Laskar Tangguh
Menjadikan diri sebagai laskar/tentara tangguh pembela Islam tentunya butuh latihan cukup keras. Keras disini tentunya bukanlah fisik atau bisa juga melibatkan fisik sekaligus tergantung dari pada situasi dan sejauh mana kita memahami makna-makna peribadatan kita bahkan perjalanan hidup dengan berbagai ujian. Apabila hati selalu terkait denganNYA niscaya dapat memahami dengan baik.
Rukun-rukun Mujahid sejati :
- Pertama kali masuk Islam kita disumpah/berikrar/berjanji setia dengan 2 kalimat syahadat
- Wajib lapor dalam sehari 5 kali, bukan saja sebagai bentuk komunikasi dengan wajib lapor saja, namun juga melatih kedisiplinan yang melibatkan jiwa dan raga (kosentrasi, waktu dan tenaga). Dan setiap hari jum'at mendapat pengarahan dari khotib.
- Menahan diri dari segala godaan syahwat dunia dengan berpuasa sekaligus melatih kepekaan sosial terhadap kaum dhuafa.
- Rela berkorban/berbagi dengan zakat
- Melangkahkan kaki menembus ganasnya padang pasir untuk berhaji dimana segala bangsa bertemu disana tanpa membedakan ras dan keturunan serta pangkat, semua tunduk patuh pada perintahNYA dan tidak ada pembedaan; semua seragam dan bersatu padu memenuhi panggilanNYA.
... dan masih banyak makna-makna lainnya yang harus kita gali, disini saya tidak membatasi adanya makna yang lebih luas lagi asalkan saling memperkokoh dan tidak menyimpang atau malah menjadi terbalik dengan tidak melaksanakannya setelah memahami hakikat atau latar belakang perintah, hal ini sering terjadi pada orang-orang yang biasanya dikupasin dan tinggal mangap atau disuapi dengan jawaban-jawaban namun pelaksanaanya tidak. Maka banyak lahir penyambung lidah saja tidak berani berkata sesuai dari apa yang dipahaminya yang seringkali menolak penjabaran padahal masih dalam satu jalur pengertian, hanya kemampuannya belum dapat memandang dari berbagai perspektif.
Kembali kepada laskar tanggung, sebagai analogi mudah adalah Pasukan Khusus' yang mana dipersiapkan untuk operasi khusus atau operasi yang berat-berat yang memerlukan keahlian khusus pula, tentunya latihan yang dijalaninyapun berat-berat. Mereka tetap semangat walaupun deraan yang mereka terima dari instruktur ataupun medan/sarananya berat tidak menjadikan mereka merasa tersiksa ataupun surut semangat.
Apa yang menjadikan tetap semangat dengan setiap deraan untuk menjadi tentara yang tangguh? Tentunya banyak motivasi dibelakangnya entah penghidupan, suka tantangan, mengejar pangkat, pamor, atau ingin benar-benar menjadi pembela sejati, yang pada intinya membuahkan mental. Dan seberapa kuat mental tersebut tergantung objek motivasinya. Begitu juga kita dalam menjalankan ibadah patutlah ditengok niat kita agar tembus sampai RidhoNYA dan tidak sia-sia.
Apa objek motivasi muslim sejati? Tidak ada lain adalah RidhoNYA (Lillahita'ala). Objek motivasi ini tiada bandingannya dibandingkan tentara manapun. Kaum kapitalis cukup tahu potensi ini, sebagaimana Firaun adalah penguasa yang senantiasa berjaga-jaga demi langgengnya kekuasaanya tidak peduli setiap bayi laki-laki harus dibunuhnya dan penindasan terus ia lakukan.
Firaun tatkala diperingatkan secara baik-baik oleh Nabi Musa as dengan didampingi saudaranya Harun as yang fasih dan lembut tetap saja menolak bahkan menuntut balas budi dari Musa as. Disinilah kita belajar memahami kebaikan dari seseorang jangan dari segi materi saja namun kenyataanya menolak fitrahnya untuk senantiasa tunduk patuh pada Rabbnya. Atau dibalik kebaikan itu ada maksud-maksud terselubung yang menjerat seperti tali-tali ahli sihir firaun(yaitu haman/penasehat/agamaman/filsuf) yang tidak lain berkiblat pada kekuasaan materi.
Manusia tatkala dikuasi nafsu kekuasaan sulit untuk disuruh tobat. Baginya kehormatan dimuka umum dengan jalan menindas atau melemahkan orang lain dan pengagungan lain yang dilandasi teror kekuatan/kediktatoran adalah segala-galanya dan tatkala dipuncaknya tidak mau mengakui kebenaran yang datang dari orang bawahan walaupun itu baik untuknya.
Tunggulah ketetapanNYA yang berlaku pada kaum2 terdahulu apabila peringatan sudah sampai kepadanya namun diabaikan.
Kekerasan yang melekat pada Islam gara-gara isu teroris bukanlah isapan jempol atau sekedar isu, namun jika kita benar-benar objektif dalam menilai gejala-gejala itu telah nampak sekali meracuni umat agama lain tidak terkecuali muslim sendiri. Tidak peduli dibelakang itu rekayasa atau gejala-gejala psikis dari penindasan penguasa yang selalu ditutupi media.
Dari artikel saya yang lama mengenai Shock (kejutkan dengan kekuatan senjata) dan Awe (takutkan mental lawan) adalah strategi perang kapitalis masa kini, diiringi dengan slogan2 pendukung lainya yaitu proganda 'maling teriak maling'.
Hati-hatilah proganda bilang 'kebenaran yang dirubah sedikit'. Pahamilah orientasi zaman secara luas dan objektif jangan mau jadi bagian propaganda karena wilayah kebenaran yang kita kuasai terlalu pendek, tidak sampai talinya kelangit.
Dalam bahasan ini saya mencoba untuk mendeskripsikan kekerasan dari sudut pandang yang berbeda, agar kita sebagai muslim tidak mudah termakan profokasi dengan tontonan menjadi tuntunan. Budaya Islam adalah budaya sastra/membaca.
Lihatlah panggung politik tidak ubahnya seperti ring tinju... dan banyak gejala-gejala pesakitan lainnya. Ketidakpuasan telah nampak dan nurani tidak lagi dapat dibodohi.
Warisilah semangat para nabi dan tabi'in yang berjuang dijalanNYA niscaya dapat memahami kenikmatan yang seringkali kita ucapkan dalam surah Al-Fatihah.
Bangkitlah mujahid sejati dari mimpi indahmu.
Rukun-rukun Mujahid sejati :
- Pertama kali masuk Islam kita disumpah/berikrar/berjanji setia dengan 2 kalimat syahadat
- Wajib lapor dalam sehari 5 kali, bukan saja sebagai bentuk komunikasi dengan wajib lapor saja, namun juga melatih kedisiplinan yang melibatkan jiwa dan raga (kosentrasi, waktu dan tenaga). Dan setiap hari jum'at mendapat pengarahan dari khotib.
- Menahan diri dari segala godaan syahwat dunia dengan berpuasa sekaligus melatih kepekaan sosial terhadap kaum dhuafa.
- Rela berkorban/berbagi dengan zakat
- Melangkahkan kaki menembus ganasnya padang pasir untuk berhaji dimana segala bangsa bertemu disana tanpa membedakan ras dan keturunan serta pangkat, semua tunduk patuh pada perintahNYA dan tidak ada pembedaan; semua seragam dan bersatu padu memenuhi panggilanNYA.
... dan masih banyak makna-makna lainnya yang harus kita gali, disini saya tidak membatasi adanya makna yang lebih luas lagi asalkan saling memperkokoh dan tidak menyimpang atau malah menjadi terbalik dengan tidak melaksanakannya setelah memahami hakikat atau latar belakang perintah, hal ini sering terjadi pada orang-orang yang biasanya dikupasin dan tinggal mangap atau disuapi dengan jawaban-jawaban namun pelaksanaanya tidak. Maka banyak lahir penyambung lidah saja tidak berani berkata sesuai dari apa yang dipahaminya yang seringkali menolak penjabaran padahal masih dalam satu jalur pengertian, hanya kemampuannya belum dapat memandang dari berbagai perspektif.
Kembali kepada laskar tanggung, sebagai analogi mudah adalah Pasukan Khusus' yang mana dipersiapkan untuk operasi khusus atau operasi yang berat-berat yang memerlukan keahlian khusus pula, tentunya latihan yang dijalaninyapun berat-berat. Mereka tetap semangat walaupun deraan yang mereka terima dari instruktur ataupun medan/sarananya berat tidak menjadikan mereka merasa tersiksa ataupun surut semangat.
Apa yang menjadikan tetap semangat dengan setiap deraan untuk menjadi tentara yang tangguh? Tentunya banyak motivasi dibelakangnya entah penghidupan, suka tantangan, mengejar pangkat, pamor, atau ingin benar-benar menjadi pembela sejati, yang pada intinya membuahkan mental. Dan seberapa kuat mental tersebut tergantung objek motivasinya. Begitu juga kita dalam menjalankan ibadah patutlah ditengok niat kita agar tembus sampai RidhoNYA dan tidak sia-sia.
Apa objek motivasi muslim sejati? Tidak ada lain adalah RidhoNYA (Lillahita'ala). Objek motivasi ini tiada bandingannya dibandingkan tentara manapun. Kaum kapitalis cukup tahu potensi ini, sebagaimana Firaun adalah penguasa yang senantiasa berjaga-jaga demi langgengnya kekuasaanya tidak peduli setiap bayi laki-laki harus dibunuhnya dan penindasan terus ia lakukan.
Firaun tatkala diperingatkan secara baik-baik oleh Nabi Musa as dengan didampingi saudaranya Harun as yang fasih dan lembut tetap saja menolak bahkan menuntut balas budi dari Musa as. Disinilah kita belajar memahami kebaikan dari seseorang jangan dari segi materi saja namun kenyataanya menolak fitrahnya untuk senantiasa tunduk patuh pada Rabbnya. Atau dibalik kebaikan itu ada maksud-maksud terselubung yang menjerat seperti tali-tali ahli sihir firaun(yaitu haman/penasehat/agamaman/filsuf) yang tidak lain berkiblat pada kekuasaan materi.
Manusia tatkala dikuasi nafsu kekuasaan sulit untuk disuruh tobat. Baginya kehormatan dimuka umum dengan jalan menindas atau melemahkan orang lain dan pengagungan lain yang dilandasi teror kekuatan/kediktatoran adalah segala-galanya dan tatkala dipuncaknya tidak mau mengakui kebenaran yang datang dari orang bawahan walaupun itu baik untuknya.
Tunggulah ketetapanNYA yang berlaku pada kaum2 terdahulu apabila peringatan sudah sampai kepadanya namun diabaikan.
Kekerasan yang melekat pada Islam gara-gara isu teroris bukanlah isapan jempol atau sekedar isu, namun jika kita benar-benar objektif dalam menilai gejala-gejala itu telah nampak sekali meracuni umat agama lain tidak terkecuali muslim sendiri. Tidak peduli dibelakang itu rekayasa atau gejala-gejala psikis dari penindasan penguasa yang selalu ditutupi media.
Dari artikel saya yang lama mengenai Shock (kejutkan dengan kekuatan senjata) dan Awe (takutkan mental lawan) adalah strategi perang kapitalis masa kini, diiringi dengan slogan2 pendukung lainya yaitu proganda 'maling teriak maling'.
Hati-hatilah proganda bilang 'kebenaran yang dirubah sedikit'. Pahamilah orientasi zaman secara luas dan objektif jangan mau jadi bagian propaganda karena wilayah kebenaran yang kita kuasai terlalu pendek, tidak sampai talinya kelangit.
Dalam bahasan ini saya mencoba untuk mendeskripsikan kekerasan dari sudut pandang yang berbeda, agar kita sebagai muslim tidak mudah termakan profokasi dengan tontonan menjadi tuntunan. Budaya Islam adalah budaya sastra/membaca.
Lihatlah panggung politik tidak ubahnya seperti ring tinju... dan banyak gejala-gejala pesakitan lainnya. Ketidakpuasan telah nampak dan nurani tidak lagi dapat dibodohi.
Warisilah semangat para nabi dan tabi'in yang berjuang dijalanNYA niscaya dapat memahami kenikmatan yang seringkali kita ucapkan dalam surah Al-Fatihah.
Bangkitlah mujahid sejati dari mimpi indahmu.
Komentar