MIMBAR BEBAS GERBANG TANI
PRESS RELEASE BEM KM IPB
Stevia, 16 Mei 2012
“Disini negeri kami, tempat padi terhampar luas
Samudranya kaya raya, negeri kami subur permai
Di sini negeri kami, berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah, pemuda desa tak kerja”
Sudah sejak lama Indonesia dikenal sebagai negeri agraris. Tuhan telah menganugrahkan kepada negeri ini secara cuma-cuma tanah yang subur, sumber daya alam yang melimpah, iklim tropis yang baik dengan cahaya matahari yang menyinari sepanjang tahun, serta sumber air yang cukup untuk menumbuhkan benih dan bibit sebagai penunjang kelangsungan eksistensi peradaban Indonesia. Ironisnya, anugrah tersebut bukan menjadi berkah karena kealfaan bangsa ini mengelola sumberdaya yang dimilikinya. Sungguh miris melihat kondisi petani kita yang notabene garda terdepan dalam menghasilkan kebutuhan pangan manusia Indonesia, justru kondisinya memprihatinkan. Kedudukan petani di Indonesia sangat minim penghargaan, proteksi, dan keberpihakan terhadap kesejahteraan mereka.
Secara definisi, petani adalah orang yang mata pencaharian pokoknya adalah mengusahakan tanah untuk pertanian. Pada konteks ini perlu rasanya membedakan antara petani dan buruh tani. Hal ini penting agar kebijakan yang diambil pemerintah untuk membangkitkan sektor pertanian benar-benar tepat sasaran. Dari sekitar 39,33 juta petani di Indonesia, hampir separuhnya adalah buruh tani yang tidak memiliki lahan dan hanya menggarap tidak lebih dari 0,3 hektar . Artinya, sangat sulit bagi buruh tani dengan lahan garapan yang sempit dan bukan milik pribadi untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Padahal petani Indonesia adalah sumber daya yang sangat besar untuk kepentingan pembangunan bangsa jika dikelola secara baik.
Sejatinya sebuah negara akan kuat jika sektor pertaniannya kuat karena tugas pokok sebuah negara adalah menyediakan pangan bagi warga negaranya. Pertanyaannya menjadi ideologis, konsep apa yang dipakai suatu negara dalam hal memenuhi pangan bagi rakyatnya ? Pangan jangan hanya dilihat sebagai komoditi,tetapi lebih kepada harga diri dan martabat bangsa. Tidak perlu kita membenturkan antara konsep ketahanan pangan, kemandirian pangan, dan kedaulatan pangan. Selama ada indikator yang jelas dan komitmen bersama bahwa sebagai suatu bangsa bangsa, Indonesia on the track untuk memenuhi pangan sesuai dengan indikator dan arah menuju perbaikan. Hanya saja perlu digaris bawahi bahwasanya pemerintah perlu menerapakan konsep pangan yang kokoh sesuai ruh dan jati diri bangsa.Sebagai negeri agraris, hati mana yang tidak teriris jika melihat saudarnaya harus meregang nyawa karena tidak mampu membeli pangan. Ibarat tikus mati di lumbung pangan, kasus busung lapar yang terjadi di beberapa wilayah nusantara dan sudah memakan korban jiwa menjadi peringatan dini untuk pemerintah agar segera memperbaiki paradigma dan konsep pangan di negeri ini.
Dalam rangka merayakan Hari Kebangkitan Nasional yang ke 104 tahun, BEM KM IPB bersama BEM SE IPB akan melakukan rangkaian GERBANG TANI INDONESIA dengan satu harapan besar bahwasanya sebagai cendikia di bidang pertanian, mahasiswa IPB ikut berkontribusi untuk membangkitkan pertanian Indonesia. Ada tanggung jawab moral sebagai insan pertanian untuk menumbuhkan kebanggaan dan kepedulian terhadap nasib petani dan pertanian Indonesia.
Saatnya Bangkit dan Berkarya Membangun Pertanian Indonesia...!!!
Tuntutan BEM FPIK Kabinet Biru Bersatu
1. Percepat Kesejahteraan nelayan
2. Perkuat kontrol, monitoring, dan penegakan hukum dengan tegas terhadap pelanggaran di seluruh wilayah Pengelola Perikanan Indonesia guna mencegah Ilegal,Unreported, and Unregulated) fishing dan over fishing
3. Pembukaan akses nelayan terhadap permodalan dari perbank-kan untuk kegiatan operasi penangkapan ikan.
4. Percepatan dan peningkatan jumlah kapal penangkapan ikan berukuran besar yang dapat dioperasikan di perairan laut dalam yang masih memiliki kelimpahan potensi sumberdaya ikan
5. Kebijakan Industrilaisasi Kelautan dan Perikanan dan implementasinya mutlak harus memperhatikan dari sosial, ekonomi, dan ekologi
6. Percepat diversifikasi produk perikanan dan kelautan dari perikanan budidaya dan tangkap
7. Perkuat sinergi seluruh lembaga perikanan dari pusat sampai lembaga perikanan di daerah
8. Perkuat Implementasi riset-riset bidang perikanan dan kelautan untuk pembangunan perikanan dan kelautan
Komentar