Membangun Ekonomi Pertanian di Era Global

Nama: B. Galih Puntadewa
Pembangunan ialah perkataan yang digunakan secara meluas dalam semua media massa di seluruh dunia dan merupakan konsep yang kerap kali disebut dan dibincangkan oleh semua lapisan masyarakat, sama ada di Timur maupun di Barat, terutama di kalangan ahli politik, wartawan, dan ahli sains sosial. Walaupun pembangunan satu perkataan yang sudah biasa didengar dan diperkatakan oleh banyak orang, tetapi pengertian konsep pembangunan begitu luas cakupannya. Pengertian pembangunan perlu dihayati sebelum seseorang itu dapat memahami keseluruhan proses dan teori pembangunan. Usaha untuk memahami konsep pembangunan itu sendiri jauh lebih sukar daripada memahami proses dan teori pembangunan. Namun demikian, terdapat beberapa pengertian yang biasanya disinonimkan dengan konsep pembangunan, yaitu konsep pertumbahan ekonomi, modenisasi, industrialisasi, normatif/ atau hak keperluan asas, dan environmentalisme.
Dal hal tersebut yang akan dibahas adalah pembangunan tentang pertumbuhan ekonomi. Lebih spesifik lagi diarahkan pada membangun ekonomi pertanian. Yang diketahui bahwa pertanian di indonesia merupakan sektor real yang memilki potensi paling tinggi, dan dapat dijadikan tombak pembangunan ekonomi di indonesia. Karena lahan yang sangat luas dimiliki di indonesia, dan iklimnya yang mampu membuat tanaman-tanaman komoditi pangan dapat tumbuh dengan baik di indonesia. Pada era kepimpinan Soeaharto pertanian indonesia sangat diutamakan, karena potensinnya yang sangat besar, namun kesalahan telah dilakukan pada masa pemerintahan jaman itu, karena ketika ingin mengembangkan sektor pertanian, namun bahan dasar komoditi tersebut didapatkan dari hasil impor. Hal ini membuat fondasi yang seharusnya dibangun dengan kokoh tidak dilaksanakan. Konsep pemberdayaan petani, dan produk- produk lokal terabaikan. Mengakibatkan pertumbuhan ekonomi pertanian pada saat itu tidak berjalan sesuai dengan progam pemerintah.
Pembangunan pertanian menempati prioritas utama pemba-ngunan dalam pembangunan ekonomi nasional. Karena itu sektor pertanian merupakan sektor utama pembangunan ekonomi nasional.

Dalam pendekatan perhitungan pendapatan nasional, sektor pertanian terdiri dari sub-sektor tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Selain sektor pertanian, terdapat delapan sektor ekonomi lainnya yang secara bersama menentukan besarnya pertumbuhan ekonomi bangsa melalui pendapatan domestik (GDP) dan pendapatan nasional (GNP).

Kedudukan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi nasi-onal adalah cukup nyata, dilihat dari proporsinya terhadap pendapatan nasional.

Pada tahun 1993, sumbangan sektor pertanian terhadap GDP adalah 18%, kemudian turun menjadi 15% pada tahun 1997. Namun dengan adanya krisis ekonomi, kembali sektor pertanian menunjukkan peranannya yang lebih besar yaitu sumbangannya sebesar 17% pada GDP pada tahun 1998. Lihat Statistik Indonesia 1994, 1997, dan 1998, BPS, Jakarta

Selain kontribusinya melalui GDP, peran sektor pertanian dalam pembangunan nasional dapat dilihat dari peran sektor pertanian yang sangat luas, mencakup beberapa indikator antara lain:
Pertama, pertanian sebagai penyerap tenaga kerja yang terbesar. Data Sakernas menunjukkan bahwa pada tahun 1997, dari sekitar 87 juta jumlah tenaga kerja yang bekerja, sekitar 36 juta diantaranya bekerja di sektor pertanian. Lihat Sakernas 1986 dan 1997, BPS, Jakarta.
Ke dua, pertanian merupakan penghasil makanan pokok pendu-duk. Peran ini tidak dapat disubstitusi secara sempurna oleh sektor ekonomi lainnya, kecuali apabila impor pangan menjadi pilihan.
Ke tiga, komoditas pertanian sebagai penentu stabilitas harga. Harga produk-produk pertanian memiliki bobot yang besar dalam indeks harga konsumen sehingga dinamikanya sangat berpengaruh terhadap inflasi.
Ke empat, akselerasi pembangunan pertanian sangat penting untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor. Pembangunan per-tanian mencakup pemasaran dan perdagangan komoditas. Dalam sis-tem rantai agribisnis, pemasaran dan perdagangan komoditas pertanian sangat penting dalam menentukan nilai tambah produk. Dengan pemasaran baik di dalam maupun ke luar negeri maka harga dan nilai tambah pertanian yang diterima oleh petani produsen akan semakin tinggi. Sebaliknya dengan adanya impor maka produk dalam negeri akan bersaing dalam merebut pasar domestik. Dengan produk domestik yang berdaya saing tinggi maka ekspor dapat dipacu dan akhirnya menghasilkan devisa bagi pembangunan. Namun dengan rendahnya daya saing maka barang impor akan masuk ke dalam negeri, dan devisa negara harus dibelanjakan ke luar negeri.
Ke lima, komoditas pertanian merupakan bahan industri manu-faktur pertanian. Masih dalam suatu sistem rantai agribisnis, industri manufaktur (pengolahan) pertanian, baik yang mengolah komoditas pertanian maupun yang menghasilkan input pertanian menduduki tempat yang penting. Kegiatan industri manufaktur pertanian hanya bisa berjalan apabila memang ada kegiatan produksi yang sinergis. Dengan demikian kehadiran sektor pertanian adalah prasyarat bagi adanya sektor industri manufaktur pertanian yang berlanjut.
Ke enam, pertanian memiliki keterkaitan sektoral yang tinggi. Keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor lain dapat dilihat dari aspek keterkaitan produksi, keterkaitan konsumsi, keterkaitan investasi, dan keterkaitan fiskal. Berdasarkan sifat keterkaitan maka dikenal keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage). Di Indonesia, sektor pertanian mempunyai keterkaitan ke belakang yang kuat dalam menciptakan titik temu antarsektor yang lebih efektif dari pada keterkaitan ke depan.
Visi pembangunan ekonomi ke depan adalah memilih bidang ekonomi yang dapat mewujudkan kesejahteraan sosial secara lestari. Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai orientasi kegiatan ekonomi berbasis sumberdaya alam, maka pertanian perlu menjadi perhatian. Dalam kerangka paradigma pembangunan manusia, pembangunan berbasis sumberdaya lokal, dan pembangunan kelembagaan maka pembangunan di bidang pertanian dalam arti luas merupakan sektor pembangunan unggulan. Dengan demikian visi pembangunan ekonomi ke depan menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam pembangunan ekonomi nasional.
Mempersiapkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan dalam menghadapi tantangan global dan perdagangan bebas. Oleh karena itu, pembangunan pertanian perlu segera melakukan penajaman orientasi yaitu mempercepat peningkatan proses alih teknologi dan aliran investasi masuk ke dalam sektor hulu hingga ke hilir. Besaran impor untuk peningkatan produktivitas pertanian berupa teknologi dan investasi (modal) pada sektor pertanian dapat memutar kegiatan ekonomi secara luas. Muaranya pada peningkatan kemampuan produk unggulan pertanian (comparative advantage) untuk meningkatkan daya saing (competitive advantage) dalam lingkungan global guna menghasilkan produk pertanian yang mempunyai nilai jual dan digemari dalam lingkungan pasar internasional.
Penutup
Secara umum dapat dikatakan bahwa pembangunan sektor pertanian sangat strategis bagi pembangunan nasional. Posisi ini sepatutnya menjadi pendorong bagi sektor pertanian untuk melakukan evaluasi kembali tentang peran strategisnya. Sebagai antisipasi maka perlu dimiliki komitmen untuk melaksanakan arah baru pembangunan pertanian, pembangunan yang berorientasi pada manusia berdasarkan kemampuan dan potensi sumberdaya, serta daya dukung lokal, untuk mewujudkan kesejehteraan rakyat luas-luasnya.




Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer