Membangun Ekonomi Pertanian di Era Globalisasi

Beberapa bulan yang lalu di media massa ada berita yang menyebutkan bahwa harga CPO (termasuk harga tandan buah segar) sedang bagus-bagusnya dan para petani kelapa sawit tersenyum dimana-mana. Tapi tidak berapa lama kemudian berita lain menyebutkan tentang petani kelapa sawit yang cenderung tidak mau memanen hasil pertaniannya karena harga tandan buah segar sangat anjlok. Kalau mereka mengupah orang untuk menurunkan tandan buah segar itu, mereka akan rugi besar.
Hal yang sama juga terjadi dengan kedelai. Rasanya belum terlalu lama ketika produsen tahu dan tempe berdemonstrasi di depan Istana Merdeka karena harga kedelai (terutama import) sangat tinggi. Lalu beramai-ramailah para petani menanam kedelai. Tapi tidak lama kemudian ada berita yang menyebutkan bagaimana petani di Jawa Tengah mengeluh karena kedelai mereka hanya dihargai kurang dari Rp.6.000,- per kilogram dan harga kedelai import pun hampir sama dengan itu.
Berkaitan dengan CPO, konon katanya harga CPO menjadi anjlok karena pasar internasional mulai dibanjiri lagi oleh minyak kedelai, minyak biji bunga matahari dsb. Padahal, beberapa bulan yang lalu, katanya harga CPO naik dan akan terus naik karena minyak kedelai,
minyak biji bunga matahari dsb, sudah dialihkan untuk menjadi bahan baku biofuel. Apakah minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari itu urung untuk dibuat menjadi biofuel di AS dan Eropa sana?
Yang menjadi pertanyaan ialah: Mengapa harga produk pertanian kita begitu rentan terhadap fluktuasi harga yang terjadi di pasaran internasional saat ini ? Apa saja kerja Departemen Pertanian, Departemen Perdagangan, Bulog dsb ? Apakah mereka tidak bisa membeli lebih dulu produk petani itu, dan menyimpannya sebagai stock penyangga, agar harga tidak terlalu befluktuasi dan tidak banyak petani yang mengalami kerugian?
Menurut berita tersebut, kini petani kedelai mulai berpikir untuk menanam jagung atau padi saja karena harganya lebih baik. Tapi bias diramalkan bahwa, besok ketika terjadi banjir jagung dan padi, harga akan kembali anjlok, lalu petani akan pindah lagi secara beramai-ramai menanam kedelai. Itu sajalah yang terjadi berulang-ulang di negara ini. Urusan tebu dan gula pun sama saja. Ceritanya pun hanya itu-itu saja. Naik, turun, naik, turun seperti hingus. Paling-paling ditambah sedikit dengan cerita pabrik gula yang tak punya uang cash untuk membeli tebu petani, dan tebu petani yang rendemen gulanya turun karena terlalu lama dibiarkan di lading.
Lalu ada berita lain yang menyebutkan bagaimana petani-petani kita cenderung hanya menjadi kuli di negerinya sendiri. Bibit, pakan, pupuk, obat-obatan, semua tergantung kepada perusahaan- perusahaan multi nasional seperti Monsanto, Dow Chemicals, Bayer dsb. Bias diramalkan kembali bahwa besok akan ada lagi cerita baru yang menyebutkan bahwa harga kedelai, jagung, gula dsb itu anjlok karena kebangkrutan Lehman Brothers.
Saya memang sangat memahami bahwa di era globalisasi dan sistem perdagangan bebas ini semua saling kait-mengait. Tapi apakah memang tidak ada lagi daya dan upaya dari Pemerintah untuk melindungi petani negerinya sendiri? Haruskah ekonomi pertanian kita ini menjadi sabut yang terapung-apung di gelombang ekonomi dunia yang penuh dengan fluktuasi itu? (Saya sungguh tidak bisa memahami bahwa gara-gara kelas menengah AS tak mampu membayar cicilan rumah mewahnya maka petani Indonesia–yang rumah pun tak punya–harus menjadi korban).
Saya menjadi bingung. Dan saya rasa, siapa pun yang menjadi presiden, apakah dia adalah seorang doktor ekonomi pertanian dari IPB, Ketua HKTI, ketua dari sebuah partai yang mengaku berpihak kepada “wong cilik”, atau ketua dari partai yang katanya adalah suara “hati nurani rakyat”, ekonomi pertanian Indonesia akan tetap begini-begini saja. Harus ada tindakan nyata dari pemerintah untuk memperbaiki pertanian Indonesia agar tidak semakin terombang-ambing atau bahkan terhempas dari pasar global. Semua pihak harus ikut mendukung bahkan terjun langsung untuk meningkatkan pertanian Indonesia. Salah satu langkah nyata yang bisa diambil adalah dengan mengadakan penelitian untuk mendapatkan bibit-bibit unggul, pupuk serta obat-obat yang ramah lingkungan untuk menunjang hasil pertanian Indonesia, sehingga Indonesia tidak harus selalu mengimpor dari pihak asing. Dalam hal ini pemerintah dapat membantu dengan menyediakan dana dan fasilitas untuk memperlancar jalannya penelitian tersebut, karena hasilnya nanti juga akan dirasakan oleh kita semua.
Oleh karena itu selain pemerintah, kita sebagai penerus bangsa harus saling bahu-membahu untuk memperbaiki pertanian di negeri ini. Karena sesungguhnya negeri ini sangatlah kaya akan hasil pertaniannya yang akan sayang jika tidak diolah dengan sebaik-baiknya. Tunjukkan bahwa kita sebagai civitas ekonomi dan manajemen IPB mampu untuk mengubah Indonesia menjadi negeri yang sejahtera dan mampu bersaing dengan dunia luar lewat pertaniannya yang berjaya. Tunjukkan pula pada dunia, bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya dan merupakan lumbung pangan dunia.

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer