Cikal Bakal Agnostik
Tulisan ini masih berkaitan dengan pembahasan wajah baru Atheis (agnostik) namun lebih mengkoreksi jauh kebelakang rentetan kemunculannya terutama dari paham liberal.
[4 an-Nissa 150] Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
Al-Qur'an sudah mengisyaratkan akan adanya golongan yang berupaya menyeru kepada jalan kebaikan yang dengan itu mereka merasa dapat berdiri diatas semua agama. Orientasinya jelas menanggalkan agama karena agama dianggap abusrt (mustahil/omong kosong/tidak masuk akal), dan pluralisme yang mereka dengungkan sebagai satu-satunya jalan tengah mengakhiri konflik sosial yang menurutnya timbul dari keagamaan.
[2 Al-Baqarah 204]. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.
Pada bahasan kali ini saya tidak akan membahas mereka (agnostik) atau mencirikannya, namun yang paling penting adalah memahami orientasi diri agar terhindar dari pemikiran semacam itu dengan melihat gejala-gejala yang nampak terutama lahir dari sekulerisme.
Pemikiran sekuler yang didasari dari sebab pertama (material cause) pada dasarnya pijakan dasar bagi setiap insan dalam memahami segala sesuatu dimana segala sesuatu sudah terwujud (serba ada). Apabila pengamatan awal ini tidak mampu membawa kita pada pemahaman lebih lanjut dimana semua yang tercipta pastilah ada maksud dan tujuan, susahlah memahami akan hubungan sebab-akibat.
Inilah yang saya katakan lahirnya pola pikir tidak lepas dari objek pikir dan objek pikir itu sendiri dapat kita ambil sebagai objek pembelajaran yang seharusnya memerlukan arahan/orientasi. Namun tanpa iman yang akan memperkenalkan kepada sang Pencipta (Khaliq)nya dan memahami kehendakNYA atas semua mahluk tidak lain hanya akan berputar-putar pada permasalahan yang sama tanpa arahan pasti. Maka sama saja visi tanpa misi.
Pada dasarnya Alloh swt menjadikan diriNYA sebagai objek berpikir yang bukan objek (kebendaan) agar orang dapat mengambil pelajaran dan mereflesikan arahanNYA pada tindakan yang terpuji sebagaimana yang dikehendakiNYA melalui nama, sifat dan perbuatanNYA. Disinilah keindahanNYA yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, yang akan menjadikan takjub para pencariNYA, dengan memahami tanda-tanda kebesaranNYA. Apabila segala hasrat diri masih terpaku pada kebendaan maka terhalanglah diri dari mengenalNYA. Dengan demikian arahanNYA tidak lain untuk membebaskan diri dari keterbatasan yang ada, dengan terikat pada perintah RosulNYA.
Pantaskah bagi seseorang mengkoreksi Yang Maha Sempurna bukan dirinya dengan segala keterbatasan?
Pahamilah urutannya antara sebab-akibat secara tartil/terperinci dari yang mudah dan dekat yaitu diri sendiri, apa yang kita katakan sebagai sebab pertama bukanlah pertama melainkan objek pikir awal saja. Mana mungkin setelah semua ada yang disebut fakta yang tidak lain adalah akibat bisa dikatakan sebab awal, sedangkan DIA sebab awal sebelum semua bentuk ada (makhluk tercipta). Dan bagaimana dapat berpikir tanpa terbentur oleh objek yang ada namun juga tanpa mengabaikan jejak yang ada.
Begitu juga Alloh swt menciptakan hewan dan segala sesuatunya tidak terlepas dari karakter, dan untuk mengenalkan karakter tersebut dengan perumpamaan, dan dengan perumpamaan itu kita mengenal hakikat/falsafah. Apabila kita cukup sensitif dan memahami sebagai sindiran yang halus tentunya kita dapat mengambil pelajaran.
Pada dasarnya objek penuntun sangat kita perlukan namun pahamilah mana perantara dan mana tujuan sesungguhnya, agar kita memahami betul akan Alloh swt yang mengajari kita dengan perantara Kalam, tanpa terbentur pada objek tertentu dimana kesalahan berpikir banyak dialami pemikir terdahulu tapi masih lestari dikarenakan banyak yang sepaham dan lupa menggali maksud sesungguhnya. Begitu juga agama samawi terdekat (Nasrani) tidak bisa meninggalkan paham trinitas atau tritunggalnya.
Ketika kehendak kita mulai mengarah pada apa yang mereka pahami maka dengan sendirinya kita akan membenarkan pemikiran mereka. Ketika pemikiran ini menjadi dominan dimasyarakat susahlah kita keluar dari lingkaran ini. Manakala ada sedikit kesadaran yang menggugatnya maka akan ditelan habis oleh suara mayoritas. Dan pahamilah orientasi secara menyeluruh dengan segenap kewaspadaan, jangan sampai terjerumus pada lubang yang sama.
[6 Al-Anam 116] Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
Adalah suatu perjalanan perenungan yang cukup panjang untuk memahami hal ini, yang tidak bisa dicapai hanya dengan mengecap hasil telaah saja, tanpa mengetahui latar belakang dan orientasinya serta upaya-upaya yang harus ditempuh. Dan diperlukan kesadaran yang tinggi untuk memahami keterbatasan diri, sehingga dengan kesadaran itu dapat merasakan betul perlunya visiNYA yaitu cahaya yang menyingkap kebodohan. Bagaimana mungkin bisa lepas diri dariNYA sedangkan DIA Maha Tahu segala sesuatu dan tempat bergantung segala sesuatu.
Al-Qur'an adalah visi yang jelas yang akan menghantarkan kita pada kecerlangan berpikir, dan untuk memahami bahasanya diperlukan adanya tahapan dan pandangan yang luas. Agar tahapan terwujud tentulah diperlukan adanya kesadaran untuk selalu terikat baik jasmani maupun rohaninya agar tidak terjebak pada hal-hal yang masih relatif karena lemahnya pendirian/keteguhan iman. Dan Islam sudah menggariskannya dengan indah. Dan tidak lain kesemuanya mengacu kepada kehendakNYA yang seharusnya menjadikan semua patuh (totalitas pasrah mengikuti arahanNYA).
[5 A L - M A A I D A H 41] Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.
[66 A T T A H R I M 8] Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Point penting dari pembahasan kali ini adalah ketika kita kehilangan arah yang secara tidak sadar telah searah dengan pemikiran orang kafir maka dengan sendirinya kita terjerumus pada pembenaran apa yang mereka pahami. Disinilah pentingnya mengetahui misi hidup daripada mengartikan visi-NYA, misi itu tidak lain adalah kehendak yang diarahkan/dimenej/diatur/diikat secara teratur dan menyeluruh menuju kehendakNYA.
[4 an-Nissa 150] Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.
Al-Qur'an sudah mengisyaratkan akan adanya golongan yang berupaya menyeru kepada jalan kebaikan yang dengan itu mereka merasa dapat berdiri diatas semua agama. Orientasinya jelas menanggalkan agama karena agama dianggap abusrt (mustahil/omong kosong/tidak masuk akal), dan pluralisme yang mereka dengungkan sebagai satu-satunya jalan tengah mengakhiri konflik sosial yang menurutnya timbul dari keagamaan.
[2 Al-Baqarah 204]. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.
Pada bahasan kali ini saya tidak akan membahas mereka (agnostik) atau mencirikannya, namun yang paling penting adalah memahami orientasi diri agar terhindar dari pemikiran semacam itu dengan melihat gejala-gejala yang nampak terutama lahir dari sekulerisme.
Pemikiran sekuler yang didasari dari sebab pertama (material cause) pada dasarnya pijakan dasar bagi setiap insan dalam memahami segala sesuatu dimana segala sesuatu sudah terwujud (serba ada). Apabila pengamatan awal ini tidak mampu membawa kita pada pemahaman lebih lanjut dimana semua yang tercipta pastilah ada maksud dan tujuan, susahlah memahami akan hubungan sebab-akibat.
Inilah yang saya katakan lahirnya pola pikir tidak lepas dari objek pikir dan objek pikir itu sendiri dapat kita ambil sebagai objek pembelajaran yang seharusnya memerlukan arahan/orientasi. Namun tanpa iman yang akan memperkenalkan kepada sang Pencipta (Khaliq)nya dan memahami kehendakNYA atas semua mahluk tidak lain hanya akan berputar-putar pada permasalahan yang sama tanpa arahan pasti. Maka sama saja visi tanpa misi.
Pada dasarnya Alloh swt menjadikan diriNYA sebagai objek berpikir yang bukan objek (kebendaan) agar orang dapat mengambil pelajaran dan mereflesikan arahanNYA pada tindakan yang terpuji sebagaimana yang dikehendakiNYA melalui nama, sifat dan perbuatanNYA. Disinilah keindahanNYA yang tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, yang akan menjadikan takjub para pencariNYA, dengan memahami tanda-tanda kebesaranNYA. Apabila segala hasrat diri masih terpaku pada kebendaan maka terhalanglah diri dari mengenalNYA. Dengan demikian arahanNYA tidak lain untuk membebaskan diri dari keterbatasan yang ada, dengan terikat pada perintah RosulNYA.
Pantaskah bagi seseorang mengkoreksi Yang Maha Sempurna bukan dirinya dengan segala keterbatasan?
Pahamilah urutannya antara sebab-akibat secara tartil/terperinci dari yang mudah dan dekat yaitu diri sendiri, apa yang kita katakan sebagai sebab pertama bukanlah pertama melainkan objek pikir awal saja. Mana mungkin setelah semua ada yang disebut fakta yang tidak lain adalah akibat bisa dikatakan sebab awal, sedangkan DIA sebab awal sebelum semua bentuk ada (makhluk tercipta). Dan bagaimana dapat berpikir tanpa terbentur oleh objek yang ada namun juga tanpa mengabaikan jejak yang ada.
Begitu juga Alloh swt menciptakan hewan dan segala sesuatunya tidak terlepas dari karakter, dan untuk mengenalkan karakter tersebut dengan perumpamaan, dan dengan perumpamaan itu kita mengenal hakikat/falsafah. Apabila kita cukup sensitif dan memahami sebagai sindiran yang halus tentunya kita dapat mengambil pelajaran.
Pada dasarnya objek penuntun sangat kita perlukan namun pahamilah mana perantara dan mana tujuan sesungguhnya, agar kita memahami betul akan Alloh swt yang mengajari kita dengan perantara Kalam, tanpa terbentur pada objek tertentu dimana kesalahan berpikir banyak dialami pemikir terdahulu tapi masih lestari dikarenakan banyak yang sepaham dan lupa menggali maksud sesungguhnya. Begitu juga agama samawi terdekat (Nasrani) tidak bisa meninggalkan paham trinitas atau tritunggalnya.
Ketika kehendak kita mulai mengarah pada apa yang mereka pahami maka dengan sendirinya kita akan membenarkan pemikiran mereka. Ketika pemikiran ini menjadi dominan dimasyarakat susahlah kita keluar dari lingkaran ini. Manakala ada sedikit kesadaran yang menggugatnya maka akan ditelan habis oleh suara mayoritas. Dan pahamilah orientasi secara menyeluruh dengan segenap kewaspadaan, jangan sampai terjerumus pada lubang yang sama.
[6 Al-Anam 116] Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).
Adalah suatu perjalanan perenungan yang cukup panjang untuk memahami hal ini, yang tidak bisa dicapai hanya dengan mengecap hasil telaah saja, tanpa mengetahui latar belakang dan orientasinya serta upaya-upaya yang harus ditempuh. Dan diperlukan kesadaran yang tinggi untuk memahami keterbatasan diri, sehingga dengan kesadaran itu dapat merasakan betul perlunya visiNYA yaitu cahaya yang menyingkap kebodohan. Bagaimana mungkin bisa lepas diri dariNYA sedangkan DIA Maha Tahu segala sesuatu dan tempat bergantung segala sesuatu.
Al-Qur'an adalah visi yang jelas yang akan menghantarkan kita pada kecerlangan berpikir, dan untuk memahami bahasanya diperlukan adanya tahapan dan pandangan yang luas. Agar tahapan terwujud tentulah diperlukan adanya kesadaran untuk selalu terikat baik jasmani maupun rohaninya agar tidak terjebak pada hal-hal yang masih relatif karena lemahnya pendirian/keteguhan iman. Dan Islam sudah menggariskannya dengan indah. Dan tidak lain kesemuanya mengacu kepada kehendakNYA yang seharusnya menjadikan semua patuh (totalitas pasrah mengikuti arahanNYA).
[5 A L - M A A I D A H 41] Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.
[66 A T T A H R I M 8] Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".
Point penting dari pembahasan kali ini adalah ketika kita kehilangan arah yang secara tidak sadar telah searah dengan pemikiran orang kafir maka dengan sendirinya kita terjerumus pada pembenaran apa yang mereka pahami. Disinilah pentingnya mengetahui misi hidup daripada mengartikan visi-NYA, misi itu tidak lain adalah kehendak yang diarahkan/dimenej/diatur/diikat secara teratur dan menyeluruh menuju kehendakNYA.
Komentar