Kesadaran diri
Kesadaran diri
Kesuksesan dan kebahagiaan orang tidak dapat dilepaskan dari kondisi kejiwaan seseorang. Kondisi kejiwaan (psikologi) berperan penting dalam penempatan diri dan pengkondisian jiwa dalam kendaraan yang dinamakan “usaha” dan “kerja keras”. Kendaraan itulah perangkat seseorang menuju “kebahagiaan”.
Pada Bab ini penulis menyebutkan 10 tingkatan kesadaran manusia yang di…. Melalui disiplin ilmu kesiswaan. Tingkatan itu meliputi
1. Shane/ malu : sebuah tingkatan di atas kematian. Orang pada tingkatan ini biasanya mudah merencanakan bunuh diri dan membenci diri sendiri.
2. Mboh/ rasa bersalah : setingkat di atas rasa malu tapi masih ada usaha untuk bunuh diri. Orang pada tingkat ini selalu memposisikan diri sebagai orang yang bersalah dan tidak dapat memaklumi pelanggaran dirinya di masa lamapau.
3. Apathy/ apatis
Perasaan tak ada harapan dan merasa jadi korban. Mboh pula perasaan tak ada yang menolong satupun. Biasanya menghinggapi orang-orang mboh yang tak punya rumah.
4. Mboh/ Sedih:
Suatu rasa sedih dan lepas. Pada umumnya pada orang yang baru saja kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya.
5. Fear/ takut:
Memandang dunia sekitarnya sebagai suatu yang menakutkan. Kadang paranoid. Pada umumnya penderita memerlukan orang lain untuk kembali percaya padanya. Atau bisa pula terjadi penyalahgunaan hubungan pertemanan karena faktor paranoidnya.
6. Desire/ hasrat:
Tidak terlalu fokus pada pencapaian tujuan. Inilah tingkat yang lebih berorientasi pada rasa ketergantungan, rasa rindu dan nafsu birahi.
7. Anger/ marah:
Tingkat rustrasi yang diawali dengan tidak terpenuhinya hasrat pada tingkat sebelumnya. Tingkat ini akan mendorong seseorang pada level diatasnya atau memperosokkanya pada level jauh dibawahnya.
8. Caurage/ berani: inilah tingkat pertama yang disebut true strength. Keberanian adalah pintu disinilah manusia mulai dapat melihat kehidupan sebagai suatu kesempatan yang menyenangkan dan berusaha untuk menundukannya. Ada kecenderungan orang pada tingkat ini menyenangi pengembangan personal dengan melatih berbagai ketrampilan. Peningkatan karir dan pendidikan. Pada level ini orang akan mulai melihat masa depan sebagai peningkatan masa lalu. Lebih dari sekedar meneruskan dan menjalani apa yang ada seperti biasanya.
9. Netral : pada level ini orang akan mengatakan hidup seperti biasa saja. Orang pada levelini lebih bersikap rilek dan tak terlalu dekat dengan orang lain. Apapun yang terjadi danggal sebagai suatu hal yang biasa. Tak membutuhkan adanya pembuktian. Pada umumnya hal ini terjadi pada para pekerja mandiri mereka lebih menjaga diri dan jarang berusaha bekerja lebih keras.
10. Harapan
Pada level ini orang akan memiliki visi kedepanya. Cita-cita adalah energi yang menggerakkan aktivitasnya dalam menuju cita-cita itu. orang pada leve ini akan mulai merintis kerja kerasnya.
Penerimaan:
Ini adalah tingkatan kebahagiaan pertama. Disinilah mereka mulai menghargai kerja keras dan mensyukuri atas apa yang telah mereka usahakan selama ini. Rasa penerimaan itulah yang menjadi sumber kebahagiaan awal orang pada level ini.
Pemikiran/ alasan
Adanya penerimaan atas diri dan sikap penghargaa terhadap diri memacu kesadaran dalam menyelami arti hidup. Memiki atas apa yang ia perlukan dalam menuju kebahagiaan yang abadi dan mulai membuang setiap beban yang menghalangi langkah mereka kedepan.
Cinta:
Mulai bekerjanya kesadaran dan pemikiran memicu emosi bekerja. Emosi disini adalah selubung pelindung kerja fikir. Emosi itu berupa kasih sayang, suka dan cinta. Cinta membuat orang senantiasa mempertahankan kebahagiaan yang telah orang ini raih. Pemeliharaan dan penyelarasan adalah hal yang dilakukan orang-orang itu.
Gembira
Kadih sayang yang berdampak terjaganya kebahagiaan membuat orang merasa senang. Sebuah puncak tertinggi atas usaha selama telah berbuah manis dan mereka nikmati dengan lahap. Tingkatan rasa yang terasa secara baru menciptakan letupan keceriaan yang membuat hidup di dunia ini indah.
Damai:
Indahnya dunia membuat cakrawala fikir dan jiwa. Jalan terjal yang harus mereka lalui menuju puncak kebahagiaan membuahkan pelajaran dan esensi hidup. Kebahagiaan adalah keselarasan antara tubuh, jiwa dan alam. Tubuh menyediakan pagar pelindung kehidupan. Jiwa yang senantiasa mengarahkan hidup pada jalan lurus. Dan alam sebagai teman penjaga bagi keberlangsungan hidup bahagia.
Pencerahan:
Pada tingkatan ini adalah tingkat akhir dari kesadaran. Kesadaran adalah ketidaksadaran itu sendiri. Batas antara yang nyata dan fana tipis adanya. Keintiman tiga komponen yang telah diraih pada level sebelumnya dengan “sesuatu yang anda tahu apa itu” adalah sebenar benarnya bahagia. Bahagia yang murni. Bukan tentang ceria, tawa, gembira atau senang. Bahagia adalah rasa sekaligus mboh.
Itulah tingkatan kesadaran manusia. Beberapa saran yang diberikan penulis dalam mencapai tingkatan-tingkatan kesadaran itu adalah:
Mboh positif pada tubuh: sendiri tanpa diketahui rasa amarah. Tegar dan yakinlah untuk menapak keatas tangga kesadaran diri.
Tulis semua kebijakan/ keberhasilan anda dalam menanggapi permasalahan “penyakit” diri.
Jangan pernah menyerah ketika berkubang pada dalam keterpurukan. Yakinlah Tuhan telah mengatus jalan terbaik bagi hamba_Nya.
Kesuksesan dan kebahagiaan orang tidak dapat dilepaskan dari kondisi kejiwaan seseorang. Kondisi kejiwaan (psikologi) berperan penting dalam penempatan diri dan pengkondisian jiwa dalam kendaraan yang dinamakan “usaha” dan “kerja keras”. Kendaraan itulah perangkat seseorang menuju “kebahagiaan”.
Pada Bab ini penulis menyebutkan 10 tingkatan kesadaran manusia yang di…. Melalui disiplin ilmu kesiswaan. Tingkatan itu meliputi
1. Shane/ malu : sebuah tingkatan di atas kematian. Orang pada tingkatan ini biasanya mudah merencanakan bunuh diri dan membenci diri sendiri.
2. Mboh/ rasa bersalah : setingkat di atas rasa malu tapi masih ada usaha untuk bunuh diri. Orang pada tingkat ini selalu memposisikan diri sebagai orang yang bersalah dan tidak dapat memaklumi pelanggaran dirinya di masa lamapau.
3. Apathy/ apatis
Perasaan tak ada harapan dan merasa jadi korban. Mboh pula perasaan tak ada yang menolong satupun. Biasanya menghinggapi orang-orang mboh yang tak punya rumah.
4. Mboh/ Sedih:
Suatu rasa sedih dan lepas. Pada umumnya pada orang yang baru saja kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintainya.
5. Fear/ takut:
Memandang dunia sekitarnya sebagai suatu yang menakutkan. Kadang paranoid. Pada umumnya penderita memerlukan orang lain untuk kembali percaya padanya. Atau bisa pula terjadi penyalahgunaan hubungan pertemanan karena faktor paranoidnya.
6. Desire/ hasrat:
Tidak terlalu fokus pada pencapaian tujuan. Inilah tingkat yang lebih berorientasi pada rasa ketergantungan, rasa rindu dan nafsu birahi.
7. Anger/ marah:
Tingkat rustrasi yang diawali dengan tidak terpenuhinya hasrat pada tingkat sebelumnya. Tingkat ini akan mendorong seseorang pada level diatasnya atau memperosokkanya pada level jauh dibawahnya.
8. Caurage/ berani: inilah tingkat pertama yang disebut true strength. Keberanian adalah pintu disinilah manusia mulai dapat melihat kehidupan sebagai suatu kesempatan yang menyenangkan dan berusaha untuk menundukannya. Ada kecenderungan orang pada tingkat ini menyenangi pengembangan personal dengan melatih berbagai ketrampilan. Peningkatan karir dan pendidikan. Pada level ini orang akan mulai melihat masa depan sebagai peningkatan masa lalu. Lebih dari sekedar meneruskan dan menjalani apa yang ada seperti biasanya.
9. Netral : pada level ini orang akan mengatakan hidup seperti biasa saja. Orang pada levelini lebih bersikap rilek dan tak terlalu dekat dengan orang lain. Apapun yang terjadi danggal sebagai suatu hal yang biasa. Tak membutuhkan adanya pembuktian. Pada umumnya hal ini terjadi pada para pekerja mandiri mereka lebih menjaga diri dan jarang berusaha bekerja lebih keras.
10. Harapan
Pada level ini orang akan memiliki visi kedepanya. Cita-cita adalah energi yang menggerakkan aktivitasnya dalam menuju cita-cita itu. orang pada leve ini akan mulai merintis kerja kerasnya.
Penerimaan:
Ini adalah tingkatan kebahagiaan pertama. Disinilah mereka mulai menghargai kerja keras dan mensyukuri atas apa yang telah mereka usahakan selama ini. Rasa penerimaan itulah yang menjadi sumber kebahagiaan awal orang pada level ini.
Pemikiran/ alasan
Adanya penerimaan atas diri dan sikap penghargaa terhadap diri memacu kesadaran dalam menyelami arti hidup. Memiki atas apa yang ia perlukan dalam menuju kebahagiaan yang abadi dan mulai membuang setiap beban yang menghalangi langkah mereka kedepan.
Cinta:
Mulai bekerjanya kesadaran dan pemikiran memicu emosi bekerja. Emosi disini adalah selubung pelindung kerja fikir. Emosi itu berupa kasih sayang, suka dan cinta. Cinta membuat orang senantiasa mempertahankan kebahagiaan yang telah orang ini raih. Pemeliharaan dan penyelarasan adalah hal yang dilakukan orang-orang itu.
Gembira
Kadih sayang yang berdampak terjaganya kebahagiaan membuat orang merasa senang. Sebuah puncak tertinggi atas usaha selama telah berbuah manis dan mereka nikmati dengan lahap. Tingkatan rasa yang terasa secara baru menciptakan letupan keceriaan yang membuat hidup di dunia ini indah.
Damai:
Indahnya dunia membuat cakrawala fikir dan jiwa. Jalan terjal yang harus mereka lalui menuju puncak kebahagiaan membuahkan pelajaran dan esensi hidup. Kebahagiaan adalah keselarasan antara tubuh, jiwa dan alam. Tubuh menyediakan pagar pelindung kehidupan. Jiwa yang senantiasa mengarahkan hidup pada jalan lurus. Dan alam sebagai teman penjaga bagi keberlangsungan hidup bahagia.
Pencerahan:
Pada tingkatan ini adalah tingkat akhir dari kesadaran. Kesadaran adalah ketidaksadaran itu sendiri. Batas antara yang nyata dan fana tipis adanya. Keintiman tiga komponen yang telah diraih pada level sebelumnya dengan “sesuatu yang anda tahu apa itu” adalah sebenar benarnya bahagia. Bahagia yang murni. Bukan tentang ceria, tawa, gembira atau senang. Bahagia adalah rasa sekaligus mboh.
Itulah tingkatan kesadaran manusia. Beberapa saran yang diberikan penulis dalam mencapai tingkatan-tingkatan kesadaran itu adalah:
Mboh positif pada tubuh: sendiri tanpa diketahui rasa amarah. Tegar dan yakinlah untuk menapak keatas tangga kesadaran diri.
Tulis semua kebijakan/ keberhasilan anda dalam menanggapi permasalahan “penyakit” diri.
Jangan pernah menyerah ketika berkubang pada dalam keterpurukan. Yakinlah Tuhan telah mengatus jalan terbaik bagi hamba_Nya.
Komentar