Pentingnya Diversifikasi Pangan Untuk Mencapai Kemandirian Pangan
Berbicara tentang kemandirian pangan, maka kita perlu menyamakan pengertian kita mengenai kemandirian pangan terlebih dahulu. Kemandirian pangan secara sederhana digambarkan dengan sebuah keadaan ketika kita mampu memenuhi kebutuhan pangan strategis sendiri dan meminimalkan impor. Kata kunci kemandirian pangan itu sendiri adalah pemenuhan kebutuhan akan pangan itu sendiri dengan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya lokal yang ada. Artinya, hal yang perlu dan yang penting dari kemandirian pangan itu sendiri adalah dari mana persediaan pangan itu berasal.
Pada saat ini, kebijakan pangan kita adalah ketahanan pangan. Ketahanan pangan adalah keadaan dimana kebutuhan pangan kita cukup dan usaha untuk memenuhinya berasal dari produksi dalam negeri dan impor. Perubahan kebijakan pangan dari ketahanan menuju kemandirian pangan seutuhnya sangat penting. Sudah saatnya pemerintah dengan tegas medeklarasikan bahwa arah dan kebijkan yang akan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia ambil mengarah untuk masuk dalam zona kemandirian pangan. (Danar, 6 Oktober 2011)
Selain kemandirian dan ketahanan pangan, ada satu konsep lagi, yakni kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan itu sendiri bermakna di mana rakyat, khusunya petani memiliki kebebasan untuk mengolah tanahnya sendiri untuk dijadikan lahan aktif untuk menghasilkan komoditas pertanian tanpa ada tekanan dari pihak-pihak lain. Hasil yang diharapkan dari kedaulatan pangan ini adalah kesejahteraan bagi petani. Sebelum untuk mencapai Indonesia yang berkedaulatan pangan kita hendaknya melalui beberapa langkah, yakni mewujudkan Indonesia yang berkemandirian pangan dan sesungguhnya kemandirian pangan jika saat ini dapat diwujudkan sudah cukup baik bagi petani dan masyarakat Indonesia yang lain.
Kemandirian Pangan menjadi hal yang sangat penting, mengingat negara-negara tetangga sudah mulai mengurangi impor pangannya ke Indonesia, seperti Myanmar dan Vietnam. Mereka, negara-negara tetangga kita, menyadari bahwa krisis pangan global mulai mengancam stabilitas negara mereka. Karena masalah pangan ini merupakan masalah hidup dan mati sebuah negara, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Negara akan terganggu keamanan dan juga stabilitasnya, apabila permasalahan pangan ini tidak teratasi dengan tepat.
Kemudian pangan ini, juga akan mengalami persaingan dengan adanya energi alternatif, yang sekarang ini beralih dari hasil-hasil dari produk pertanian. Misalnya singkong, Singkong ini mengandung bioetanol, yang merupakan sumber energi baru dan juga ramah lingkungan. Perebutan lahan antara produk pertanian yang akan digunakan untuk pangan dan juga energi alternatif mungkin akan terjadi, apabila pemerintah tidak tepat dalam mengambil kebijakan.
Selain itu, penyebab lain dan yang termasuk penting adalah monotonnya menu makanan penduduk Indonesia. Dari data yang ada dan juga kebiasaan sehari-hari yang kita lihat. Masih banyak penduduk Indonesia yang menu makanannya tertuju pada nasi saja sebagai pemenuhan kebutuhan karbohidrat utama. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai 139 kilogram (kg) per kapita per tahun. Sementara itu, konsumsi beras negara lain di Asia, seperti Jepang 60 kg, dan Malaysia 80 kg per kapita per tahun.
Salah satu kebijakan pangan yang diterapkan adalah dengan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal yang dirumuskan dalam Peraturan Presiden Nomor 22/2009. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh beragamnya potensi daerah yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan.
Jika dilihat dari keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia, banyak menu pengganti dari nasi itu sendiri yang juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih kurang sama. Dan yang perlu digaris bawahi, tidak ada satu jenis makanan pun, yang mampu memenuhi kebutuhan secara lengkap untuk tubuh manusia. Maka, variasi dalam memilih menu makanan juga sangat penting untuk meningkatkan kesehatan.
Misalkan saja, jagung memiliki jumlah kandungan karbohidrat yang hampir sama dengan beras yaitu sebesar 73,7 gram dalam 100 gram bahan jagungnya. Hal ini tidak berbeda jauh dengan beras yang sebesar 79 gram per 100 gram beras. Dari perbandingan tersebut memungkinan pangan jagung dapat mensubtitusi menu beras (nasi) yang kita makan, terutapa bagi daerah-daerah yang memiliki produksi jagung yang menjanjikan. Sehingga, pengurangan konsumsi akan beras dapat ditekan, dan juga sumber pangan lokal dapat lebih dikembangkan.
Begitu juga makanan-makanan lainnya, yang memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi, seperti sagu, ubi jalar, dan singkong. Bahan-bahan makanan ini dapat dijadikan subtitusi atau pun pelengkap dari bahan makanan utama kita, yaitu beras.
Dengan demikian, pemantapan akan persedian beras tiap tahunnya dapat dialokasikan dengan baik. Selain itu, dengan persedian beras sebagai makanan utama kita dapat tersedia tiap tahunnya, maka impor pangan terutama beras dapat dihilangkan, sehingga kemandirian pangan dapat dicapai. Jika pun tidak, sekurang-kurangnya dapat mengurangi aliran impor pangan kita.
Di samping itu, ada satu lagi konsep yang penting dalam diversifikasi pangan, yaitu “Perbaikan Menu Makanan Rakyat”. “Perbaikan Menu Makanan Rakyat” ini memiliki landasan formal pada INPRES Nomor 20 tahun 1979. Landasan teknis opersionalnya adalah melalui penganekaragaman menu makanan sehari-hari. Sesuai dengan prinsip penganekaragaman menu makanan maka ada dua tujuan yang ingin dicapai: (1) agar ketergantungan masyarakat kepada salah satu jenis makanan pokok dapat dikurangi, (2) agar mutu gizi susunan makanan masyarakat dapat ditingkatkan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1991).
Selama ini yang kita sama-sama rasakan dan yang sama-sama kita lihat, orang Indonesia sangat bergantung dengan beras. Sehingga ada ungkapan “bila tidak makan nasi, itu namanya blum makan”. Akibat dari pola pikir seperti ini, kita menjadi negara yang paling besar dalam pengkonsumsian beras. Dari data BPS, kita dalam satu tahun dapat mengkonsumsi beras rata-rata sebesar 139 kg/ kapita, ditambah lagi jumlah penduduk kita yang besar, mencapai 200 ribu jiwa.
Menu makanan yang secara umum berkembang di mayarakat selama ini masih dominan pada kebutuhan karbohidrat. Padahal yang kandungan gizi lainnya juga sangat dibutuhkan oleh tubuh, seperti protein, vitamin, dan mineral. Indonesia sebagai negara agraris, juga merupakan negara maritim terbesar. Untuk pemenuhan protein hewani, khususnya ikan, seharusnya dapat terpenuhi dengan baik. Ikan, terutama ikan laut, kaya akan Omega 3 dan juga Yodium yang sangat berguna bagi pertumbuhan dan juga kecerdasan otak.
Jika kita melihat ke negara-negara maju, seperti Jepang, mereka lebih banyak mengkonsumsi ikan dan sumber protein hewani lainnya yang berasal dari laut. Dan mereka memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa.
Di Indonesia, hal tersebut sangat berpotensi sekali, melihat luas lautan kita dan potensi dalam laut yang sangat menjanjikan. Jika kita dapat meningkatkan pola konsumsi kita dari karbihidrat ke protein tersebut, maka ada dua implikasi yang menguntungkan. Pertama, untuk perbaikan gizi masyarakat Indonesia. Kedua, dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan, karena dengan adanya perubahan tersebut akan meningkatkan permintaan akan hasil laut dan membuat harga menjadi naik, yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Diversifikasi pangan ini akan tercapai apabila pemahaman masyarakat tentang gizi cukup baik, dan juga daya beli dari masyarakat itu sendiri.
Di sini, hal yang mungkin kita lakukan sebagai mahasiswa, khususnya mahasiswa pertanian, adalah salah satunya dengan ikut serta mengkampanyekan konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dan juga pentingnya keragaman pangan yang dapat meningkatkan gizi masyarakat. Kita dapat turut serta memperkenalkan berbagai jenis pangan yang berbasiskan sumber daya lokal kepada masyarakat ataupun kepada mahasiswa itu sendiri dan juga kandungan-kandungan gizi yang ada dalam pangan tersebut. Pencerdasan kepada masyarakat adalah kunci utama dalam mencapai diversivikasi pangan ini.
Harapannya, pertanian kita secara luas dan terintegrasi dapat berkembang tanpa saling tumpang tindih, dan juga dapat menjadi sektor utama untuk memajukan perekonomian Indonesia.
Oleh: Ihs4n C415ar10
Komentar