Saat masa lalu menyapa
Saat duduk bersama seorang anak temanku (menginjak usia 5 thn) iseng-iseng kupertanyakan.
"Bagaimana sekolahmu de... sudah bisa baca belum?"
"Udah" jawabnya polos.
lalu kutunjuk sebuah tulisan dikulkas "coba baca tulisan itu!", dan dibacanya huruf demi huruf dengan benar.
Dan kembali kupertanyakan "jadi apa bunyinya?".
"Nggak tahu" jawabnya dengan polos.
_Betapa saat itu aku tidak bisa melukiskan perasaanku dan hanya bisa tersenyum namun bukan menertawakan si bocah melainkan teringat pada diriku sendiri saat berbagai peristiwa yang kutangkap (kuterjemahkan dalam pikiran) tidak ada satupun yang berhubungan apalagi sampai memahami akan keterkaitan (sebab-akibat).
_Yang kutahu saat itu 'ini ya ini'... 'itu ya itu' tidak ada kata 'ini dulu baru itu' atu 'ini dan itu sama saja atau bahkan beda sama sekali' atau condong menolak perspektif lain yang dianggapnya tidak sejalan/sependapat 'kalau sudah begini ya sudah tidak perlu dipertanyakan/digugat/digali lagi'. Singkatnya tidak ada bunyi kalau dianalogika membaca hanya melihat tulisan tapi tidak mampu mengenali apa yang ditunjuk oleh tulisan tersebut.
_Wajarlah bila banyak orang yang merasa bergelut dengan realita akan tetapi terperangkap masuk pada relatifitas dan relatifitasnya itubukan disandarkan pada yang Maha Berkehendak melainkan mencerminkan kebingungan. Maka seringkali muncul dari mulut mereka menganggap ayat-ayatNYA hanya dongeng belaka, seakan tidak ada makna tersirat apalagi menyentuh sanubarinya. Dari pemikiranya tergambar jelas bahwa ia hanya mampu melihat kulit atau akibat-akibat saja. Padahal ia belajar sejarah bahkan segala kitab dipelajarinya, namun belum menyentuh substansinya. Seakan terhalang atau mungkin secara tidak disadarinya ia terus menutup diri karena yang ia kejar hanya yang ada dalam angannya (perspektifnya) saja... yang menurutnya besar atau wah, sedangkan hal-hal kecil yang prinsipil diabaikan.
_Begitu indahnya dekat dengan anak-anak saat kita menyadari betapa banyak detail kecil yang terlewat namun faktanya adalah celah-celah kebodohan yang tidak kita sadari dimana kitapun hakikatnya masih kanak-kanak. Sering uring-uringan tapi gak jelas apa yang digugat. Atau mungkin lebih tepat orang-orang yang gagal/kalah memerangi hawa nafsunya. Namun memerangi orang lain yang yakin/menang. Cobalah libatkan diri dalam debat (diskusi namun beda dasar)... dengan niat menjadikan mereka pembelajaran atau ketulusan untuk menyampaikan. Banyak pelajaran yg dapat kita ambil apabila kita mampu menyelami jalan pemikiran mereka tanpa kita harus terpengaruh. Janganlah alergi dengan kata 'berdebatan' cukup debat saja minimal kita tahu fakta lapangan syukur-syukur orientasi pemikiran mereka dan minimal dapat menjadikan kita waspada terhadap pengaruh2 pemikiran mereka dengan senantiasa mawas diri (mampu mengukur kemampuan diri) serta menggugah... memacu kita terus memperdalam agama dan memperkuat ukhuwah dengan menyerap perdebatan2 hanya dikarenakan perbedaan perspektif atau wilayah pemahaman antar kelompok dalam tubuh muslim sendiri. Atau dengan kata lain kita tidak berkutat (terjebak) berdebat dengan sesama hanya karena beda wilayah pemahaman ataupun beda tahapan.
_Saat kita mau duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi niscaya kita dapat menjulurkan tali penghubung yang sampai pada nalar mereka dan diharapkan mereka dapat mengerti dengan segala kesabaran yang kita miliki untuk sekedar mengingatkan dan selebihnya diserahkan pada mereka untuk mau atau tidak memasuki/menjalankan Islam.
_Dalam hadist dibawah ini:
Sesungguhnya Allah akan mendukung (mengokohkan) agama ini (Islam) dengan perantaraan seorang yang durhaka. (Mutafaq'alaih*)
*Apabila hadith yang satu itu diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanad yang satu yang bersamaan qaul dan matan dan sanadnya, maka hadith itu dinamakan: Hadith Muttafaqun 'Alaih, ertinya: yang disetujui keduanya.
Belajar dari hal-hal kecil
===============
Dalam suatu hadist Rosululloh saw memberikan suatu nasehat yang berkait langsung dengan agama (risalahnya) :
Sesungguhnya agama ini mudah dan tiada seorang yang mempersulit agama, kecuali pasti dikalahkannya. Bertindaklah tepat, lakukan pendekatan, sebarkan berita gembira, permudahlah dan gunakan siang dan malam hari serta sedikit waktu fajar sebagai penolongmu. (HR. Bukhari)
_Ada beberapa element yang tersirat dalam hadist tersebut semoga tulisan ini mampu menjadi penguhubungnya agar lebih menyentuh maknanya. Betapa mudah Islam apabila semua ajaran-ajaranya mampu kita serap sebagai perenungan dimana kita merasa sedang dinasehati atau diberi pelajaran atau menghadirkannya sebagai bentuk dialog dari hati kehati saat menerima dan menyampaikan (tulus dan jujur) lalu diterapkan dalam keseharian apa yang kita pahami. Maka dari pelaksanaan itulah kita tahu ada pelajaran dari ajaran2annya dan membentuk prilaku serta karakter yang teguh, bukan hanya sekedar ajaran tanpa pelajaran atau hanya perbendaharaan kata melimpah tanpa menyentuh sedikitpun yang ditunjuk/dimaksudkan. Maka tak jarang kita temui ungkapan 'ach masih biasa saja' atau lebih ekstrimnya 'itumah nanti urusan akhirat'.
Sebagaimana ayat dibawah ini :
[23 A L - M U ' M I N U N 62] Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.
_Dalam suatu ayat meberitahukan kepada kita suatu tanda yang layak kita renungkan sebagai pengukur diri kita dalam memahami atau menangkap kandungannya, diantaranya :
[39 A Z - Z U M A R 23] Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.
_Makna mengulang secara luas yang saya pahami sebagaimana pada beberapa ayat dibawah ini, dimana alam semesta diciptakan dengan prinsip-prinsip yang indah, dimana prinsip itu akan kita pahami melalui berbagai peristiwa yang sebenarnya berulang seakan ada isyarat yang harus kita pahami dan dijadikan pelajaran (hikmah). Dan alam yang saya maksudkan disini buka sekedar ilmu falak (perbintangan) tapi alam dengan segala isinya tidak terkecuali peristiwa sosial sampai wilayah pribadi. Mengajak kita untuk bersentuhan dengan realita dengan kesadaran yang tinggi tanpa meninggalkan/mengesampingkan siapa yang memberikan penerangan/cahaya dimana dengan cahaya itu kita mampu menangkap (menjadikan sebagai petunjuk). Subahanalloh wal hamdulillah huallohuakbar.... sungguh suatu nikmat yang tidak dapat mudah untuk diuraikan; merasakan langsung betapa ia merasakan ketergantungan yang teramat sangat denganNYA dan begitu dekat.
[17 A L - I S R A '89] Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya).
[67 A L - M U L K 3]. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
[15 A L - H I J R 87]. Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur'an yang agung.
_Mari kita refleksikan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh sebelum semakin banyak penggugat yang tak segan2 mengumbar fitnah. Tidakah kita takut meninggalkan generasi yang lemah? Minimal kita bisa kasih aba-aba 'waspada'. Zaman sudah menuntut untuk itu tebarlah pandanganmu.
"Bagaimana sekolahmu de... sudah bisa baca belum?"
"Udah" jawabnya polos.
lalu kutunjuk sebuah tulisan dikulkas "coba baca tulisan itu!", dan dibacanya huruf demi huruf dengan benar.
Dan kembali kupertanyakan "jadi apa bunyinya?".
"Nggak tahu" jawabnya dengan polos.
_Betapa saat itu aku tidak bisa melukiskan perasaanku dan hanya bisa tersenyum namun bukan menertawakan si bocah melainkan teringat pada diriku sendiri saat berbagai peristiwa yang kutangkap (kuterjemahkan dalam pikiran) tidak ada satupun yang berhubungan apalagi sampai memahami akan keterkaitan (sebab-akibat).
_Yang kutahu saat itu 'ini ya ini'... 'itu ya itu' tidak ada kata 'ini dulu baru itu' atu 'ini dan itu sama saja atau bahkan beda sama sekali' atau condong menolak perspektif lain yang dianggapnya tidak sejalan/sependapat 'kalau sudah begini ya sudah tidak perlu dipertanyakan/digugat/digali lagi'. Singkatnya tidak ada bunyi kalau dianalogika membaca hanya melihat tulisan tapi tidak mampu mengenali apa yang ditunjuk oleh tulisan tersebut.
_Wajarlah bila banyak orang yang merasa bergelut dengan realita akan tetapi terperangkap masuk pada relatifitas dan relatifitasnya itubukan disandarkan pada yang Maha Berkehendak melainkan mencerminkan kebingungan. Maka seringkali muncul dari mulut mereka menganggap ayat-ayatNYA hanya dongeng belaka, seakan tidak ada makna tersirat apalagi menyentuh sanubarinya. Dari pemikiranya tergambar jelas bahwa ia hanya mampu melihat kulit atau akibat-akibat saja. Padahal ia belajar sejarah bahkan segala kitab dipelajarinya, namun belum menyentuh substansinya. Seakan terhalang atau mungkin secara tidak disadarinya ia terus menutup diri karena yang ia kejar hanya yang ada dalam angannya (perspektifnya) saja... yang menurutnya besar atau wah, sedangkan hal-hal kecil yang prinsipil diabaikan.
_Begitu indahnya dekat dengan anak-anak saat kita menyadari betapa banyak detail kecil yang terlewat namun faktanya adalah celah-celah kebodohan yang tidak kita sadari dimana kitapun hakikatnya masih kanak-kanak. Sering uring-uringan tapi gak jelas apa yang digugat. Atau mungkin lebih tepat orang-orang yang gagal/kalah memerangi hawa nafsunya. Namun memerangi orang lain yang yakin/menang. Cobalah libatkan diri dalam debat (diskusi namun beda dasar)... dengan niat menjadikan mereka pembelajaran atau ketulusan untuk menyampaikan. Banyak pelajaran yg dapat kita ambil apabila kita mampu menyelami jalan pemikiran mereka tanpa kita harus terpengaruh. Janganlah alergi dengan kata 'berdebatan' cukup debat saja minimal kita tahu fakta lapangan syukur-syukur orientasi pemikiran mereka dan minimal dapat menjadikan kita waspada terhadap pengaruh2 pemikiran mereka dengan senantiasa mawas diri (mampu mengukur kemampuan diri) serta menggugah... memacu kita terus memperdalam agama dan memperkuat ukhuwah dengan menyerap perdebatan2 hanya dikarenakan perbedaan perspektif atau wilayah pemahaman antar kelompok dalam tubuh muslim sendiri. Atau dengan kata lain kita tidak berkutat (terjebak) berdebat dengan sesama hanya karena beda wilayah pemahaman ataupun beda tahapan.
_Saat kita mau duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi niscaya kita dapat menjulurkan tali penghubung yang sampai pada nalar mereka dan diharapkan mereka dapat mengerti dengan segala kesabaran yang kita miliki untuk sekedar mengingatkan dan selebihnya diserahkan pada mereka untuk mau atau tidak memasuki/menjalankan Islam.
_Dalam hadist dibawah ini:
Sesungguhnya Allah akan mendukung (mengokohkan) agama ini (Islam) dengan perantaraan seorang yang durhaka. (Mutafaq'alaih*)
*Apabila hadith yang satu itu diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dengan sanad yang satu yang bersamaan qaul dan matan dan sanadnya, maka hadith itu dinamakan: Hadith Muttafaqun 'Alaih, ertinya: yang disetujui keduanya.
Belajar dari hal-hal kecil
===============
Dalam suatu hadist Rosululloh saw memberikan suatu nasehat yang berkait langsung dengan agama (risalahnya) :
Sesungguhnya agama ini mudah dan tiada seorang yang mempersulit agama, kecuali pasti dikalahkannya. Bertindaklah tepat, lakukan pendekatan, sebarkan berita gembira, permudahlah dan gunakan siang dan malam hari serta sedikit waktu fajar sebagai penolongmu. (HR. Bukhari)
_Ada beberapa element yang tersirat dalam hadist tersebut semoga tulisan ini mampu menjadi penguhubungnya agar lebih menyentuh maknanya. Betapa mudah Islam apabila semua ajaran-ajaranya mampu kita serap sebagai perenungan dimana kita merasa sedang dinasehati atau diberi pelajaran atau menghadirkannya sebagai bentuk dialog dari hati kehati saat menerima dan menyampaikan (tulus dan jujur) lalu diterapkan dalam keseharian apa yang kita pahami. Maka dari pelaksanaan itulah kita tahu ada pelajaran dari ajaran2annya dan membentuk prilaku serta karakter yang teguh, bukan hanya sekedar ajaran tanpa pelajaran atau hanya perbendaharaan kata melimpah tanpa menyentuh sedikitpun yang ditunjuk/dimaksudkan. Maka tak jarang kita temui ungkapan 'ach masih biasa saja' atau lebih ekstrimnya 'itumah nanti urusan akhirat'.
Sebagaimana ayat dibawah ini :
[23 A L - M U ' M I N U N 62] Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.
_Dalam suatu ayat meberitahukan kepada kita suatu tanda yang layak kita renungkan sebagai pengukur diri kita dalam memahami atau menangkap kandungannya, diantaranya :
[39 A Z - Z U M A R 23] Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.
_Makna mengulang secara luas yang saya pahami sebagaimana pada beberapa ayat dibawah ini, dimana alam semesta diciptakan dengan prinsip-prinsip yang indah, dimana prinsip itu akan kita pahami melalui berbagai peristiwa yang sebenarnya berulang seakan ada isyarat yang harus kita pahami dan dijadikan pelajaran (hikmah). Dan alam yang saya maksudkan disini buka sekedar ilmu falak (perbintangan) tapi alam dengan segala isinya tidak terkecuali peristiwa sosial sampai wilayah pribadi. Mengajak kita untuk bersentuhan dengan realita dengan kesadaran yang tinggi tanpa meninggalkan/mengesampingkan siapa yang memberikan penerangan/cahaya dimana dengan cahaya itu kita mampu menangkap (menjadikan sebagai petunjuk). Subahanalloh wal hamdulillah huallohuakbar.... sungguh suatu nikmat yang tidak dapat mudah untuk diuraikan; merasakan langsung betapa ia merasakan ketergantungan yang teramat sangat denganNYA dan begitu dekat.
[17 A L - I S R A '89] Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari (nya).
[67 A L - M U L K 3]. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
[15 A L - H I J R 87]. Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Qur'an yang agung.
_Mari kita refleksikan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh sebelum semakin banyak penggugat yang tak segan2 mengumbar fitnah. Tidakah kita takut meninggalkan generasi yang lemah? Minimal kita bisa kasih aba-aba 'waspada'. Zaman sudah menuntut untuk itu tebarlah pandanganmu.
Komentar