Geopolitik Maritim: Pertahanan Negara sebagai Sebuah Refleksi Kebangsaan

3rlangga 12yan5h4 Tidak mudah memahami definisi geopolitik jika bukan ditinjau dari makna harafiahnya. Wawasan nusantara, begitu orang Indonesia menyebutnya. Kedudukan atau statusnya menempati urutan ketiga setelah Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara. Wawasan nusantara sendiri berkedudukan sebagai landasan konsepsional dan sebagai visi nasional. Fungsinya menjadi pedoman, motivasi, dorongan, serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijakan, keputusan, tindakan, dan perbuatan bagi penyelenggaraan negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemahaman tentang geopolitik yang penulis miliki masih amat terbatas. Mungkin secara teoritis materi ini dapat kita lihat pada buku pelajaran kewarnegaraan yang bagi sebagian orang sungguh membosankan. Tetapi, sebetulnya pembelajaran tentang geopolitik termasuk penting dan keberadaannya tak hanya cukup hanya sebagai sebuah hafalan. Negara ini terlalu luas untuk diabaikan sebagai wawasan kewilayahan, yang merupakan salah satu bentuk dari wawasan nusantara. Sengketa yang marak terjadi terkadang sulit terselesaikan akibat lemahnya diplomasi kita terhadap negara lain. Padahal batas wilayah nasional telah termaktub dalam risalah sidang BPUPKI tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 tentang negara Republik Indonesia dari beberapa pendapat para pejuang nasional, Ir. Soekarno menyatakan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan; Ordonantie (UU Belanda) 1939, yaitu penentuan lebar laut sepanjang 3 mil laut dengan cara menarik garis pangkal berdasarkan garis air pasang surut atau countour pulau/darat; Deklarasi Juanda, 13 Desember 1957 merupakan pengumuman pemerintah RI tentang wilayah perairan negara RI. Ternyata perumusan kebijakan yang ada belum cukup menunjukkan kekuatan kita sebagai sebuah negara maritim utamanya. Padahal, sekitar 70% wilayah kita didominasi lautan. Sepatutnya, laut adalah sumber penghasilan yang bisa diandalkan maupun pertahanan yang mapan. Sir Walter Raleigh (1554 - 1618) dalam teori geopolitiknya mengatakan "siapa yang menguasai laut akan menguasai perdagangan dunia dan akhirnya akan menguasai dunia" dan juga Alfred T. Mahan (1840 - 1914) dengan Teori Kekuatan Maritim, yaitu "laut untuk kehidupan, sumber daya alam banyak terdapat di laut. Oleh karena itu, harus dibangun armada laut yang kuat untuk menjaganya". Laut memegang peranan sentral dalam pengadaan kebutuhan konsumsi (ikan, garam, dll) dan ketahanan negara melalui TNI AL, apalagi di wilayah perbatasan yang rawan pencurian ataupun serangan dari luar. Geopolitik sendiri bertujuan pada melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumah darah Indonesia, seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Sebagai negara kepulauan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik maupun Benua Asia dan Benua Australia, Indonesia berada pada posisi sangat strategis, baik untuk perdagangan maupun peperangan. Kapal-kapal kita ditempatkan pada lokasi tertentu untuk mencegah konflik yang mungkin timbul. Namun, dengan banyaknya celah yang bisa dimasuki kekuatan bangsa lain, apakah Indonesia sudah cukup “memagari” kawasannya dengan sistem pertahanan maritim yang memadai. Menurut tokoh maritim sekaligus pakar hukum laut internasional, Prof. Dr. Hasyim Djalal, Indonesia belum bisa dikategorikan sebagai sebuah negara maritim, baru bisa disebut negara kepulauan. Alangkah sayang melihat potensi kelautan yang begitu besar. Perlu ditilik kembali bahwa pada APBN tahun 2012 ini, anggaran pertahanan yang dijatahkan oleh Kementerian Keuangan sebesar Rp. 72 triliun, nilai yang cukup fantastis. Anggaran sebanyak ini diharapkan mampu memajukan sektor pertahanan tanah air. Terutama jika dibandingkan dengan kemajuan pertahanan negara lain, Indonesia masih terbilang terbelakang. Dengan ancaman yang kian hari semakin beresiko, keamanan maritim Indonesia perlu ditangani dengan lebih serius. Laut kita sering menjadi jalur transportasi laut oleh kapal-kapal barang dan migas negara lain maupun Indonesia sendiri. Tidak tertutup kemungkinan kapal-kapal ini menjadi sasaran empuk terorisme yang ingin melumpuhkan pasokan energi suatu negara. Ya, inilah laut yang sangat dinamis, sedinamis arus ombak lautan itu sendiri. Dibutuhkan peranan dari berbagai pihak dalam menjaga keutuhan negara melalui pertahanan kelautan. Kedigdayaan suatu bangsa akan terlihat dari bagaimana mereka mempertahankan negaranya dari ancaman pihak-pihak tertentu. “Bangsa yang berbudaya tinggi akan membutuhkan sumber daya manusia yang tinggi dan akhirnya mendesak wilayah bangsa yang primitif" - Friederich Ratzel

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer