DUA KUTUB EKSTRIM
Anda boleh saja berbangga dengan semua hal yang Anda punya. Tapi, jangan salah. Tak satu pun dari kita, semua manusia, yang bisa lepas dari dua hal : penasaran dan bosan.
Mengapa? Mengapa sebentar-sebentar kita penasaran terhadap sesuatu, lalu kita bosan padanya dan penasaran pada hal lain lagi dan semikian seterusnya? Mengapa jiwa kita terombang-ambing di antara dua perilaku jiwa yang sangat kuat ini? Dari mana semua perasaan ini?
Ibnu Arabi, filosof dan guru mistik ternama dalam Islam, dalam bukunya Al Futuhat, menjawab pertanyaan tersebut. Penjelasannya sekaligus menerangkan bagaimana fitrah sesungguhnya bekerja dalam diri setiap orang.
Kebosanan, katanya, tak lebih dari “geajala penolakan atas sesuatu yang tidak sempurna”. Dengan kata lain, kebosanan merupakan mechanism spontan fitrah untuk tetap di jalan pencarian kesempurnaan sejati. “Ia akan mengguah manusia untuk beranjak, bergegas mencari Sesutu yang lebih sempurna”.
Ibnu Arabi juga percaya kesempurnaan sejati akan membuat manusia memasuki “keadaan fana”, meleburnya subjek di dalam objek yang dicintainya. Saat itulah, katanya “tak ada lagi kebosanan, keresahan dan penasaran mencari objeklain yang lebig sempurna”.
Mengapa? Mengapa sebentar-sebentar kita penasaran terhadap sesuatu, lalu kita bosan padanya dan penasaran pada hal lain lagi dan semikian seterusnya? Mengapa jiwa kita terombang-ambing di antara dua perilaku jiwa yang sangat kuat ini? Dari mana semua perasaan ini?
Ibnu Arabi, filosof dan guru mistik ternama dalam Islam, dalam bukunya Al Futuhat, menjawab pertanyaan tersebut. Penjelasannya sekaligus menerangkan bagaimana fitrah sesungguhnya bekerja dalam diri setiap orang.
Kebosanan, katanya, tak lebih dari “geajala penolakan atas sesuatu yang tidak sempurna”. Dengan kata lain, kebosanan merupakan mechanism spontan fitrah untuk tetap di jalan pencarian kesempurnaan sejati. “Ia akan mengguah manusia untuk beranjak, bergegas mencari Sesutu yang lebih sempurna”.
Ibnu Arabi juga percaya kesempurnaan sejati akan membuat manusia memasuki “keadaan fana”, meleburnya subjek di dalam objek yang dicintainya. Saat itulah, katanya “tak ada lagi kebosanan, keresahan dan penasaran mencari objeklain yang lebig sempurna”.
Komentar