Sebuah Pemikiran Berujung Pertanyaan
Sebenarnya catatan ini tidak begitu penting sih, karna saya juga hanya menuliskannya secara tiba-tiba tanpa ada perencanaan tanpa konsep maupun struktur yang berlaku secara umum (lhoh?). Ah, lupakan. Tapi izinkan saya sedikit berbagi tentang hal-hal yang memang sudah sepantasnya dibagikan untuk direnungkan.
Sering kita berpikir begini, kenapa ya saya kok begini? Kenapa ya kok mimpiku sulit terkabul? Kenapa saya tak sehebat mereka? Kenapa mereka bisa hidup enak? Kenapa saya pendek? Kenapa bapak kamu gundul? Kenapa iddo pintar? Kenapa kentutku bau? Kenapa dan kenapa. Begitu banyak pertanyaan tertampung dalam pikiran tiap satu hitungan waktu. Padahal itu baru satu menit, padahal itu baru diawali dengan kata “kenapa”. Nah, sekarang kita sudah bisa membayangkan kan, berapa banyak pikiran dan pertanyaan yang dapat kita pikirkan selama satu jam, satu bulan, satu taun, bahkan satu-satu aku sayang ibu?
Dan kenyataannya, sebagian besar dari yang kita pikirkan adalah apa yang kita keluhkan. Apa yang kita keluhkan, kita anggap sebagai kekurangan yang tidak bisa kita lakukan. Dan apa yang kita tidak bisa lakukan, pada akhirnya hanya akan menciptakan suatu keputusasaan.
Iyakah? Tanyakan pada hatimu sendiri, niscaya hatimu tidak akan menjawab walaupun kamu menunggunya sampai pukul 27.00, karena hati memang tidak punya mulut. Jadi ingat lagunya bondan prakoso : “Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sedihlah (lhoh?)…”
Ketika kita merenungkan kekurangan tersebut, pernahkah kamu berdiri di depan kaca untuk sekedar melihat ekspresi mukamu saat itu?
Saya pernah, sering malah. Dan setiap saya melihat muka saya sendiri, malah terkesan kaya’ lagi nahan pup pas maju matematika soal trigonometri. Pokoknya begitulah, ekspresi wajah memang tidak bisa diungkapkan dengan ekspresi kata-kata, apalagi dengan ekspresi trigonometri, beuhh.. (woh?) Coba saja kalo tidak percaya.
Kemudian dengan eksperimen lain, saya mencoba mengkhayal andai saya menikah sama iddo (bercanda lho ini). Kalo kata kopi good day : rasanya seperti ngebelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, langsung menuju rasi bintang paliiing manis. Karena hidup banyak rasa :)
Buru-buru saya langsung stand by di depan kaca untuk melihat variable terikat dari variable bebas yang gue buat sendiri (halah!). Dan hasilnya, meskipun muka saya masih tetap jelek, tapi minimal kali ini ekspresi mukanya nggak nahan pup kaya tadi. Tersenyum tapi nggak simetris namanya, atau apalah. Tdak apa-apa. Setidaknya, pikiran yang indah bisa membuat mood kita membaik.
Dari situ ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil :
1. Jangan berdiri di depan kaca ketika sedang mengeluh, karena dapat memperburuk wajahmu lebih buruk dari yang kamu lihat pada kaca.
2. Jika kamu diberikan kemampuan berpikir yang sangat luas setiap waktu oleh Tuhan, kenapa nggak kamu tuangkan pada hal-hal yang sekiranya bermanfaat? Berpikir untuk sukses misal, berpikir membalas budi orang tua, memikirkan bagaimana cara masuk surga, berpikir sebelum berbicara, berpikir untuk tidak curang, memikirkan cara untuk meninggikan badan, berpikir untuk menonton konser avenged sevenfold misal. Ah, itu hanya contoh. Dan yang namanya contoh itu adalah hal yang biasa ditiru dan dilakukan orang yang diambil dari mayoritas perlakukan seseorang (kok ngelantur?)
3. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, ketika kamu mulai merasa iri terhadap kelebihan/keberhasilan orang lain, pikirkan juga bahwa sebetulnya banyak orang yang iri terhadap kemampuan yang kamu miliki, yang bahkan tidak pernah kamu sadari sebelumnya. Sampai kamu akhirnya berkata : ”Tuhan itu mahaadil, bukan”.
4. Dan yang terakhir, seperti kata Raditya Dika : “bisa jadi yang kita inginkan adalah yang sebenarnya tidak kita butuhkan”. Bukankah Tuhan itu sesuai prasangka hamba-Nya?
Semoga Bermanfaat :)
Titil and us
12.33/10.5.11
Sering kita berpikir begini, kenapa ya saya kok begini? Kenapa ya kok mimpiku sulit terkabul? Kenapa saya tak sehebat mereka? Kenapa mereka bisa hidup enak? Kenapa saya pendek? Kenapa bapak kamu gundul? Kenapa iddo pintar? Kenapa kentutku bau? Kenapa dan kenapa. Begitu banyak pertanyaan tertampung dalam pikiran tiap satu hitungan waktu. Padahal itu baru satu menit, padahal itu baru diawali dengan kata “kenapa”. Nah, sekarang kita sudah bisa membayangkan kan, berapa banyak pikiran dan pertanyaan yang dapat kita pikirkan selama satu jam, satu bulan, satu taun, bahkan satu-satu aku sayang ibu?
Dan kenyataannya, sebagian besar dari yang kita pikirkan adalah apa yang kita keluhkan. Apa yang kita keluhkan, kita anggap sebagai kekurangan yang tidak bisa kita lakukan. Dan apa yang kita tidak bisa lakukan, pada akhirnya hanya akan menciptakan suatu keputusasaan.
Iyakah? Tanyakan pada hatimu sendiri, niscaya hatimu tidak akan menjawab walaupun kamu menunggunya sampai pukul 27.00, karena hati memang tidak punya mulut. Jadi ingat lagunya bondan prakoso : “Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, ya sedihlah (lhoh?)…”
Ketika kita merenungkan kekurangan tersebut, pernahkah kamu berdiri di depan kaca untuk sekedar melihat ekspresi mukamu saat itu?
Saya pernah, sering malah. Dan setiap saya melihat muka saya sendiri, malah terkesan kaya’ lagi nahan pup pas maju matematika soal trigonometri. Pokoknya begitulah, ekspresi wajah memang tidak bisa diungkapkan dengan ekspresi kata-kata, apalagi dengan ekspresi trigonometri, beuhh.. (woh?) Coba saja kalo tidak percaya.
Kemudian dengan eksperimen lain, saya mencoba mengkhayal andai saya menikah sama iddo (bercanda lho ini). Kalo kata kopi good day : rasanya seperti ngebelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bareng paus akrobatis, langsung menuju rasi bintang paliiing manis. Karena hidup banyak rasa :)
Buru-buru saya langsung stand by di depan kaca untuk melihat variable terikat dari variable bebas yang gue buat sendiri (halah!). Dan hasilnya, meskipun muka saya masih tetap jelek, tapi minimal kali ini ekspresi mukanya nggak nahan pup kaya tadi. Tersenyum tapi nggak simetris namanya, atau apalah. Tdak apa-apa. Setidaknya, pikiran yang indah bisa membuat mood kita membaik.
Dari situ ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil :
1. Jangan berdiri di depan kaca ketika sedang mengeluh, karena dapat memperburuk wajahmu lebih buruk dari yang kamu lihat pada kaca.
2. Jika kamu diberikan kemampuan berpikir yang sangat luas setiap waktu oleh Tuhan, kenapa nggak kamu tuangkan pada hal-hal yang sekiranya bermanfaat? Berpikir untuk sukses misal, berpikir membalas budi orang tua, memikirkan bagaimana cara masuk surga, berpikir sebelum berbicara, berpikir untuk tidak curang, memikirkan cara untuk meninggikan badan, berpikir untuk menonton konser avenged sevenfold misal. Ah, itu hanya contoh. Dan yang namanya contoh itu adalah hal yang biasa ditiru dan dilakukan orang yang diambil dari mayoritas perlakukan seseorang (kok ngelantur?)
3. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, ketika kamu mulai merasa iri terhadap kelebihan/keberhasilan orang lain, pikirkan juga bahwa sebetulnya banyak orang yang iri terhadap kemampuan yang kamu miliki, yang bahkan tidak pernah kamu sadari sebelumnya. Sampai kamu akhirnya berkata : ”Tuhan itu mahaadil, bukan”.
4. Dan yang terakhir, seperti kata Raditya Dika : “bisa jadi yang kita inginkan adalah yang sebenarnya tidak kita butuhkan”. Bukankah Tuhan itu sesuai prasangka hamba-Nya?
Semoga Bermanfaat :)
Titil and us
12.33/10.5.11
Komentar