Pesta Agung
Bismillahirrohmanirrohiim, tak ingin menghilangkan judul aslinya, tetapi tulisan ini diambil dari buku "Bidadari Bumi, 9 Kisah Wanita Salehah, Kisah Nyata, oleh Halimah alaydrus"
"Seperti engkau menjalani kehidupan, seperti itu pula engkau akan dimatikan"
Diceritakan kembali oleh saudara terdekat menjelang menghadiri pesta agung itu :
Hubabah khadijah, Seorang wanita sholeha yang tinggal sendirian dan hidup mandiri, dan hanya bergantung pada orang lain hanya untuk menunaikan sholat berjama'ah. Beliau istiqomah menjalankan sholat berjama'ah, Saya datang kerumahnya disetiap waktu sholat untuk bersama beliau mengerjakan sholat fardu.
Dan tadi malam tepat malam Jum'at pertama di bulan Ramadhan setelah sholat Maghrib berjamah beliau berkata padaku :
"Kembalilah segera kemari setelah engkau menyiapkan makna malam untuk keluargamu kita akan melaksanakan sholat Isya dan Tarawih lebih awal karena aku akan pergi ke satu tempat"
Aku hanya mengangguk meski benakku dipenuhi dengan pertanyaan :
Kemana beliau akan pergi setelah puluhan tahun tak pernah kulihat keluar rumah apalagi di malam Ramadhan seperti ini?
***
Beliau terlihat segar sewaktu keluar dari kamar mandi, memakai baju hijau kesukaannya, wanginya tercium semerbak.
Hubabah, mau kemana sebenarnya? pikirku semakin penasaran.
Beliau segera mengimami sholat isya, dilanjutkan sholat sunnah ba'diyah seperti biasanya, kemudian mengimamiku sholat Tarawih lantas sholat Witir yang diselesaikan sampai 11 rokaat. Aneh sekali karena biasanya beliau lanjutkan sholat witirnya pada akhir malam menjelang subuh.
Selepas semua do'a malam Ramadhan kami baca, aku tak bisa lagi menahan diri lalu bertanya :
"Maaf Hubabah.. kalau boleh tahu, kemana sebenarnya Hubabah hendak pergi sampai bersiap-siap sedemikian rupa?"
Buaknnya menjawab beliau malah mengisyaratkan padaku untuk diam. Diambilanya mushaf Al-qur'an dan dibacanya juz terakhir sampai selesai dan khatam. Kemudian beliau memintaku untuk mendekat padanya, setelah beliau membaringkan dirinya menghadap kiblat
"Aku mau menghadiri undangan" katanya sembari membenahi letak kerudungnya
Kemana? Undangan apa?"
"Undangan sebuah pesta, Yang Maha Besar telah mengundangju" jawabnya dengan begitu tenang.
Aku gemetar mendengarnya dan baru memahami kemana kiranya beliau akan pergi. Benakku mulai kacau. Kau tidak tahu harus berbuat apa. Aku berkata :
"Jangan tinggalkan aku, Hubabah.. atau ajak akau ikut serta denganmu.."
"Semua ada waktunya, dan waktumu belum lagi tiba.. smapaikan pesanku kepada semua orang yang mengenalku; aku telah memaafkan mereka yang pernah berbuat salah padaku apapun bentuknya, dan sampaikan salam dan permohonan maafku kepada mereka semua.."
beliau terdiam sejenak kemudian berkata :
"Sekarang aku segera berangkat menghadiri undanganNya"
Beliau kembali merapikan letak pakaian dan penutup kepalanya kemudian berujar dengan mantap:
"Laa illallah, Muhammad Rosulullah"
Matanya menatap lurus ke atas.. lalu perlahan menghembuskan nafasnya yang terakhir diiringi, senyuman indah. Senyum keberhasilan, senyum kemenangan atas perjuangan hidup di akhir zaman yang semakin sulit menghindar dari fitnahnya.."
Demikain cerita tetangga dan orang terdekat Hubabah Khadijah.
Sungguh sebuah kematian yang indah luar biasa. Andai bisa memesan, kematian seperti inilah yang akan aku pesan. Kalau saja bisa membuat perjanjian dengan malaikat pencabut nyawa, maka jenis kematian yang seperti inlah yang aku inginkan.
"Seperti engkau menjalani kehidupan, seperti itu pula engkau akan dimatikan"
Diceritakan kembali oleh saudara terdekat menjelang menghadiri pesta agung itu :
Hubabah khadijah, Seorang wanita sholeha yang tinggal sendirian dan hidup mandiri, dan hanya bergantung pada orang lain hanya untuk menunaikan sholat berjama'ah. Beliau istiqomah menjalankan sholat berjama'ah, Saya datang kerumahnya disetiap waktu sholat untuk bersama beliau mengerjakan sholat fardu.
Dan tadi malam tepat malam Jum'at pertama di bulan Ramadhan setelah sholat Maghrib berjamah beliau berkata padaku :
"Kembalilah segera kemari setelah engkau menyiapkan makna malam untuk keluargamu kita akan melaksanakan sholat Isya dan Tarawih lebih awal karena aku akan pergi ke satu tempat"
Aku hanya mengangguk meski benakku dipenuhi dengan pertanyaan :
Kemana beliau akan pergi setelah puluhan tahun tak pernah kulihat keluar rumah apalagi di malam Ramadhan seperti ini?
***
Beliau terlihat segar sewaktu keluar dari kamar mandi, memakai baju hijau kesukaannya, wanginya tercium semerbak.
Hubabah, mau kemana sebenarnya? pikirku semakin penasaran.
Beliau segera mengimami sholat isya, dilanjutkan sholat sunnah ba'diyah seperti biasanya, kemudian mengimamiku sholat Tarawih lantas sholat Witir yang diselesaikan sampai 11 rokaat. Aneh sekali karena biasanya beliau lanjutkan sholat witirnya pada akhir malam menjelang subuh.
Selepas semua do'a malam Ramadhan kami baca, aku tak bisa lagi menahan diri lalu bertanya :
"Maaf Hubabah.. kalau boleh tahu, kemana sebenarnya Hubabah hendak pergi sampai bersiap-siap sedemikian rupa?"
Buaknnya menjawab beliau malah mengisyaratkan padaku untuk diam. Diambilanya mushaf Al-qur'an dan dibacanya juz terakhir sampai selesai dan khatam. Kemudian beliau memintaku untuk mendekat padanya, setelah beliau membaringkan dirinya menghadap kiblat
"Aku mau menghadiri undangan" katanya sembari membenahi letak kerudungnya
Kemana? Undangan apa?"
"Undangan sebuah pesta, Yang Maha Besar telah mengundangju" jawabnya dengan begitu tenang.
Aku gemetar mendengarnya dan baru memahami kemana kiranya beliau akan pergi. Benakku mulai kacau. Kau tidak tahu harus berbuat apa. Aku berkata :
"Jangan tinggalkan aku, Hubabah.. atau ajak akau ikut serta denganmu.."
"Semua ada waktunya, dan waktumu belum lagi tiba.. smapaikan pesanku kepada semua orang yang mengenalku; aku telah memaafkan mereka yang pernah berbuat salah padaku apapun bentuknya, dan sampaikan salam dan permohonan maafku kepada mereka semua.."
beliau terdiam sejenak kemudian berkata :
"Sekarang aku segera berangkat menghadiri undanganNya"
Beliau kembali merapikan letak pakaian dan penutup kepalanya kemudian berujar dengan mantap:
"Laa illallah, Muhammad Rosulullah"
Matanya menatap lurus ke atas.. lalu perlahan menghembuskan nafasnya yang terakhir diiringi, senyuman indah. Senyum keberhasilan, senyum kemenangan atas perjuangan hidup di akhir zaman yang semakin sulit menghindar dari fitnahnya.."
Demikain cerita tetangga dan orang terdekat Hubabah Khadijah.
Sungguh sebuah kematian yang indah luar biasa. Andai bisa memesan, kematian seperti inilah yang akan aku pesan. Kalau saja bisa membuat perjanjian dengan malaikat pencabut nyawa, maka jenis kematian yang seperti inlah yang aku inginkan.
Komentar