PEMANFAATAN UBI JALAR (Ipomoea batatas) SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BAHAN MAKANAN POKOK

TUGAS MAKALAH
PRAKTIKUM PENERAPAN KOMPUTER

JUDUL :
PEMANFAATAN UBI JALAR (Ipomoea batatas)
SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BAHAN MAKANAN POKOK



DISUSUN OLEH :
ESTRIANA RITI
NRP : A24090040













DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKLTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
TAHUN 2010/2011

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 3
LATAR BELAKANG 3
SEJARAH UBI JALAR 3
POTENSI UBI JALAR 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
DESKRIPSI UBI JALAR 5
KANDUNGAN GIZI UBI JALAR 5
SENTRA PRODUKSI UBI JALAR 5
BAB III PEMBAHASAN 6
PEMANFAATAN 6
UBI JALAR SEBAGAI BAHAN PANGAN PENGGANTI BERAS 6
PERBANDINGAN UBI JALAR DAN BERAS 6
MENGAPA HARUS UBI JALAR 6
BAB IV KESIMPULAN 9
KESIMPULAN 9
SARAN 9










PEMANFAATAN UBI JALAR (Ipomoea batatas)
SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI BAHAN MAKANAN POKOK

BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki biodiversitas tumbuhan terbesar kedua di dunia. Banyak sekali jenis tanaman di Indonesia. Setiap komoditas terdiri dari banyak sekali tanaman yang masing-masing dapat diolah dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Begitu pula dengan komoditas tanaman bahan pangannya.
Selama ini, bahan makanan pokok orang Indonesia adalah beras. Awal mulanya, beras hanya dikonsumsi oleh masyarakat yang tinggal di pulua jawa. Namun pada saat terjadi kekurangan panagn di Indonesia bagian timur, pemerintah akhirnya men-generalisir makanan pokok orang Indonesia menjadi beras. Padahal di daerah Indonesia timur, tanaman padi bukan tanaman yang gampang untuk ditumbuhkan. Kebiasaan masyarakat Indonesia bagian timur sedikit demi sedikit hilang dan diganti dengan kebiasaan makan beras/nasi.
Saat ini, kebutuhan Indonesia akan beras menjadi sangat tinggi. Hal tersebut justru mengancam kestabilan pangan di Indonesia, sehingga pada saat ini para ilmuwan dan akadeemisi mengembor-grmborkan tentang diversifikasi pangan yang mengarah pada pemanfaatan umbi-umbian sebagai alternatif pengganti bahan makanan pokok di Indonesia.
SEJARAH UBI JALAR
Ubi jalar atau ketela rambat diduga bersasal dari benua Amerika (porwono 2007). Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah selandia baru, polinesia, dan Amerika bagian tengah. Namun sekarang ini, ubi jalar banyak tumbuh di daerah-daerah di seluruh wilayah di Idonesia. Mulai dari daerah dataran rendah hingga daerah dataran tinggi.
POTENSI UBI JALAR
Sampai saat ini jumlah produksi tanaman ubi jalar cukup tinggi dan belum termanfaatkan secara optimal. Pada tahun 2007 produksi ubi jalar Indonesia mencapai 1.875.416 ton dengan luas panen sebesar 176.066 hektar (Angka Sementara BPS) yang menempatkan Indonesia di urutan ke-4 dari negara-negara penghasil ubi jalar dunia. Dari segi budidaya, tanaman Ubi jalar sangat potensial untuk lebih dikembangkan secara nasional mengingat iklim dan kondisi Indonesia sangat mendukung. Ubi jalar tumbuh dengan baik di iklim tropis. Ubi jalar dapat diusahakan pada berbagai jenis tanah dengan hasil terbaik bila dibudidayakan pada lahan persawahan. Beberapa varietas unggul seperti Cilembu, Sari, Cangkuang dan lain-lain yang memiliki produktivitas antara 15-30 ton/hektar sudah banyak dikenal petani Indonesia.
Ubi jalar juga sangat cocok digunakan sebagai bahan baku agroindustri tepung, mengingat: (1) Tanaman ubi jalar berumur pendek, jangka waktu penanaman sampai panen kurang lebih hanya memakan waktu 4-5 bulan; (2) Jumlah produksi per hektar relatif tinggi (15 – 30 ton/hektar); (3) Belum terlalu banyak dimanfaatkan untuk industri (Destialisma.2010).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Deskripsi ubi UBI JALAR
Ubi jalar merupakan tanaman umbi-umbian yang diambil manfaatnya dari akar yang mengembung. Ubi jalar ada yang berwarna putih dan merah atau putih dan ungu (Soejoeti Tarwotjo.2010). Batang ubi jalar tidak berkayu, herbaceous (banyak mengandung air), dan banyak percabangannya. Setiap batas ruas tumbuh daun, kar, tunas atau cabang. Daunnya berbentuk bulat, menyerupai jantung (hati) atau seperti jari tangan. Umbi ubi jalar berasal dari akar adventif dan akar organ penyimpanan yang membengkak.
KANDUNGAN GIZI UBI JALAR
Dalam beberapa penelitian disebutkan bahwa dalam 100 gram ubi jalar terjandung Protein sebanyak 1.8 gr, Lemak 0.7 gr, dan Karbohidrat 27.9 gr. Selain itu juga Mineral sebanyak 1.1 g, Kalsium 49 mg,Vitamin A (retinol) 2310 mcg, Vitamin C (askorbat) 20 mg
(Sutomo.2010). Ubi jalar juga mengandung gula sebanyak 2- 6,7 gr, amilosa 9,8-26 gr dan air sebanyak 70 gr (Cahyono, 2000). Tambahan lagi, Ubi jalar banyak mengandung karoten, apalagi pada ubi jalar yang berwarna kuning.

SENTRA PRODUKSI UBI JALAR
Sentra produksi ubi jalar di Indonesia, di antaranya Jawa Barat, Papua, dan Sumatera Utara. (budidaya 8 jenis tanaman pangan unggul (Purwono&Purnamawati,2007). Produksi Ubi jalar di Indonesia pada tahun 2005 mencapai 1.856.969 ton (Departemen pertanian, 2006).


BAB III PEMBAHASAN
PEMANFAATAN
Di beberapa daerah tertentu, ubi jalar merupakan salah satu komoditas bahan makanan pokok. Ubi jalar diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanaman ini mampu berada[ptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan demikian, tanaman ini dapat diusahakan sepanjang tahun. Umbi jalar dapat dimanfaatkan dalam bentuk olahan pangan seperti kripik, tepung, maupun direbus biasa. Bagian lain dari ubui jalar yaitu batang dan daunnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
UBI JALAR SEBAGAI BAHAN PANGAN PENGGANTI BERAS
Di daerah lain di indonesia, ubi jalar dijadikan sebagai makanan pokok pengganti beras. Seperti di daerah Nias dan Irian Jaya. Pada umumnya, ubi jalar dimakan sebagai makanan selingan (Soejoeti Tarwotjo. Dasar-dasar Gizi kuliner. Grasindo)
PERBANDINGAN UBI JALAR DAN BERAS
Ubi jalar memiliki daya adaptasi yang luas terhadap lingkungan hidup sehingga dapat dibudidayakan pada berbagai jenis lahan, ketinggian tempat, dan tingkat kesuburan tanah yang berlainan (Dede.kanisius.) oleh karena itu, tanaman ubi jalar mudah tersebar ke seluruh belaHAN BUMI, terutama di daerah tropis. Di indonesia, ubi jalar dapat memberikan hasil yang tinggi.
Sedangkan padi memerlukan syarat tumbuh yang lebih kompleks dari ubi jalar. Padi harus ditanam pada daerah yang berhawa panas dan memiliki curah hujan rata-rata 200mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500-200 mm. suhu yang baik pada 23 0c. selain itu padi juga memerlukan tempat yang lapang tanpa naungan agar bisa tumbuh lebih optimal.

MENGAPA HARUS UBI JALAR
Pilihan untuk mensosialisasikan ubi jalar, bukan pilihan tanpa alasan. Selain (1) sesuai dengan agroklimat sebagian besar wilayah Indonesia, ubi jalar juga (2) mempunyai produktivitas yang tinggi, sehingga menguntungkan untuk diusahakan. Alasan lainnya adalah (3) mengandung zat gizi yang berpengaruh positif pada kesehatan (prebiotik, serat makanan dan antioksidan), serta (4) potensi penggunaannya cukup luas dan cocok untuk program diversifikasi pangan. Produktivitas ubi jalar cukup tinggi dibandingkan dengan beras maupun ubi kayu. Ubi jalar dengan masa panen 4 bulan dapat berproduksi lebih dari 30 ton/ha, tergantung dari bibit, sifat tanah dan pemeliharaannya. Walaupun saat ini rata-rata produktivitas ubi jalar nasional baru mencapai 12 ton/ ha. Tetapi masih lebih besar, jika kita bandingkan dengan produktivitas gabah (+/-4.5 ton/ha) atau ubi kayu (+/-8 ton/ha), padahal masa panen lebih lama dari masa panen ubi jalar.
Penelitian mengenai ubi jalar pun kini semakin banyak dan berkembang, karena mempunyai kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Karbohidrat yang dikandung ubi jalar masuk dalam klasifikasi Low Glycemix Index (LGI, 54), artinya komoditi ini sangat cocok untuk penderita diabetes. Mengonsumsi ubi jalar tidak secara drastis menaikkan gula darah, berbeda halnya dengan sifat karbohidrat dengan Glycemix index tinggi, seperti beras dan jagung. Sebagian besar serat ubi jalar merah merupakan serat larut, yang menyerap kelebihan lemak/kolesterol darah, sehingga kadar lemak/kolesterol dalam darah tetap aman terkendali. Serat alami oligosakarida yang tersimpan dalam ubi jalar ini sekarang menjadi komoditas bernilai dalam pemerkayaan produk pangan olahan, seperti susu. Selain mencegah sembelit, oligosakarida memudahkan buang angin. Hanya pada orang yang sangat sensitif oligosakarida mengakibatkan kembung. Kandungan serat yang berfungsi sebagai komponen non-gizi ini, juga bermanfaat bagi keseimbangan flora usus dan prebiotik, merangsang pertumbuhan bakteri yang baik bagi usus sehingga penyerapan zat gizi menjadi lebih baik dan usus lebih bersih. Untuk menjadikan ubi jalar sebagai makanan pokok pilihan, tentu perlu dilakukan diversifikasi produk olahan ubi jalar. Langkah awal yang sebaiknya dikembangkan adalah pendirian industri tepung dan/atau industri pasta dan ubi jalar. Setelah ubi jalar menjadi tepung dan/atau pasta maka akan lebih banyak produk yang bisa dikembangkan. Produkproduk berbasis tepung yang bisa dikembangkan, antara lain mie, french fries, sweet potato flake (SPF) dan produk bakery. Sedangkan produk yang berbasis pasta ubi jalar yang dapat dikembangkan seperti nasi, jus, es krim dan produk-produk lainnya dari ubi jalar.
Jika dulu pemerintah memberikan subsidi kepada tepung terigu, maka untuk menumbuhkan industri tepung/pasta ubi jalar sudah seharusnya pemerintah juga memberikan subsidi. Selain itu masalah on farm juga harus diperhatikan, sehingga produktivitasnya bisa lebih tinggi. Jika produktivitasnya meningkat, maka ketersediaan bahan baku tidak menjadi kendala dan biayanya menjadi bisa ditekan, sehingga produk yang dihasilkan menjadi bisa lebih murah.
Di beberapa negara ubi jalar itu sudah merupakan produk komersial yang cukup diminati. Negara-negara maju telah lama memanfaatkan ubi jalar sebagai produk olahan bernilai gizi tinggi dan secara ekonomis memiliki peluang pasar yang besar. Pendirian industri yang menggunakan bahan baku dasar ubi jalar, akan menjadi peluang yang cukup baik bagi dunia usaha di Indonesia. Selain mendukung dan menyukseskan program diversifikasi pangan, juga mendatangkan keuntungan bagi pelakunya, serta membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat sekitarnya. (Hasyim& Yusuf. 2008)


BAB IV KESIMPULAN
KESIMPULAN
Ubi jalar merupakan tanaman bahan pangan yang memiliki banyak sekali manfaat. banyak manfaat ubi jalar yang belum dimanfaatkan, sehingga kiranya perlu bagi kita untuk mecoba memanfaatkannya. Hal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi krisis pangan yang mungkin terjadi akibat penggunaan beras yang sangat banyak di Indonesia.
SARAN
Ada baiknya apabila mulai saat ini pemerintah berusaha untuk menyosialisasikan manfaat-manfaat yang terkandung dalam ubi jalar agar masyarakat sadar akan potensi yang dimiliki ubi jalar, juga semua pihak yang ingin mengembangkan potensi ubi jalar lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Destialisma.2010. Pemanfaatan ubi jalar. Deptan.
Cahyono, Bambang & Juanda, Dede. 2000. Ubi Jalar, Budidaya dan Analisis Usaha Tani.Jogjakarta: Kanisius.
Purwono & Henni Purnamawati.2007. budidaya 8 jenis tanaman pangan unggul. Jakarta : Penebar Swadaya.
Hasyim, Anshol & Yusuf, M. 2008. Sumber Tani. Diversivikasi Produk Ubi jalar sebagai bahan pangan substitutsi Beras.

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer