Membangun Ekonomi Pertanian di Era Globalisasi
Oleh: Neneng Saadah


Dewasa ini kita menghadapi permasalahan yang bertumpuk-tumpuk. Ekonomi kita mengalami kontraksi yang besar dengan laju inflasi yang tinggi. Nilai tukar Rupiah jatuh, suku bunga tinggi. Pengaruh kemarau yang berkepanjangan pada tahun 1997, berdampak negatif pada produksi bahan makanan, yang pada gilirannya kita harus mengimpor beberapa jenis bahan makanan dalam jumlah yang cukup besar. Kegiatan produksi tersendat-sendat dan ekspor hasil industri manufaktur menghadapi berbagai hambatan, antara lain, oleh karena kesulitan untuk mengimpor bahan baku dan suku cadang. Sebabnya oleh karena hilangnya kepercayaan kepada perbankan nasional. Bank-bank dan perusahaan-perusahaan kita menghadapi masalah hutang yang berat baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak industri telah mengurangi kegiatannya,bahkan ada yang telah menghentikannya. Oleh karena itu telah terjadi pemutusan hubungan kerja yang pada gilirannya telah menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran. Peningkatan jumlah pengangguran yang berlangsung bersamaan dengan meningkatnya laju inflasi telah mengakibatkan jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan yang sangat besar. Sementara itu kontraksi dalam kegiatan ekonomi dan anjloknya harga migas di satu pihak dihadapkan dengan upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap penduduk berpendapatan rendah di lain pihak pada gilirannya telah menyebabkan meningkatnya defisit dalam APBN. Tingkat kepercayaan (confidence) masyarakat yang masih rendah, tercermin pada kurs Rupiah yang belum stabil, walaupun selama bulan Agustus 1998 terlihat adanya kecenderungan makin menguatnya Rupiah, berkonsekuensi terhadap peningkatan harga-harga serta terhambatnya kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri.
Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa penyembuhan confidence adalah kunci utama dari
keberhasilan upaya kita untuk mengentaskan diri dari krisis. Confidence masyarakat perlu dipupuk kembali. Pertama-tama harus diarahkan pada pengembalian para pelaku ekonomi dalam negeri, dengan makin nyatanya tanda-tanda pulihnya kepercayaan pelaku-pelaku dalam negeri, kepercayaan para pelaku luar negeri akan mulai ikut kembali pulih. Dengan pulihnya confidence secara bertahap, maka kurs Rupiah akan makin stabil serta secara gradual makin membaik dan akhirnya mencapai tingkat yang wajar. Karena melemahnya kurs Rupiah adalah penyebab terpenting dari inflasi saat ini, maka dengan stabilnya kurs pada tingkat yang wajar, tekanan inflasi mereda dan laju inflasi akan terus menurun. Harga barang kebutuhan pokok, dengan konsekuensi subsidi yang harus disediakan, akan juga menurun secara bertahap.Menurunnya inflasi akan diikuti dengan menurunnya tingkat bunga. Bersama-sama dengan mulai berhasilnya pembenahan perbankan dan makin banyaknya para pelaku ekonomi yang mulai merasa aman, tenteram dalam melakukan kegiatan sehari-hari, maka penurunan tingkat bunga akan mendorong bangkitnya kembali kegiatan ekonomi dalam negeri. Pada akhirnya akan tercapai keadaan di mana kegiatan ekonomi kembali normal, lapangan kerja baru mulai terbuka lagi, inflasi menurun pada tingkat wajar, kurs Rupiah relatif stabil pada tingkat yang konsisten dengan pola kegiatan ekonomi yang normal.
Prioritas utama untuk membangun ekonomi di bidang pertanian diberikan kepada empat hal yaitu:
1.Mengamankan penyediaan barang kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang
terjangkau.
2.Mencegah agar inflasi tidak menjadi inflasi yang tidak terkendali (hiperinflasi).
3.Mengfungsikan kembali peranan sentral perbankan dalam mendukung perekonomian, termasuk pemulihan kembali tersedianya pembiayaan bagi perdagangan (trade
financing).
4.Meningkatkan kemampuan lembaga-lembaga utama perekonomian, khususnya dalam menghadapi krisis dan keadaan darurat.
Dalam jangka pendek upaya pemulihan atau penyelamatan perekonomian diprioritaskan pada upaya menggerakkan kembali roda perekonomian, melanjutkan upaya penyehatan perbankan, menyelesaikan hutang swasta, meningkatkan pengelolaan anggaran dan melanjutkan reformasi struktural, dan pembangunan kelembagaan (governance).
Menggerakkan kembali roda perekonomian.
Lingkup kegiatan dalam menggerakkan kembali roda perekonomian, antara lain adalah:
1. Membuat jaring pengaman sosial (Social safety net). Adapun program kegiatannya
mencakup pengamanan ketersediaan dan penyediaan subsidi.
a. Kebutuhan pokok pangan dan obat-obatan serta bantuan di bidang pendidikan dalam
rangka mengurangi jumlah anak putus sekolah.
b. Kegiatan padat karya/lapangan kerja produktif, dengan tujuan menciptakan lapangan
kerja dan meningkatkan daya beli bagi kelompok paling rentan terhadap krisis ekonomi.
2. Memperbaiki sistem distribusi. Dalam kegiatan ini termasuk juga menjamin ketersediaan
pasokan bahan pangan dan bahan pokok lainnya, mencakup penyediaan obat-obatan
keseluruh wilayah tanah air.
3. Memperkuat usaha kecil dan menengah serta koperasi, antara lain, dengan meningkatkan
pembinaan termasuk bantuan perkreditan khusus.
4. Mendorong ekspor dengan menghilangkan hambatan-hambatannya, mengurangi tarif,
penghapusan pajak berbagai komoditi, dan bantuan penjaminan L/C.
5. Membangun kembali sektor-sektor produksi:
Adapun sektro produksi yang diprioritaskan adalah:
a. Pertanian terutama tanaman pangan yang dapat dihasilkan dalam jangka pendek, perikanan, dan peternakan.
b. Industri, dengan titik berat memanfaatkan kapasitas produksi yang ada.
c. Pariwisata.
6. Menggairahkan kembali iklim investasi
Menciptakan iklim berusaha dalam bentuk persaingan yang sehat, terbuka dan trasparan. Di samping perbaikan tata kerja dan cara-cara pengelolaan di bidang pemerintah maupun dunia usaha. Langkah yang dijalankan dalam menggerakan kembali roda perekonomian termasuk upaya reformasi struktural dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan yang diharapkan akan memperkuat landasan perekonomian kita sehingga mampu bersaing dalam menghadapi tantangan globalisasi serta perdagangan bebas yang akan kita hadapi di masa yang akan datang.

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer