menghembuskan napas, sembari mengendurkan syaraf yang tegang. Saat kita tersenyum, syaraf akan terpancing untuk mengendur. Lakukan beberapa kali sampai kita merasa relaks.
Teknik lain untuk mengatasi gangguan fisik adalah dengan cara memberikan kejutan pada tubuh kita. Ini bisa kita lakukan dengan melompat yang tinggi kalau perlu sambil berteriak keras, saling menggenggam erat antara tangan kanan dan tangan kiri, atau membuat gerakan ekstrim yang membuat seolah badan kita tersengat. Malu dong melakukan gerakan kejutan di depan umum? Jangan khawatir. Ini ada triknya. Kita justru bisa mengajak peserta (audience) untuk melakukan bersama sama kita. Pernahkah Anda menjumpai pembicara yang mengajak peserta berjingkrak-jingkrak bersama sambil berteriak? Nah, ini adalah salah satu cara supaya kita memiliki kesempatan untuk menciptakan kejutan bagi fisik kita. Dengan cara ini peserta maupun pembicara menjadi lebih relaks.
Gangguan lain yang akan muncul saat kita tidak pede untuk berbicara di depan umum adalah gangguan mental. Gangguan mental muncul dalam bentuk perasaan khawatir secara berlebihan, grogi, minder, merasa akan diterkam oleh peserta, merasa disepelekan, merasa kecil, merasa bodoh, merasa kurang siap, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Gangguan mental ini juga harus kita atasi dengan menggunakan pendekatan mental pula.
Salah satu teknik yang bisa kita gunakan untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan membuat keputusan kepada diri sendiri untuk tidak khawatir, tidak grogi, tidak minder, dan sebagainya. Perintahkan diri sendiri untuk tidak khawatir. Katakan dalam hati dengan lembut pada diri sendiri bahwa kita tidak perlu khawatir karena situasi akan membaik dan memihak pada kita. “Don’t worry, you will be fine.” Katakan berulang-ulang. Hipnosis diri sendiri. Kondisikan hati kita akan menerima saran baik dari kita sendiri. Lakukan lagi sampai kita merasa lebih baik.
Gangguan mental dapat pula kita atasi dengan cara melakukan reposisi pada diri sendiri maupun orang lain. Caranya adalah dengan memberikan posisi yang serba positif kepada peserta. Posisikan peserta sebagai pemaaf, orang yang menyenangkan, penuh pengertian, dan akan memberikan perhatian pada acara ini. Cara ini akan efektif karena saat kita grogi misalnya, karena ada peserta yang lebih tinggi pangkatnya atau lebih hebat gelarnya, adalah posisi yang kita pilih untuk diri sendiri. Saat itu kita memosisikan sebagai lebih rendah maka mereka menjadi tampak lebih tinggi.
Di sini perlu kearifan untuk menempatkan segala sesuatu pada porsi yang semestinya. Apa sih salahnya kalau ada peserta yang memiliki gelar lebih hebat dari pada pembicara? Apa pula salah pembicara kalau pangkatnya lebih rendah dari pada peserta? Posisikan diri sendiri maupun orang lain pada porsi yang wajar, maka kita akan mampu mengatasi gangguan mental.
Teknik lain untuk mengatasi gangguan mental adalah dengan cara yang disebut unfreezing, atau mencairkan kebekuan. Ini bisa kita lakukan dengan cara melakukan komunikasi awal dengan peserta. Kita bisa menanyakan sesuatu yang ringan-ringan saja yang untuk menjawab mereka tidak perlu berpikir keras. Misalnya kita menanyakan, “Siapa yang hadir di sini yang ingin kaya?” Mintalah mereka mengangkat tangan apabila ingin kaya. Pertanyaan seperti ini tentunya memiliki jawaban pasti karena semua orang ingin kaya. Tetapi, dengan kita tanyakan kepada peserta kita memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Interaksi ini akan mencairkan suasana sehingga gangguan mental bisa kita atasi. Tentu saja pertanyaan yang kita ajukan harus ada hubungannya dengan topik yang akan kita sampaikan. Kalau kita sedang berbicara tentang kesehatan kita bisa menanyakan “Siapa di antara yang hadir di sini yang ingin sehat?”
Haruskah unfreezing dilakukan dengan bertanya? Tidak. Kita bisa juga melakukan unfreezing dengan menyapa peserta yang kita kenal, memuji baju yang dikenakan salah satu atau beberapa peserta, menyampaikan kata-kata bijak yang sesuai topik, dan kemudian menanyakan kepada peserta setuju atau tidak dengan kata-kata bijak tersebut. Atau cara-cara lain, yang penting kita bisa membuka interaksi dengan peserta agar kebekuan bisa cair.
Unfreezing bisa juga dilakukan dengan bertanya kepada peserta suatu pertanyaan yang sudah kita atur jawabannya. Misalnya, apabila ditanya apa kabar, mereka harus menjawab “luar biasa”, “fantastik”, “super”, dan jawaban lain yang membangkitkan semangat.
Ada pula yang mengatasi gangguan mental dengan cara humor, yaitu dengan memberikan sentuhan jenaka bagi peserta yang membuat kita grogi. Cara ini bukan berarti kita harus melucu, tetapi kita membayangkan mereka dalam posisi lucu sehingga kita bisa tertawa dalam hati. Misalnya, peserta yang matanya besar kita bayangkan bahwa matanya lebih besar lagi, lebih bulat, seperti mata Bagong, tokoh pewayangan yang selalu melucu. Peserta yang berjenggot kita bayangkan seperti seekor kambing, dan seterusnya.
Ini memang butuh kreativitas. Membayangkan wajah jelek dan lucu tidaklah mudah. Dalam training public speaking, untuk mendapatkan gambaran tentang wajah jelek dan lucu saya sering minta kepada peserta untuk berekspresi yang sejelek mungkin dan kemudian selucu mungkin. Peserta lain mengamati sehingga peserta memiliki inventory bayangan wajah jelek dan lucu. Inventory ini akan berguna dikemudian hari saat mereka harus mendapatkan sisi lucu dari peserta. Tertarik untuk mencoba? Silakan
masalah kurang pede kudu sering latihan ngomong sendiri
biasanya sih kita harus menganggap orang lain itu lebih rendah derajatnya dari kita. anggap saja mereka semua yang mendengarkan presentasi atau pidato kita itu kambing semua. jadi apapun yang kita lakukan mereka tetap gak ngefek sama kita. nah buat ngelancarin ngomongnya di depan publik kita musti menguasai materi dengan belajar topik dengan sungguh-sungguh dan sering latihan ngomong sendiri di depan cermin. buat poin-poin yang mau kita bicarakan di secarik kertas agar omongan kita lebih terstruktur tidak berantakan. semoga berhasil kawan.
* reply
Wed, 25/02/2009 - 12:50pm — doelkunyit
YAKIN MA DIRI SENDIRI
Emang kalo masalah tampil didepan umum hampir semua orang punya krisis kepercayaan diri kalo udah tampil dihadapan banyak orang, sebenarnya sih gampang agar kita bisa tampil tanpa rasa kikuk di depan khalayak ramai ya kita mesti yakin sama diri kita sendiri dan anggap apa yang didepan kita ga ada...
* reply
Wed, 25/02/2009 - 9:52pm — godam64
Semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing2
jangan minder dengan kekurangan kita karena setiap manusia pasti tidak akan sempurna. orang yang kita lihat sempurna bisa jadi punya banyak hal yang ditutupi terkait dengan kekurangannya. oleh karena itu jadikan kekurangan kita sebagai sesuatu yang unik dan menarik dengan melalukan berbagai observasi, eksperimen dan uji coba praktek.
* reply
Thu, 26/02/2009 - 1:14pm — Tamu
satu kalimat aja untuk
satu kalimat aja untuk anda:
"Practice makes Perfect"
coba terapin deh, mulai berbicara didepan cermin, diskusi dgn teman, debat, ikut aktif didalam organisasi atau kegiatan yg banyak aktifitas diskusi, tanya-jawab, dll, kalo dah diterapin, lama-lama pasti jadi biasa dan bisa berbicara didepan umum.
"ala bisa karena biasa"
selamat mencoba.
icalbrown
* reply
Thu, 26/02/2009 - 5:39pm — Thiya
rilex membuat kita lebih. berasa beras lebih
nyantai cool dong......
pede aja. anggap aja mereka anak- anak tk.
so stay cool men
* reply
Thu, 26/02/2009 - 10:48pm — febriraka.secre...
try thiz
yang penting slalu memberikan kesan bahwa kita sbg presenter juga "gak haruz slalu bener", sehingga bisa rilex, dan kalo debat, haruz slalu tenang, berusaha meredam emosi, dan "bicara dengan gaya bicara lo sendiri" (sepele, tapi scara kejiwaan, sangat pentingz)
jangan lupa baca 'contoh2 kasus sebagai penambah wawasan' minimal shari sbelumnya..'
show time yoow
* reply
Fri, 27/02/2009 - 1:56pm — riproz
coba aja
kalo ngomong di depan umum, yang paling penting adalah mengatur emosi, sebelum maju, sebaiknya, mengambil nafas dalam2, dan tenangkan pikiran. Selain itu, juga kamu harus menguasai materi yang akan dipresentasikan sejelas jelasnya, jangan sampai kita tidak tahu apa yang harus diomongin, kalau bisa kita sudah menguasai materi itu seminggu sebelum presentasi dimulai, agar ada waktu untuk menenangkan pikiran lebih lama. Dan jangan lupa catat semua pion yang akan kamu bahas di presentasi itu. usahakan tidak memikirkan hal lain selain materi presentasi yang akan kamu bawakan sebelum presentasi itu dimualai.
* reply
Sat, 21/03/2009 - 1:03am — Tamu
m_fajarsidik@yahoo.co.id
Kalo aku sich punya cara jitu buat kamu yang minder. aku punya sebuah prinsip kehidupan yakni AKU (Ambisi Kenyataan dan Usaha ) kalo mau dipikirkan kita semua punya sebuah ambisi atau cita cita terus kenyataannya seperti apa misal kita sulit ngomong, bingung, nah usah kita kaya' apa:
1. kita sama sama makan nasi sama kaya' anak anak yang pinter ngomong
2. kalo mau presentasi persiapkan bahan materi dan kemudian bacakan di depan cermin sambil liat mata lho sendiri
3. berangkatlah menuju tempat itu dengan semangat yang tinggi dan yakinlah bahwa kamu pasti bisa
4. tarik napas dalam dalam dan keluarkan perlahan
5. jika tetap kesulitan diperlukan latihan yang terus menerus
6. jika tetapa g bisa jangan berkecil hati karena kecerdasan anda berarti tidak terletak pada komunikasi. tiap manusia kecerdasannya pasti tidak sama, jadi kembangkan kecerdasan yang lainnya.
7. semangat untuk selalu berusaha dan jangan lupa buat berdooooooaaaaaa. ok.
muhammad-noer-dot-com-header
Mengatasi Rasa Takut Berbicara di Depan Publik
2010 March 17
tags: Demam Panggung, Presentasi, Public Speaking
by Muhammad Noer
speaking on stage Ketakutan dan demam panggung merupakan hal yang umum ketika seseorang harus tampil dan berbicara di depan publik. Dengan latihan yang baik, demam panggung ini bisa berkurang meskipun mungkin tidak akan hilang sama sekali. Berita baiknya, semua pembicara, bahkan kelas dunia sekalipun tetap mengalami demam panggung ini dalam kadar yang berbeda-beda. Jadi, Anda tidak sendiri, you are in good company.
Menurut Tom Antion, penulis Wake ‘em Up Presentations, demam panggung biasanya muncul sebelum tampil. Setelah seseorang naik ke podium maka dengan sendirinya demam panggung tadi akan mulai menghilang.
Demam panggung bisa memiliki beberapa tanda seperti:
* Mulut kering
* Kerongkongan seperti ada ganjalan
* Tangan berkeringat
* Tangan menjadi dingin
* Tangan bergetar
* Dada berdegup lebih cepat
* Lutut bergetar
* Dan bentuk-bentuk fisik lainnya
Sisi Positif Demam Panggung
Di samping sisi negatifnya yang bisa menimbulkan kekhawatiran dan rasa tidak pede di depan umum, demam panggung juga memiliki sisi positif. Anda menjadi lebih perhatian terhadap gerakan dan posisi tubuh. Anda juga lebih fokus terhadap materi yang akan disampaikan. Rasa takut itu merupakan teman karena membuat refleks Anda semakin tajam, energi meningkat, dan mata menjadi lebih awas.
Jadi ketika Anda merasa nervous atau gugup ketika hendak tampil di depan umum, berusahalah untuk rileks. Biarkan perasaan gugup itu hinggap sebentar dan secara perlahan alirkan ke luar sehingga Anda bisa mengambil kendali lagi. Manfaatkan sisi positif rasa gugup tadi untuk membuat pidato atau presentasi Anda lebih mantap.
Bagaimana Menghilangkan Rasa Gugup
Rasa gugup ini bisa diatasi dengan melakukan visualisasi hal-hal positif seperti:
* Bayangkan audiens menikmati pidato Anda, mereka menatap dengan antusias, mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan bertepuk tangan.
* Bayangkan betapa baiknya apa yang akan Anda tampilkan.
* Bayangkan audiens adalah teman-teman Anda yang biasa diajak ngobrol dan bercanda.
* Ingat momen-momen bahagia dan indah yang pernah Anda miliki sebelumnya.
Hal di atas merupakan cara yang bisa dilakukan ketika rasa gugup atau demam panggung melanda pada detik-detik menjelang tampil di atas pentas.
Lantas bagaimana agar demam panggung ini bisa berkurang sampai pada kadar yang pas? Jawabnya adalah lakukan persiapan yang matang. Ini bisa dilakukan dengan cara:
* Persiapkan dengan baik untuk seluruh materi pembicaraan Anda
* Secara khusus persiapkan kalimat pembuka yang tepat
* Lakukan rehearsal di hadapan teman-teman Anda
* Antisipasi pertanyaan sulit dengan memperkirakan jenis pertanyaan tersebut dan jawabannya
* Praktek, praktek, praktek. Lakukan di depan kaca, ketika Anda mandi, atau di mana saja Anda bisa melakukannya sebelum hari H tiba.
Berdamai Dengan Rasa Takut
Pengalaman saya pribadi, demam panggung ini tidak hilang meskipun Anda sudah persiapkan dengan sangat matang. Saya sering melakukan persiapan untuk presentasi besar atau pidato di depan umum. Saya sudah merasa pede dan rileks dengan apa-apa yang akan saya sampaikan. Saya juga sudah siap dengan catatan kecil berupa mind map atau bullet list berisi poin penting dari keseluruhan materi pembicaraan. Tapi entah mengapa, beberapa detik sebelum tampil, tiba-tiba demam panggung itu datang. Indikator paling sering yang saya rasakan adalah dada berdegup lebih kencang dan tangan mulai berkeringat.
Walaupun demikian, dengan melakukan persiapan yang baik serta penanganan yang tepat, demam panggung tidak akan mengganggu bahkan membuat Anda tampil lebih baik lagi. Jangan takut atau terlalu khawatir ketika rasa gugup melanda karena tidak ada orang yang mati gara-gara hal itu. Meskipun menurut banyak survei, orang rela mati daripada harus tampil dan berbicara di depan umum J
Jadi, persiapkan pidato Anda dengan matang dan tampillah penuh percaya diri. Bersikap positif kepada audiens dan mereka pun akan membalasnya.
Selamat berpidato, berceramah, menyampaikan presentasi, dan tampil di depan umum. Good luck!
Photo Credit: chad davis under creative commons license
Bicara Efektif di Muka Umum
November 28, 2006
tags: komunikasi, manajemen, Motivasi, psikologi populer
oleh Wirawan Yogiyatno
Sudah bukan lagi masanya untuk menjadi remaja pasif! Setelah mulai sekitar 20 tahun lalu cara belajar siswa aktif dikampanyekan pemerintah, kini jadi remaja aktif tentu sudah seakan gerak reflek bagi Anda semua.
Salah satu keaktifan yang perlu Anda pelajari dan latih adalah ketrampilan berbicara di depan umum. Oke, Anda sekarang mungkin sering menderita demam panggung jika diperintah maju oleh guru. Gemetar, keringat dingin keluar, dan bicara pun tergagap-gagap. Malu dong kalo muslim muda seperti itu. Nah, inilah saatnya Anda mengobati demam panggung itu.
Bicara di depan umum merupakan ketrampilan yang sangat berguna. Anda perlu memilikinya. Apalagi kita adalah muslim yang diwajibkan berdakwah. Gimana kalo suatu hari nanti Anda ditunjuk untuk memberi ceramah? Karena itu, ketrampilan bicara di depan umum perlu kita pelajari dan latih.
Berikut ini langkah-langkah praktis yang mungkin dapat membantu untuk meningkatkan kemampuan berbicara efektif, sehingga apabila ada kesempatan ditunjuk menjadi pembicara tidak lagi terjadi ‘demam panggung’, tetapi justru menyenangkan.
Siap Sebelum Bicara
Ada 6 hal yang perlu dipersiapkan dalam berbicara efektif, yaitu: mengapa, siapa, di mana, kapan, apa dan bagaimana.
Mengapa: Menetapkan Sasaran
Hal pertama yang harus jelas dalam pikiran Anda sebagai pembicara adalah menetapkan sasaran pembicaraan. Penetapan sasaran sangat membantu dalam menentukan arah pembicaraan dan juga bermanfaat dalam memilih bahan yang sesuai dengan sasaran.
Pada umumnya sasaran pembicaraan dapat dikelompokkan berdasarkan tujuan, misalnya presentasi tugas, memimpin rapat, mengisi kajian, dan sebagainya.
Siapa: Pendengar
Meneliti apa dan siapa pendengar dapat membantu dalam menetapkan bahan yang akan disampaikan dan meyakinkan diri Anda bahwa Anda menyampaikan bahan pembicaraan kepada pendengar yang tepat.
Hal yang perlu diketahui dari sidang pendengar antara lain :
1. Berapa banyak orang yang hadir?
2. Mengapa mereka hadir di ruang tersebut?
3. Bagaimana tingkat pengetahuan yang mereka miliki atas topik pembicaraan?
4. Apa harapan mereka atas topik pembicaraan?
5. Bagaimana usia, pendidikan, dan jenis kelamin mereka?
Di Mana: Tempat dan Sarana
Penting bagi Anda untuk mengetahui dan memperhatikan tempat pembicaraan akan dilaksanakan.
Berikut ini beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi pembicara :
1. Melakukan praktek
Apabila pembicaraan dilaksanakan pada ruang yang besar dan luas, maka akan lebih baik untuk mencoba suara terlebih dahulu, sebelum betul-betul berbicara di depan sidang pendengar.
2. Mempelajari sarana yang tersedia
Sangat bermanfaat, bila Anda lebih dahulu melakukan latihan untuk dapat mengoperasikan tombol-tombol lampu, slide projector, dan OHP (Over Head Projector).
3. Meneliti gangguan yang mungkin timbul
Anda perlu mewaspadai gangguan yang mungkin timbul, misalnya pembicaraan dilakukan dekat jalan raya sehingga suaramu harus dapat mengalahkan suara kendaraan yang lewat. 4. Tata letak tempat duduk
Tata letak tempat duduk perlu diperhatikan, diatur, dipersiapkan, dan dikaitkan dengan sasaran pembicaraan.
Kapan: Waktu
Berapa lama waktu yang diperlukan dalam pembicaraan? Anda perlu memperhatikan manajemen waktu.
1. Waktu penyelenggaraan sangat mempengaruhi
Biasanya, waktu sesudah makan siang dikenal sebagai waktu ‘kuburan’. Pendengar yang sudah makan kenyang, apalagi jika makanan yang disajikan enak rasanya, akan membuat pendengar lebih tertarik untuk ‘berngantuk ria’ daripada mendengarkan pembicaraan.
2. Berapa lama waktu yang digunakan
Anda perlu memperhatikan waktu, misalnya waktu untuk pembahasan, waktu istirahat, atau waktu tanya jawab. Agar punya manajemen waktu yang baik, maka perlu latihan terlebih dulu.
3. Masalah konsentrasi
Sangat sulit bagi pendengar untuk berkonsentrasi penuh selama lebih dari 2 jam. Apalagi bila mereka merasa bahwa pembicaraan Anda tidak menarik, tidak bermanfaat, dan tidak berminat. Umumnya seseorang dapat berkonsentrasi penuh pada 20 menit di awal pembicaraan, setelah itu konsentrasi akan menurun sedikit demi sedikit.
Apa: Bahan yang Akan Digunakan
Agar sasaran pembicaraan dapat dicapai, maka persiapan bahan perlu dilakukan. Berikut ini beberapa saran dalam pemilihan bahan:
1. Menyusun dan memilih bahan
Susunlah pokok-pokok pembicaraan. Sebaiknya pada 45 menit pertama jangan terlalu banyak pokok-pokok yang akan disampaikan.
Dalam pemilihan bahan perlu diperhatikan: sasaran pembicaraan, waktu yang tersedia, pendengar, mana bahan yang harus diberikan dan bahan yang tidak perlu diberikan.
2. Gunakan contoh
Sederhanakan informasi yang sulit dan kompleks. Gunakan juga contoh-contoh yang benar-benar terjadi dan kaitkan dengan pokok-pokok yang ingin disampaikan.
3. Membuka dan menutup pembicaraan
Dalam membuka pembicaraan perlu dirancang agar dapat menimbulkan minat pendengar, dapat menimbulkan rasa butuh dari pendengar, dapat menjelaskan garis besar dan sasaran pembicaraan. Dalam menutup pembicaraan, Anda harus dapat menyimpulkan hal-hal yang telah dibicarakan.
4. Membuat catatan-catatan apa yang ingin dibicarakan.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengingat urut-urutan dalam pembicaraan adalah membuat catatan tertulis dengan menggunakan kartu-kartu atau kertas kecil. Hal yang dituliskan dalam kartu sebaiknya kata-kata kunci saja dan waktu yang digunakan untuk membicarakan apa yang tertulis di setiap kartu.
Bagaimana: Teknik Penyampaian
Penggunaan kata merupakan basis komunikasi, tetapi dalam kenyataannya keberhasilan dalam pembicaraan tidak hanya ditentukan dari penggunaan kata saja, tetapi justru penggunaan nonkata. Bicara di depan umum yang berhasil seharusnya memenuhi persentase kontribusi sebagai berikut :
7%: penggunaan kata
38%: penggunaan nada dan suara
55%: penggunaan ekspresi muka, bahasa tubuh, dan gerakan tubuh
1. Pemilihan kata
Kata-kata yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan taraf pendengar, begitu juga penggunaan istilah. Sadari bahwa penggunaan kata-kata yang tidak tepat akan menimbulkan masalah.
2. Teknik penyampaian berita
Tidak banyak orang yang mampu menyampaikan berita dengan efektif. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyampaikan berita, antara lain:
Gunakan ekspresi dan intonasi yang tepat.
Diam sejenak untuk membantu peserta agar dapat mencerna materi yang sudah diterima.
Bicara dengan jelas dan teratur.
Bicara dengan volume memadai.
3. Bahasa tubuh
Di samping penyampaian dengan menggunakan kata, maka kesuksesan dalam pembicaraan justru bergantung pada hal yang non kata, seperti: gerakan tubuh, tangan, kontak mata, cara berdiri, dan ekspresi muka. Jangan terpaku di satu tempat seperti patung atau sibuk membaca catatan.
Berikut ini beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut, antara lain :
1. Tatap mata pendengar
Kontak mata pembicara adalah vital untuk mengetahui apakah pendengar mengantuk, bosan, tidak paham, atau nampak tidak tertarik serta untuk mempertahankan minat pendengar atas apa yang Anda sampaikan.
2. Senyum
Manfaat dari tersenyum adalah mengendorkan ketegangan.
3. Hindari membuat jarak
Anda perlu mendekatkan diri dengan pendengar. Kalau Anda bicara di depan kelas yang pesertanya duduk, Anda bisa jalan-jalan di antara meja mereka. Berdiri di belakang meja atau di belakang papan tulis akan menciptakan jarak dengan pendengar.
4. Berdirilah yang tegak tapi tidak kaku
Berdiri tegak dan kaku, dapat menciptakan ketegangan.
5. Sadari kecenderungan untuk jadi pusat perhatian
Ini tidak berarti pembicara harus berdiri dengan kaku, tapi gerakan-gerakan tangan perlu ada untuk yang ingin disampaikan. Hindari berlebihan menggunakan gerakan, hindari juga mengulang kata-kata yang sama.
6. Berusahalah sewajar mungkin
Agar bisa bertingkah laku secara wajar, berhentilah untuk mencemaskan diri sendiri. Cara yang efektif untuk bisa menjadi wajar adalah dengan latihan bicara di depan kamera sehingga pembicara dapat melihat diri sendiri atau bicara di depan teman-teman.
Meningkatkan Kualitas
Banyak cara yang dapat digunakan dalam rangka menghidupkan suasana pembicaraan, apalagi bila waktu bicara cukup panjang. Beberapa cara yang dapat Anda gunakan antara lain:
1. Partisipasi sidang pendengar
Metode diskusi kelompok, dengan cara membagi pendengar menjadi kelompok-kelompok kecil dan kemudian setiap kelompok kecil diberi tugas, pertanyaan, atau kuis kemudian diminta mempresentasikan jawabannya di depan pendengar yang lain akan meningkatkan partisipasi pendengar dan menghidupkan suasana.
2. Sesi untuk tanya jawab
Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan dapat menguji apakah materi sudah dapat ditangkap dengan baik oleh pendengar.
3. Antusiasme
Tunjukkan antusiasme pembicara sewaktu menyampaikan materi.
4. Situasi yang menyenangkan
Ciptakan situasi yang menyenangkan dan tidak menegangkan/mengancam.
5. Pendengar yang ‘sulit’
Tidak seluruh pendengar adalah pendengar yang kooperatif dan positif, mungkin saja ada peserta yang ‘sulit’. Sebaiknya, jangan menimbulkan pertentangan langsung dengan peserta tersebut atau mempermalukannya di depan peserta lain.
6. Gunakan alat bantu
Alat bantu dapat mendukung pembicara dalam menyampaikan gagasan atau berita. Tiga kelompok alat bantu yang dapat mendukung pembicaraan adalah menstimuli: Visual, Hearing dan Feeling (VHF).
Visual : papan tulis, OHP, video
Hearing – efek suara
Feeling – makalah/hand out
Nah, itu tadi beberapa kiat agar Anda bisa jadi pembicara yang efektif di depan umum. Sekarang, tinggal Anda mau melatih diri Anda atau tidak. Teori di atas nggak berguna kalo Anda nggak melatih diri Anda. Seseorang dapat menjadi pembicara yang handal karena banyak berlatih, kata-kata bijak mengatakan: bisa karena biasa. Selamat mencoba , semoga berhasil menjadi pembicara di depan umum!
10 cara untuk lebih baik berbicara di depan umum.
Dapatkah Anda berdiri di depan khalayak luas dan mengekspresikan diri Anda? Kebanyakan dari kita memiliki kupu-kupu dalam perut kita dengan sangat memikirkan melakukan hal ini. Selain beberapa yang memiliki bakat alami untuk menghubungkan dengan orang lain atau mempunyai beberapa orang yang benar-benar bisa mengajar mereka untuk berkomunikasi, hanya sedikit dari kita mendapatkan hasil terbaik yang bisa dari alat komunikasi yang indah bahwa kita diberikan dengan kebanyakan dari kita berada dalam mengerikan perlu untuk meningkatkan keterampilan berbicara di depan umum.
Kita semua memiliki orang-orang dengan siapa kita harus bekerja untuk menyelesaikan sesuatu. Kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan klien, pelanggan, bawahan, sejawat, dan atasan dapat meningkatkan efektivitas kita atau sabotase kami. Banyak kali, keterampilan berbicara di depan umum kami membuat perbedaan.
Berikut adalah 10 cara untuk meningkatkan berbicara di depan umum:
1. Cara pertama untuk meningkatkan berbicara di depan umum adalah dengan mengembangkan suara Anda. Suara merengek tinggi tidak dianggap sebagai salah satu otoritas. Bahkan, suara lembut yang tinggi dapat membuat Anda terdengar seperti mangsa yang agresif rekan kerja yang keluar untuk membuat / karirnya dengan mengorbankan orang lain. Mulai melakukan latihan untuk menurunkan nada suara Anda.
2. Cara kedua lebih baik berbicara di depan umum adalah berbicara pelan. Orang-orang akan melihat Anda sebagai gugup dan tidak yakin pada diri sendiri jika Anda berbicara cepat. Namun, berhati-hatilah untuk tidak melambat ke titik di mana orang mulai menyelesaikan kalimat Anda hanya untuk membantu Anda menyelesaikan.
3. Cara ketiga yang lebih baik berbicara di depan umum adalah untuk menghidupkan suara Anda. Menghindari monoton. Gunakan dinamika. Pitch Anda harus menaikkan dan menurunkan. Anda harus volume lunak dan keras. Mendengarkan pembaca berita TV lokal; take note.
4. Keempat cara berbicara di depan umum lebih baik mengucapkan kata-kata Anda. Berbicara dengan jelas. Jangan menggumam. Jika orang selalu berkata, "hah? "kepada Anda, Anda bergumam.
5. Kelima cara yang lebih baik berbicara di depan umum adalah dengan menggunakan volume yang sesuai. Gunakan volume yang sesuai untuk pengaturan. Berbicara lebih pelan saat Anda sedang sendirian dan dekat. Bicaralah lebih keras ketika Anda berbicara dengan kelompok yang lebih besar atau di ruang yang lebih besar.
6. Keenam cara untuk lebih baik berbicara di depan umum adalah dengan mengucapkan setiap kata dengan benar. Orang akan menilai kompetensi Anda melalui kosakata Anda. Jika Anda tidak yakin bagaimana cara mengucapkan sepatah kata, jangan menggunakannya.
7. Ketujuh cara untuk berbicara di depan umum yang lebih baik adalah dengan menggunakan kata yang tepat. Jika Anda tidak yakin mengenai arti dari sebuah kata, jangan menggunakannya. Memulai program belajar kata baru setiap hari. Gunakan kadang dalam percakapan Anda di siang hari
8. Kedelapan cara berbicara di depan umum yang lebih baik adalah dengan membuat kontak mata dengan orang yang Anda ajak bicara.
9. Kesembilan cara untuk berbicara di depan publik yang lebih baik adalah dengan menggunakan bahasa tubuh saat Anda berbicara Buatlah seluruh tubuh Anda bicara. Gunakan bahasa tubuh yang lebih kecil untuk individu dan kelompok-kelompok kecil. Gerak tubuh harus lebih besar sebagai kelompok yang satu ini berbicara peningkatan ukuran.
10. Terakhir namun tidak sedikit, kesepuluh cara untuk berbicara di depan publik yang lebih baik adalah dengan tidak mengirimkan pesan yang membingungkan. Buat kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah, nada, dan pesan yang cocok. Mendisiplinkan seorang karyawan sambil tersenyum mengirim pesan campuran dan, karenanya, tidak efektif. Jika Anda harus menyampaikan pesan negatif, membuat kata-kata, ekspresi wajah dan nada cocok dengan pesan.
Public speaking adalah seni, yang dapat dikembangkan dengan latihan. Anda dapat menarik perhatian ribuan penonton jika mempunyai keterampilan berbicara di depan umum. Bukan hanya ketika menangani audiens yang besar, Anda dapat membuat pembicaraan Anda menyenangkan untuk semua orang dengan meningkatkan kemampuan Anda berbicara di depan umum.