Uji Parameter Kualitas Air
Uji Parameter Kualitas Air
3.3.4.4 pH (Bagian Pane)
Kadar pH pada suatu perairan dapat diketahui dengan cara memeriksanya menggunakan alat sederhana seperti multichecker. Pada praktikum kali ini, alat yang dihgunakan adalah multichecker. Prosedur pertama ambil air sampel pada botol BOD kemudian tuangkan ke dalam gelas piala,kemudian prosedur kedua setting alat, kemudian membilas probe yang terdapat pada alat tersebut dengan aquades. Selanjutnya masukkan probe yang telah dibilas tersebut kedalam air sampel yang telah disediakan. Kemudian catatlah hasil yang terlihat pada layar. Kemudian kembalikan settingan alat menjadi seperti semula. Bagan alir prosedur pengukuran pH dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Analisa Data
II.1 pH (Bagian Pane)
Untuk mengetahui besarnya kandungan pH suatu perairan dapat diketahui dengan menggunakan alat ukur yang ada seperti multichecker.
Hasil dan Pembahasan
pH :
Under gravel pasir : W0 : 7,05
W1 : 7,45
W2 :7,65
Under gravel zeolit: W0 :7,06
W1 :7,46
W2 : 7,69
Kontrol : -
Anak Mayor :W0 :-
W1 :-
W2 :-
Interpretasi pH
Dari hasil data yang didapatkan dapat dijelaskan bahwa kadar pH di aquarium pasir pada minggu ke-0 sebesar 7,05; kemudian pada minggu ke-1 sebesar 7,45; dan minggu ke-2 sebesar 7,65. Pada aquarium zeolit didapatkan pH pada minggu ke-0 sebesar 7,06; kemudian minggu ke-1 sebesar 7,46; dan minggu ke-2 sebesar 7,69
(paragraph pengantar pH bagian pane)
Untuk pengukuran parameter pH dilakukan pengukuran selama 2 minggu pengukuran ini dilakukan pada 2 buah aquarium dengan dasar yang berbeda. Pada aquarium yang pertama menggunakan dasar pasir, sedangkan aquarium kedua menggunakan dasar zeolit.Dari pengukuran selama 2 minggu didapatkan bahwa pH di kedua aquarium ini berada diatas angka 7 semua atau dapat dikatakan kedua aquarium ini berada dalam keadaan basa. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengukuran menggunakan alat multichecker.
(dibawah paragraf ada grafik pH bagian pane)
Untuk pengukuran pH dilakukan setiap hari, yang mana pengukuran ini dilakukan 2 kali setiap hari, yang kemudian akan dirata-ratakan untuk tiap minggu nya. Namun dalam kenyataannya banyak praktikan yang tidak bisa hadir sehingga pengukuran pH yang dilakukan tidak semaksimal mungkin. Hasil pengukuran pH ini dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Minggu Pasir Zeolit
W0 7.05 7.06
W1 7.45 7.46
W2 7.65 7.69
Grafik ke-1. Grafik yang menunjukkan tingkat konsentrasi pH tiap sistem filtrasi berdasarkan pengukuran periode mingguan.
II.1 Pembahasan
Berdasarkan pengukuran pH
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik tumbuhan maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Nilai pH juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produktifitas perairan (Pescod, 1973). Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971). Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik.
Dimana apabila jumlah CO2 yang meningkat akan mengakibatkan PH perairan semakin asam, O2 kan terun dan pada kondisi seperti ini maka Jumlah amonia akan semakin meningkat disebabkan bakteri nitrifikasi akan berhenti bekerja karna kekurangan O2 dan digantikan dengan aktifnya bakteri heterotrof yang menjadikan amonia semakin berbahaya.Inilah mengapa sering kita temui ikan-ikan yang memiliki kumis (sungut) seperti lele, gabus, toman, dll pada perairan yang PH nya dibawah 7 (bersifat asam) , ikan ikan ini memiliki alat pernafasan tambahan sebab pada perairan yang bersifat asm sudah barang tentu O2 yang terlarut didalmnya kecil. Nmaun tetap saja kisaran PH harus tetap pada batasnya karna PH termasul limiting factor dalam sebuah ekosistem perairan. Nilai pH yang rendah mengindikasikan bahwa perairan asam, sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Kedua kondisi ini tidak baik untuk kegiatan budidaya. Perubahan pH secara mendadak ditandai dengan berenangnya ikan sangat cepat. Bila terjadi penurunan pH secara terus-menerus, akan keluar lendir yang berlebihan atau iritasi kulit sehingga ikan akan mudah diserang penyakit. Kondisi yang baik untuk ukuran keasaman perairan budidaya berada pada kisaran pH 6 —8 (R. Eko Prihartono, 2004). pH atau kadar keasamaan air yang baik untuk budidaya lobster air tawar adalah berada pada angka 6 sampai 8. (lihat gambar skala pH berikut). Kadar keasaman ini dapat dijaga dengan total alkanitas, jumlah plankton yang tidak berlebihan dan kebersihan dari das.
Dari pengamatan yang ada,hasil pengukuran pH merupakan hasil rata-rata mingguan dari pengukuran yang dilakukan selama tiap hari. Hasil pengukuran dan perhitungan menunjukkan tingkat konsentrasi pH pada minggu ke-0, minggu ke-1 dan minggu ke-2 berturut-turut. Pada praktikum kali ini akan meneliti derajat pH pada jenis aquarium yang berbeda yang mana akan terbagi menjadi 2 jenis aquarium dengan under gravel yang berbeda antara lain aquarium dengan under gravel pasir dan aquarium dengan under gravel zeolit pada under gravel pasir pH yang didapatkan sebesar 7,05, 7,45, dan 7,65; sedangkan pada aquarium dengan under gravel zeolit memiliki derajat pH sebesar 7,06,7,46, dan 7,69. Dari hasil kedua aquarium tersebut, jika dibandingkan dengan kontrol sebesar xxx, menunjukkan bahwa tingkat pH di akuarium memenuhi syarat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa akuarium dalam kondisi aman untuk budidaya dan (perlu/tidak memerlukan) penanganan khusus. Penanganan khusus yang dapat dilakukan berupa penggunaan beberapa macam reaksi antara lain reaksi asam-basa konjugasi, yaitu Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain. Larutan penyangga yang sedangkan pH yang tinggi mengindikasikan perairan basa. Larutan penyangga yang bersifat basa Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7). Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebihi. Secara pH parameter ntuk kehidupan ikan-ikan tersebut adalah 6,5-8,4 (Asdak, 2007).
Daftar Pustaka
Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company. Philadelphia, London.
Odum E. P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Yogayakarta. Gajah Mada University press.
Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standard for Tropical Countries. AIT, London.
www. R. Eko Prihartono.blogspot@yahoo.com. Diakses pada Sabtu,12 Desember 2009
http://rainadpa.blogspot.com/2010/01/derajat-keasaman-ph-sebagai-parameter.html
http://singgih.jigsy.com/entries/general/ph-pada-perairan-budidaya
Lampiran 4. Hasil perhitungan pH
Pengambilan nilai pH menggunakan alat Multichecker
Minggu Pasir Zeolit
W0 7.05 7.06
W1 7.45 7.46
W2 7.65 7.69