Tanggap terhadap perubahan

Hatur salam kepada sahabat seiman khususnya member group ini semoga kita selalu dalam lindungan Alloh swt tetap istiqomah pada jalan yang diridhoiNYA ; dinul Islam yang sempurna sebagaimana telah dicontohan Rosululloh saw dan para pewarisnya.

Kali ini saya mencoba menggugah kesadaran semua untuk tanggap terhadap perubahan, karena perubahan bisa saja tidak disadari karena perhatiannya selalu tertuju pada angan-angannya sendiri atau kalkulasi-kalkulasi yang teramat rentan yang bisa saja berbuah pada kenyataan pahit, yaitu tidak seperti yang diharapkan karena faktor kelalaian terhadap penentu keberhasilan itu sendiri yaitu Alloh swt yang Maha Kuasa dan tempat bergantung segala sesuatu, dimana seharusnya segala kehendak diri ditujukan kepadaNYA, apalagi menyangkut hajat orang banyak.

Apakah mampu kehendak seseorang mengarahkan kehendak orang lain selain arah dan tujuannya sama? Dimanakah perbedaannya ditengah segala keberadaan. Dari mana kita harus memulai untuk sekedar mengetahui arah?

Mulailah dari pertanyaan sederhana pada diri kita masing-masing ; "Apa yang dikehendakiNYA dengan hidup ini?"

Sebelum memahami perubahan ada baiknya memahami keterbatasan (limit) dan dalam batas itu adalah ada 2 ketentuan menang dan kalah, salah dan benar dan dua hal yang menjadi tolak ukur lainnya, selagi masih ada dalam limit adalah kesempatan dan kesempatan akan maksimal sejalan dengan kehendak untuk merubahnya dan perubahan sendiri tergantung dari orientasi/arah yang mana untuk mengetahui orientasinya harus ada sekala pengukurnya.

Katakanlah dalam hal kejahatan sewaktu kita kecil kejahatan sudah ada disekeliling kita namun pengetahuan membatasinya dan proteksi yang tidak kita sadari karena tinggal menjalani saja. Waktu itu kita hanya tahu menikmati hidup dengan penuh keceriaan, namun seiring dengan perkembangan waktu dan pertumbuhan semakin lengkap banyak hal-hal yang terungkap akhirnya kitapun tahu mana buah kejahatan mana kebaikan.

Adakalanya suatu hasil hanya bisa dilihat dari kurun waktu yang sangat panjang yang hanya bisa disadari apabila kita telah melibatkan semua potensi diri dengan sekala pengukur/cermin keberhasilan itu sendiri dengan merujuk pada sejarah yang benar. Dari segi materi bisa saja mudah namun bagaimana jika keberhasilan itu bukan yang ada sekarang. Namun suatu hasil yang hanya boleh dicapai jika semua kehendak diri diarahkan pada satu tujuan yang hanya boleh dirasa setelah dijalani dan konsep apapun tidak dapat menyentuhnya. Yang hanya kita lakukan hanya mengingatkan dan memotivasi/mendorong atau mengajak.

Adakah tujuan lain selain daripada tempat segala sesuatu kembali?

[2 Al-Baqarah 281] Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).

Perlu dipahami betul bahwa sifat manusia sangat terbatas terutama dalam menanggapi perubahan baik dari sekala kecil yaitu dirinya sampai pada lingkungan dan informasi yang sampai kepadanya yang turut membentuknya karakter dan pola pikirnya. Jika ia mampu memperhitungkan perubahan niscaya ia dapat mengendalikan dirinya terutama terhadap pembunuhan karakter yang menghalangi diri untuk mengenali fitrahnya.

Bagaimana perkembangan diri dengan perkembangan sosial dapat kita amati? Disinilah kemampuan manusia dengan hasrat dan pikirannya mampu mengenali hal-hal yang meliputinya, tentunya dengan sekala yang semakin luas/besar sejalan dengan perkembangan akalnya yang dipacu oleh hasrat/kehendaknya menuju kesempurnaan atau sebaliknya menuju kehancuran karena hilangnya kesadaran (lalai) daripada tujuan hidupnya sedangkan perubahan terus bergulir dimana kita berada didalamnya.

Manusia dapat menemukan jawaban akan pihak ketiga yang selalu mengundang keingintahuannya dari suatu perbandingan dua hal yang berbeda, katakanlah bidang datar (horizontal) dengan bidang tegak (vertikal) dapat diketahui kemiringan serta jaraknya. Bagaimana jika harizontalnya adalah permasalahan dan vertikalnya adalah pencapaian? Buatlah diagram silang yang lengkap dengan plus dan minusnya, lalu tandai setiap perubahan.

Untuk menyadari bahwa dirinya ditengah keberadaan segala hal yang meliputinya, tentunya harus dimulai dari hal-hal kecil yang prinsipil dimana kita harus mengesampingkan keberadaan lainnya untuk mendapatkan prinsip tersebut. Katakanlah kita sekarang ditengah kemajuan ilmu pengetahuan (pencapaian manusia) dengan berbagai cabang disiplin ilmu dan seseorang menggali potensi dirinya untuk mempelajari satu cabang saja namun pada sisilain ia melupakan prinsip yang sebenarnya telah ia lalui secara berulang. Katakanlah pokok kurma atau kelapa dimana susunannya sempurna masing-masing cabang mewakili pengetahuan dan buahnya adalah karya semua menempel pada satu dahan yang semakin tinggi seiring waktu. Perhitungkan satu persatu dengan detail.

Seperti biasa makalah ini hanya baru sebatas penggugah atau katakanlah nasihat jika anda dapat menemukan pesan yang terkandung didalamnya tentunya atas kehendakNYA juga sebagai penentu/pengukur/penakarnya.

Untuk lebih memfokuskan permasalahan sebagai kajian awal andalah penentunya, misalnya perubahan sosial terutama etika atau apapun yang dapat kita kenali dengan baik mana yang sesungguhnya mengadakan/mengarahkan perbaikan dan mana yang sesungguhnya merusak sedangkan semua merasa berbuat sebaik-baiknya dan sama-sama bergerak menuruti kehendak. Jika bumi ini bulat perbedaan arah tentunya akan menghasilkan benturan. Jika betul hanya ada dua arah yaitu DIA Tuhan semesta alam sebagai satu-satunya arah yang benar, dan lawannya yaitu selainNYA yang akan mencerai beraikan kita yang mengajak untuk kembali kebelakang. Apa tolal ukurnya untuk membedakan arahnya?

Kenalilah arah minimal dari perubahan yang ada. Semoga bermanfaat, penilaian apapun sesudahnya semata saya tujukan hanya untuk mencari RidhoNYA dari apa yang selama ini saya perhatikan sebagai bentuk kepedulian.

***

[18 Al-Kahfi 28] Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer