Identifikasi Ukuran Tubuh dan Bentuk Tubuh Domba Garut Tipe Tangkas, Tipe Pedaging dan Persilangannya Melalui Pendekatan Analisis Komponen Utama
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
(Identification of Body Size and Body Shape of Garut Sheep Fighting Type and Meat Type
and Garut Cross Based on Principal Component Analysis)
A Gunawan, R H Mulyono dan C Sumantri*
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi PeternakanFakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor
Jln. Agathis, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680,
*Penulis korespondensi email: cece_sumantri12@yahoo.co.id
Abstract. This research was done to identify the body size and shape among three types of local sheeps of
Garut fighting type, Garut meat type and their crossbred fighting and meat type in Garut district (Margawati,
Sukawening and Wanaraja) and Bogor district (Ciomas and Cinagara). The total number of sheep from Garut
district used in this study were 520 head consisting of crossbred sheep from Margawati (71 head), fighting
sheep from Wanaraja (79 head), meat sheep from Wanaraja (84 head), fighting sheep from Sukawening (87
head) and meat sheep from Sukawening (62 head). Whereas the total number of sheep from Bogor district
were 137 head consisting of those of fighting sheep from Ciomas (66 head) and from Cinagara (70 head). Some
body measurenments measured in this study were body weight, body length, wither height, chest width, chest
circumfrence, cranium, tail length and tail width. Analysis of all those sizes were based on principal
component analysis (PCA) then visualized into the group of crowded diagram. Different group of crowed
builded on the base of scoring in body size and body shape derivated from covarian matrix were able to
identifed morphologycal penotypic differences among garut sheep studied. The results from canonical
analyses showed that body lenght, chest girth,chest width, and wither height were the most discriminant
variables had impact to the diferences score size between types of Garut sheep. However, the tail length and
tail width were variables had impact to diferences score shape. The crowed diagram showed that an
intersection among three types (fighting, meat and crossbred) of sheeps suspected as resulted from the same
genetic resource, namely Garut sheep. Genetic flow was suspected from crossbred in Margawati to meat
sheep in Cinagara as well as the sheeps from Sukawening and Wanaraja to fighting sheep in Ciomas. Close
genetic distances that were found among fighting and meat sheeps in Sukaweining as well as fighting and meat
sheeps in Wanaraja could be considered that these two groups of sheeps as the genetic resource of fighting
sheep in Ciomas.
Key Words: garut sheep, principal component analysis (PCA), body size and shape
kabupaten Garut dalam upaya meningkatkan
produksi daging nasional khususnya dari ternak
domba yang masih kurang jumlahnya melalui
peningkatan produktivitas ternak. Pemilihan
domba Garut untuk dikembangkan didasarkan
atas potensi sifat prolifikasi dan kemampuan
beradaptasi yang cukup baik. Domba Garut
memiliki tingkat kesuburan tinggi (prolifik),
memiliki potensi yang baik sebagai tipe
pedaging untuk dikembangkan sebagai sumber
daging dan sebagai tipe tangkas yang dapat
dijadikan sebagai daya tarik pariwisata daerah.
Pada perkembangannya domba Garut sekarang
Pendahuluan
Domba Garut merupakan sumber genetik
ternak lokal Indonesia yang perlu dilestarikan
keberadaannya. Kecamatan Wanaraja dan
Kecamatan Sukawening sebagai salah satu
sentra pengembangan dan penghasil bibit
domba pedaging dan tangkas di Kabupaten
Garut. Populasi domba di Kabupaten Garut
mencapai 337.036 ekor (Badan Pusat Statistik
Kabupaten Garut, 2004).
Upaya pengembangan dan peningkatan
populasi domba Garut perlu dilakukan di luar
8
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
sudah menyebar tidak hanya di daerah Garut
saja akan tetapi menyebar ke beberapa daerah
di luar Garut diantaranya daerah Bogor.
Beberapa
keunggulan
domba
Garut
dibandingkan dengan domba lainya menurut
Gunawan dan Noor (2005) diantaranya:
memiliki produktivitas cukup baik dan relatif
tahan terhadap penyakit, memiliki keunggulan
komparatif terutama dalam hal performa dan
kekuatannya serta memiliki bobot badan yang
dapat bersaing dengan domba impor dalam hal
kualitas dan produktivitas. Istiqomah et al.
(2006) melaporkan domba Garut mempunyai
bobot lahir dan bobot sapih yang tinggi, seleksi
berdasarkan bobot sapih dapat meningkatkan
bobot dewasa. Hasil penelitian Sumantri et al.
(2007) tentang hubungan phylogenik antara
domba lokal di Indonesia melalui pendekatan
analisis morfologi menunjukkan domba Garut
mempunyai karakteristik spesifik dan
mempunyai jarak genetik terjauh dari kelompok
domba lokal lainnya di Indonesia seperti domba
Madura, Donggala, Rote, Sumbawa dan Kisar.
Identifikasi keragaman bentuk tubuh pada
domba muda di Nigeria melalui Analisis
Komponen Utama (AKU) telah dilaporkan oleh
Salako (2006b). Karakterisasi penciri ukuran
dan bentuk pada domba Garut tipe tangkas,
pedaging dan silangannya masih sangat kurang,
oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi karakteristik penciri ukuran
(size) dan bentuk tubuh domba Garut tipe
tangkas, pedaging dan persilangannya di daerah
Garut dan luar Garut melalui Analisis
Komponen Utama (AKU). Informasi tersebut
sangat penting sebagai kriteria seleksi dalam
menentukan karakteristik dari domba Garut
tipe tangkas, pedaging dan persilangannya di
daerah Garut dan luar Garut.
atas domba tangkas Ciomas sebanyak 66 ekor,
dan tipe pedaging Cinagara sebanyak 71 ekor.
Ukuran tubuh yang Diukur
Ukuran tubuh yang diukur meliputi tinggi
pundak, panjang badan, lebar dada, dalam
dada, lingkar dada, panjang tengkorak, lebar
tengkorak, panjang ekor, dan lebar ekor
Analisis Data
Data ukuran‐ukuran tubuh domba dianalisis
dengan Analisis Komponen Utama (AKU).
Sebelum dilakukan pembandingan, kelompok
domba yang diteliti distandarisasi ke dalam
kelompok umur dua tahun sesuai menurut
Sumantri, et al. (2007) dengan rumus sebagai
berikut:
Xstandar
Xi‐terkoreksi =
x Xpengamatan ke‐i
Xpengamatan
Keterangan :
Xi‐terkoreksi
Xpengamatan ke‐i
standar
X
Xpengamatan
= ukuran ke‐i
yang dikoreksi
= ukuran peng‐
amatan ke‐i
= rataan sampel
umur dua tahun
= rataan sampel
Yang diamati
Data yang diperoleh dianalisis
menggunakan Analisis Komponen Utama (AKU).
Pengolahan
data
dilakukan
dengan
menggunakan perangkat lunak Minitab Release
13. Penggunaan AKU untuk mendapatkan
persamaan ukuran dan bentuk yang diturunkan
dari matriks kovarian (Gaspersz, 1992).
Persamaan ukuran diperoleh dari persamaan
skor komponen utama ke‐1 (keragaman total
tertinggi), sedangkan persamaan bentuk
diperoleh dari persamaan skor komponen ke‐2
(keragaman total setelah yang tertinggi). Skor
pada persamaan ukuran disetarakan dengan
sumbu X dan skor persamaan bentuk
disetarakan dengan sumbu Y, sehingga dapat
divisualisasikan dalam bentuk diagram
kerumunan (Nishida et al., 1982).
Model Matematika AKU menurut Gaspersz
(1992) sebagai berikut:
Y1=a11X1+a21X2+a31X3+...+a91X9
Keterangan:
Y1 = komponen utama ke‐1 (skor ukuran)
(Nishida et al., 1982)
Metode Penelitian
Ternak
Ternak yang diamati sebanyak 520 ekor
domba Garut yang berasal dari Margawati
merupakan (persilangan antara betina tipe
pedaging dengan pejantan tipe tangkas)
sebanyak 71 ekor, tangkas Wanaraja sebanyak
79 ekor, pedaging Wanaraja sebanyak 84 ekor,
tangkas Sukawening sebanyak 87 ekor,
pedaging Sukawening sebanyak 62 ekor.
Domba Garut dari kabupaten Bogor terdiri
9
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
X1‐X9 = variabel ke 1,2,3...9
a11‐a91 = vektor Eigen ke‐ 1,2,3...,9
Y2 = a12X1+a22X2+a32X3+...+a92X9
Keterangan:
Y2 = komponen utama ke‐2 (skor bentuk)
(Nishida et al., 1982)
X1‐X9 = variabel ke 1,2,3...9
a12‐a92 = vektor Eigen ke‐ 1,2,3...,9
Hasil dan Pembahasan
Persamaan ukuran dan bentuk tubuh
domba garut tipe tangkas, tipe pedaging
dan persilangannya
Persamaan ukuran dan bentuk domba Garut
tipe pedaging, tangkas dan persilangannya
disajikan pada Tabel 1. Keragaman total
komponen utama ke‐1 yang disetarakan
dengan ukuran, terendah 39,0% pada domba
tangkas Ciomas (Bogor) dan tertinggi pada
tangkas
Wanaraja
71,6%,
sedangkan
keragaman total komponen utama ke‐2 yang
disetarakan dengan bentuk terendah pada
tangkas Wanaraja 9,3% dan tertinggi pada
pedaging sukawening 20,5%. Nilai eigen ukuran
tertinggi 7,160 pada domba tangkas Wanaraja
dan terendah 3,896 pada domba tangkas
Ciomas, sedangkan nilai eigen bentuk tertinggi
1,696 pada domba pedaging Sukawening dan
terendah 0,926 pada domba tangkas Wanaraja.
Perbedaan baik bentuk maupun ukuran pada
domba Garut tipe pedaging dengan tipe
tangkas dan persilangganya, kemungkinan
disebabkan oleh adanya seleksi kearah tipe
tangkas maupun pedaging. Hal ini mendukung
penelitian Mansjoer et al. (2007) yang
melaporkan adanya perbedaan genetik antara
domba Garut tipe tangkas dengan pedaging.
Ukuran dan bentuk tubuh sering dipakai
sebagai indikator penentu bangsa dan asal
ternak (Itty et al., 1997). Karakteristik
morfologi dapat dijadikan sebagai dasar dalam
pengidentifikasian ternak pada kelompok‐
kelompok ternak asli yang dapat mewakili suatu
galur yang unik (Shrestha 2004) dan perbedaan
karakter morfologi disebabkan oleh adanya
perbedaan adaptasi terhadap kondisi ekologi
10
tempat dikembangbiakan pada domba
dilaporkan oleh (Riva et al., 2003 dan Gizaw et
al., 2007) dan pada kambing (Alade et al.,
2008). Nilai heritabilitas parameter tubuh pada
domba berkisar antara 0,26‐0,57 dengan
korelasi genetik sangat tinggi terhadap bobot
hidup (Janssens dan Vandepitte, 2003),
selanjutnya Gizaw et al. (2008) melaporkan
nilai heritabilitas parameter tubuh masing‐
masing sebesar 0,36; 0,27; 0,31; 0,48 dan 0,23
untuk tinggi pundak, panjang badan, lingkar
dada, panjang ekor dan lingkar ekor.
Heritabilitas dan korelasi genetik yang tinggi
terhadap bobot hidup mengakibatkan seleksi
berdasarkan bentuk dan ukuran tubuh dapat
memperbaiki pertumbuhan domba (Salako,
2006a dan Otoikhian et al., 2008). Adeyinka dan
Mohammed (2006) melaporkan pada bangsa
kambing (Red Sokoto dan White Borno) di
Nigeria Utara terdapat korelasi yang tinggi
antara bobot badan dengan parameter tubuh
(lingkar dada, tinggi pundak dan panjang
badan) dengan nilai korelasi berkisar 0,71
sampai 0,93. Penelitian Fajemilehin dan Salako
(2008) menyimpulkan bobot badan dapat
diduga melalui lingkar dada, lebar pinggang,
panjang badan, tinggi pundak dan tinggi
pinggang.
Parameter tubuh yang berpengaruh
terhadap penciri ukuran dan bentuk pada
berbagai tipe domba Garut diperlihatkan pada
Tabel 2. Secara umum penciri ukuran yang
berkorelasi positif dengan skor ukuran yaitu
linkar dada pada semua tipe domba Garut,
panjang badan pada domba Margawati dan
tangkas Wanaraja, dan tinggi pundak pada
domba pedaging Sukawening. Penciri bentuk
lebar ekor ditemukan pada domba Margawati
dan pedaging Cinagara, sedangkan panjang
ekor ditemukan pada pdaging Sukawening,
tangkas Sukawening, tangkas Wanaraja,
pedaging Wanaraja dan tangkas Ciomas.
Gunawan dan Sumantri (2008) melaporkan
berdasarkan hasil fenogram, domba Margawati
berada dalam satu kelompok dengan domba
tangkas Wanaraja, pedaging Wanaraja dan
tangkas Ciomas; sedangkan domba tangkas
Sukawening, pedaging Sukawening dan
pedaging Cinagara berada pada satu kelompok
lain.
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
0,5
Bentuk
0,4
0,3
0,2
0,1
0,0
-0,1
-0,5
0,0
Ukuran
0,5
1,0
Gambar 1. Kerumunan data domba yang diamati berdasarkan skor ukuran dan bentuk
Keterangan: =Margawati, = Pedaging Sukawening, ■ = Tangkas Sukawening, ◊ = Pedaging Wanaraja, ♦ = Tangkas Wanaraja,
∆ = Tangkas Ciomas, ▼ = Cinagara
Perbandingan ukuran dan bentuk domba
garut tangkas dan pedaging
dan ukuran terjadi pada domba Margawati dan
pedaging Cinagara.
Kekerabatan antara kelompok domba
tangkas dengan kelompok domba pedaging dan
persilangannya
diperlihatkan
dengan
kerumunan data yang bertumpang tindih pada
Gambar 1, dan hasil rangkuman hubungan
genetiknya diperlihatkan pada Tabel 3. Hal
tersebut terjadi karena diduga keseluruhan
kelompok domba yang diamati berasal dari
sumber yang sama yaitu domba Garut.
Kelompok domba pedaging Sukawening dan
tangkas Sukawening berhubungan secara
genetis atau berkerabat dekat. Hal yang sama
juga ditemukan antara kelompok domba
pedaging Wanaraja dan tangkas Wanaraja.
Penciri bentuk, baik pada domba tangkas dan
pedaging Sukawening sama yaitu panjang ekor,
tetapi berkorelasi positif terhadap skor bentuk
pada domba pedaging dan negatif pada domba
tangkas. Penciri bentuk yang sama
menunjukkan bahwa secara genetis kedua
kelompok domba tersebut memiliki kesamaan.
Arah korelasi yang berbeda menunjukkan
bahwa program pemuliaan kedua kelompok
domba tersebut telah mengalami seleksi ke
arah sifat yang berbeda. Secara genetik kedua
kelompok domba tersebut masih berkerabat.
Kelompok domba tangkas dan pedaging
Wanaraja berkerabat dekat.
Perbedaan kerumunan data domba yang
diamati pada Gambar 1, menunjukkan bahwa
tipe pedaging pada umumnya memiliki skor
ukuran yang lebih tinggi dibandingkan dengan
tipe tangkas, yang diperlihatkan dengan
kerumunan data domba tangkas ke arah kanan
(Sumbu X). Tipe tangkas pada umumnya
memiliki skor bentuk yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tipe pedaging, yang
diperlihatkan dengan kerumunan data domba
tangkas ke arah atas (Sumbu Y). Bentuk domba
Margawati dan pedaging Cinagara meliputi
semua bentuk domba tangkas dan pedaging
yang diamati, berdasarkan kisaran skor bentuk.
Everitt dan Dunn (1998) menyatakan bahwa
ahli taksonomi lebih tertarik pada skor
komponen bentuk karena pengaruh faktor
genetik sangat besar. Berdasarkan bentuk,
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara
genetik, semua kelompok domba yang diamati
bersumber dari domba Garut. Perubahan skor
bentuk dengan penciri bentuk yang berbeda
diantara kelompok domba yang diamati
menunjukkan bahwa program pemuliaan yang
berbeda seperti untuk tujuan tangkas (tangkas
Wanaraja, tangkas Sukawening dan tangkas
Ciomas) berbeda dengan untuk pedaging
(pedaging Wanaraja dan pedaging Sukawening).
Persilangan antara tipe pedaging dengan
tangkas dengan tujuan memperbesar bentuk
11
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
Tabel 1. Persamaan ukuran dan bentuk domba garut tipe tangkas, tipe pedaging dan persilangannya di berbagai kelompok domba yang diamati
Kelompok
Domba Garut
Persamaan
Ukuran
Margawati
Tangkas
Sukawening
Pedaging
Sukawening
Tangkas
Wanaraja
Pedaging
Wanaraja
Tangkas Ciomas
Pedaging
Cinagara
0,361X1+0,414X2+0,347X3+0,382X4+0,402X5+0,188X6+
0,180X7+0,216X8–0,001X9
0,353X1+0,364X2+0,370X3+0,369X4+0,371X5+0,231X6+
0,206X7+0,170X8+0,238X9
0,405X1+0,392X2+0,355X3+0,379X4+0,271X5+0,302X6–
0,096X7+0,155X8+0,219X9
0,339X1+0,351X2+0,351X3+0,341X4+0,331X5+0,350X6+
0,259X7+0,167X8+0,270X9
0,393X1+0,388X2+0,262X3+0,380X4+0,260X5+0,294X6+
0,294X7+0,067X8+0,277X9
0,327X1+0,361X2+0,368X3+0,311X4+0,463X5+0,063X6+
0,210X7+0,050X8+0,229X9
0,332X1+0,337X2+0,363X3+0,380X4+0,396X5+0,247X6+
0,082X7+0,272X8+0,151X9
Bentuk
0,185X1–0,016X2–0,108X3+0,014X4+0,007X5–0,391X6+
0,039X7+0,250X8+0,825X9
0,127X1+0,056X2+0,206X3+0,112X4+0,165X5–0,510X6–
0,393X7–0,659X8+0,220X9
–0,127X1+0,060X2–0,149X3+0,040X4–0,256X5–0,016X6+
0,592X7+0,603X8+0,405X9
–0,089X1–0,063X2–0,100X3–0,238X4–0,066X5–0,103X6+
0,082X7+0,864X8+0,374X9
0,070X1+0,017X2–0,412X3+0,073X4+0,281X5–0,377X6–
0,089X7+0,747X8+0,374X9
0,071X1–0,181X2–0,086X3–0,286X4–0,019X5+0,059X6–
0,463X7+0,723X8+0,348X9
0,196X1+0,362X2+0,045X3–0,133X4–0,157X5+0187X6+
0,507X7–0,266X8–0,651X9
Keragaman Ukuran dan
Total (%) bentuk
Ukuran dan 4,728 dan 1,166
bentuk
47,3 dan 11,7
58,5 dan 10,1
49,0 dan 20,5 4,896 dan 1,696
71,6 dan 9,3 7,160 dan 0,929
53,8 dan 11,0 5,384 dan 1,095
39,0 dan 12,8 3,896 dan 1,284
48,0 dan 12,6 4,804 dan 1,251
X1= tinggi pundak; X2= panjang badan; X3= lebar dada; X4= dalam dada; X5= lingkar dada; X6= panjang tengkorak; X7= lebar tengkorak; X8= panjang ekor; X9= lebar ekor
Tabel 2. Rangkuman penciri ukuran dan bentuk domba garut tipe pedaging garut tipe tangkas dan persilangannya
Kelompok domba Garut
Margawati
Tangkas Sukawening
Pedaging Sukawening
Tangkas Wanaraja
Pedaging Wanaraja
Tangkas Ciomas
Pedaging Cinagara
Penciri Ukuran dan Korelasi terhadap Skor Ukuran
Panjang badan (positif)
lebar dada (positif)
Tinggi pundak(positif)
Panjang badan (positif), lebar dada (positif)
Tinggi pundak (positif)
Lingkar dada (positif)
Lingkar dada (positif)
12
Penciri Bentuk dan korelasi terhadap skor bentuk
Lebar ekor (positif)
Panjang ekor (negatif)
Panjang ekor (positif)
Panjang ekor (positif)
Panjang ekor (positif)
Panjang ekor (positif)
Lebar ekor (negatif)
Nilai Eigen
5,845 dan 1,012
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
Tabel 3. Rangkuman hubungan genetik antara domba garut tipe pedaging garut tipe tangkas dan
persilangannya
Antara kelompok Margawati Tangkas
Sukawening
Pedaging
Sukawening
Tangkas
Wanaraja
Margawati (M) 0 ‐ + 0 ‐ + + 0
Tangkas ‐ 0
Sukawening
(TS)
Pedaging
Sukawening
(PS)
Tangkas
Wanaraja (TW)
Pedaging
Wanaraja (PW)
Tangkas Ciomas
(TC)
Pedaging
Cinagara (PCn)
‐ + + +
‐ + + + ‐ ‐
Pedaging
Wanaraja
Tangkas Pedaging
Ciomas Cinagara
0
+ + 0
‐ ‐ ‐ 0
+ ada hubungan (berkerabat dekat); ‐ tidak ada hubungan (berkerabat jauh)
pedaging Sukawening, tangkas Wanaraja,
Hal yang sama juga ditemukan antara pedaging Wanaraja dan tangkas Ciomas.
kelompok domba pedaging Wanaraja dan Kekerabatan dekat juga ditemukan antara
pedaging Sukawening; juga antara tangkas domba Margawati dan domba pedaging
Wanaraja dan pedaging Sukawening. Kelompok Cinagara. Domba tangkas Ciomas berkerabat
domba tangkas Sukawening juga berkerabat dekat dengan domba tangkas dan pedaging
dekat dengan tangkas Wanaraja. Hal yang sama Sukawening dan terhadap domba tangkas dan
juga ditemukan antara kelompok domba pedaging Wanaraja.
tangkas Sukawening dan pedaging Wanaraja. Aliran genetik diduga terjadi dari kelompok
Domba Margawati mempunyai kesamaan domba Margawati ke domba pedaging
genetik yang tinggi dengan domba Cinagara, hal Cinagara; dan dari kelompok domba
ini dimungkinkan sama‐sama merupakan Sukawening dan Wanaraja ke kelompok domba
domba persilangan antara tipe pedaging tangkas Ciomas.
dengan tipe tangkas.
Kesimpulan Ucapan Terimakasih
Parameter tubuh panjang badan, lingkar
dada, lebar dada dan tinggi pundak
mempunyai dampak terhadap bervariasinya
skor ukuran pada tipe domba Garut, sedangkan
panjang ekor dan lebar ekor mempunyai
dampak terhadap score bentuk. Tumpang
tindih kerumunan data domba yang diamati
disebabkan sumber genetik yang sama yaitu
domba Garut. Kelompok domba pedaging
Sukawening dan tangkas Sukawening
berkerabat dekat, begitu pula antara kelompok
domba tangkas dan pedaging Wanaraja. Kedua
kelompok domba ini sebagai sumber aliran
genetik dari kelompok domba tangkas Ciomas.
Kekerabatan dekat ditemukan diantara
kelompok domba tangkas Sukawening,
13
Ucapan terimakasih disampaikan kepada
Kementrian Riset dan Teknologi Republik
Indonesia yang telah mendanai penelitian ini
melalui
Program
RUT
XII
No.12/Perj/Dep.III/RUT/PPKI/II/2005.
Daftar Pustaka
Adeyinka IA and ID Mohammed. 2006. Relationship
of liveweight and linear body measurenment in
two breeds of goat of Northern Nigeria. J. of
Anim. and Vet Advances 5 (11): 891‐893.
Alade NK, ST Mbap and ID Kwari. 2008. Breed and
environmental effects on linear measurenment
of goats in a semi arid region of Nigeria. J. of
Anim. And Vet. Adv. 7(6):689‐694.
A Gunawan dkk/Animal Production 11 (1) 8‐14
Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut. 2004. Garut
dalam Angka. Badan Pusat Statistik, Garut.
Everitt BS and G Dunn. 1999. Applied Multivariate
Data Analysis. Edward Arnold, London.
Fajemilehin OKS, and AE Salako. 2008. Body
measurenment characteristic of the West African
Dwarf (WAD) goat in deciduous forest zone of
Soutwestern Nigeria, Africa. J. of Biotech. 7(14):
2521‐2526.
Gasperzs. 1992. Teknik Analisis dan Penelitian
Percobaan Jilid ke‐2. Penerbit Tarsito, Bandung.
Gizaw S, JAM van Arendonk, H Komen, JJ Windig and
O Hanotte. 2007. Population structure, Genetic
variation and morphological diversity in
indigenous sheep of Ethiopia. Animal Genetics
37(6): 621‐628.
Gizaw S, H Komen and JAM van Arendonk. 2008.
Selection on Linear Size Trits to Improve Live
Weight in Menz Sheep Under Nucleus and Village
Breeding Programs. Livestock Science. 118:92‐
98.
Gunawan A dan RR Noor.2005. Pendugaan nilai
heritabilitas bobot lahir dan bobot sapih domba
Garut tipe laga. Med. Peternakan 29:7‐15.
Gunawan A dan C Sumantri. 2008. Pendugaan nilai
campuran fenotifik dan jarak genetik domba
Garut dan persilangannya. J. Pengemb.
Peternakan Tropis 33 (3):176‐185.
Istiqomah L, C Sumantri dan TR Wiradarya. 2006.
Performa dan evaluasi genetik bobot lahir dan
bobot sapih domba Garut di peternakan Domba
Sehat Bogor. J. Pengemb. Peternakan Tropis
31(4): 232‐242.
Itty P, P Ankers, J Zinsstag, S Trawally and K Pfister.
1997. Productivity and profitability of sheep
production in the Gamba: Implications for
livestock development in West Africa. J. of Int.
Agric. 36: 153‐172.
Janssens S and W Vandepitte. 2003. Genetic
Parameters for Body Measurenments and Linear
Type Traits in Belgian Bleu du Maine, Suffolk and
Texel sheep. Small Rumin. Res. 54:13‐24.
Mansjoer SS, T Kertanugraha dan C Sumantri. 2007.
Estimasi jarak genetik antar domba Garut tipe
tangkas dengan tipe pedaging. Med. Peternakan
30:129‐138.
Nishida T, K Nozawa, T Hashiguchi and S S Mansjoer.
1982. Body Measurement and Analysis of
External Genectic Characters of Indonesian
Native Fowl. In: The Origin and Phylogeny of
Indonesian Native Livestock :75‐83.
Otoikhian CSO, AM Otoikhian, OP Akporhuarho and
C Isidahomen. 2008. Correlation of body weight
and some body measurement parameters in
Ouda Sheep under extensive management
System. Africa. J. of General Agric. 4(3): 129‐133.
Riva J, R Rizzi, S Marelli and LG Cavalchini. 2003.
Body Measurenments in Bergamasca Sheep.
Small Rumin. Res. 55:221‐227.
Salako AE. 2006a. Application of morphological
indices in the assessment of type and function in
sheep. Int. J. Morphol. 24(1): 13‐18.
Salako AE. 2006b. Principal component factor
analysis of the morphostructure of immature
Uda sheep. Int. J. Morphol. 24(4): 571‐774.
Shrestha JNB. 2004. Conserving Domestic Animal
Diversity Among Composite Herds. Small
Rumin.Res. 56: 3‐20
Sumantri C, A Einstiana, JF Salamena dan I Inounu.
2007. Keragaan dan hubungan phylogenik antar
domba lokal di Indonesia melalui pendekatan
analisis morfologi. JITV. 12(1):42‐54.
14