Subsistem Jasa Penunjang Agribisnis:Buah Naga

PRAKTIKUM MK. AGRIBISNIS PANGAN “ ” Oleh: Kelompok Dragon Fruit Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor 2011 Dosen Praktikum : Yanti N Muflikh Hari/Tanggal : Kamis/10 November 2011 Praktikum : 8 - 9 Ruang : RK. X. 032 PENDAHULUAN Latar Belakang “Fenomena” mengenai kemunduran dunia pertanian kita adalah, Pertama, petani menganggap sektor pertanian tidak lagi menjadi “primadona” dan tidak menjanjikan. Pendapatan atau penghasilan dari sektor pertanian tidak memadai, dimana harga jual sangat rendah sementara biaya produksi sangat tinggi. Sebetulnya hal ini terjadi karena kelemahan kebijakan pemerintah mulai dari penyediaan pupuk, pembelian gabah dan penerapan harga pembelian pemerintah (HPP), distribusi beras maupun pengelolaan agribisnis. Pada setiap lini baik dari hulu sampai hilir tidak berjalan sistematis sehingga banyak ketimpangan-ketimpangan dalam mengimplemetasikan kebijakan tersebut. Lingkaran inilah yang membuat sektor pertanian tidak menguntungkan secara ekonomi, karena menimbulkan ekonomi biaya tinggi dalam proses produksinya. Kedua, pemasaran produk (product of marketing) pertanian sangat terbatas, faktor utama dalam pertanian adalah pemasaran, karena saat ini pasar sangat terbatas dalam menerima produk hasil pertanian selain itu juga hanya produk-produk tertentu dari pertanian bisa diserap pasar. Kebanyakan petani kita tidak memahami konsep pemasaran produk, sehingga petani kesulitan dalam memasarkan produk-produk pertanian yang akhirnya membuat harga tidak stabil atau tidak menguntungkan. Ketiga, lahan pertanian semakin sempit, selama ini banyak lahan pertanian disulap menjadi lahan industri dan lahan perumahan (realestate). Hal ini disebabkan karena banyak petani yang menjual lahan pertaniannya karena menganggap pertanian sudah tidak lagi bisa menjadi “sandaran” hidup atau tidak lagi menjanjikan. Sehingga petani tergiur keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak yang terjadi setelah penjualan tanah tersebut.Keempat, kurangnya “penelitian” (research) yang dilakukan terhadap pertanian maupun produk pertanian, baik oleh pemerintah maupun institusi-institusi terkait seperti lembaga-lembaga pendidikan tinggi sehingga pertanian berjalan monoton dan produk pertanian tidak bervariasi. Ini merupakan problematika mendasar dari pola kebijakan pemerintah terhadap dunia pertanian, dimana tidak adanya kebijakan pemerintah yang merangsang berkembangnya institusi atau lembaga-lembaga penelitian pertanian. Kelima, kurangnya dukungan “finansial” bagi dunia pertanian, selama ini bank sebagai pemegang otoritas keuangan baik bank pemerintah maupun swasta kurang sekali dalam mengucurkan kredit bagi usaha-usaha pertanian sehingga pertanian sulit untuk berkembang karena kesulitan finansial. Jika dilihat dari bunga kredit pertanian di Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di asia tenggara. Selama pihak perbankan masih belum sepenuhnya percaya terhadap dunia pertanian, maka dengan sendirinya dunia pertanian kita tidak berkembang. Faktor-faktor tersebut menjadi “fenomena” tersendiri dari dunia pertanian kita, selama ini pertanian dianggap sebagai “anak tiri” oleh pemerintah sehingga belum bisa berkembang dan maju. Pemerintah terlalu berpihak pada sektor industri, kebijakan pemerintah terhadap pertanian sejak tahun 1980-an cenderung terlalu distortif. Kebijakan-kebijakan inilah yang membuat sektor pertanian tidak berkembang. Untuk itulah diperlukan “diregulasi” kebijakan pemerintah yang “kondusif” dan “konklusif” untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas sektor pertanian. Pemerintah perlu melakukan integrasi sektor pertanian dalam kebijakan makro agar tidak berat sebelah mendukung sektor industri, selain itu juga pemerintah perlu menyediakan sarana dan prasarana (termasuk untuk penelitian). Subsidi tetap diperlukan namur bukan subsidi sektoral, melainkan subsidi kelompok miskin yang kebanyakan berada dipedesaan. Hal ini dipengaruhi oleh paradigma dasar pembangunan pertanian kala itu yang masih sempit sebatas usaha bercocok tanam (on farm agriculture). Sehingga orientasi pembangunan pertanian dalam PJPT I lebih bertumpu pada peningkatan produksi dalam rangka mencapai swasembada pangan, daripada mengembangkannya sebagai sebuah peluang ekonomi yang mampu meraup devisa. Paradigma yang sempit tentang pertanian tersebut harus digantikan dengan paradigma baru pertanian modern. Paradigma yang dimaksudkan adalah paradigma Agribisnis. Tujuan Penulisan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui pengertian subsistem jasa penunjang pada agribisnis pangan, mengidentifikasi subsistem penunjang pada produk agribisnis, mengetahui peranan, kendala, implementasi dan solusi dalam menghadapi kendala pada subsistem jasa penunjang agribisnis pangan. Manfaat Penulisan Melalui tulisan ini kita bisa memahami dan mampu mengaplikasikan pentingnya suatu subistem penunjang dalam pelaksanaan sistem agribisnis. Selain itu,melalui penulisan ini kita bisa mengembangkan lebih jauh komoditi buah naga menjadi yang lebih baik. PEMBAHASAN ANALISIS ARTIKEL Bacaan 1: Status dan Peranan Perum Bulog Belakangan ini banyak sekali desas-desus mengenai kenaikan beras,namun hal ini bukan kesalahan bulog sepenuhnya. Status dan peranan bulog dalam stabilitas harga beras nasional sekarang sudah berubah. Bulog yang dulunya Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) sekarang berubah menjadi perum. Karena saat ini kebijakan mengenai perberasan secara khusus dan pangan pada umumnya menjadi tugas dewan ketahanan pangan yang tersiri dari beberapa menteri koordinasi bersama pemerintah. Peranan bulog : Semasa bulog sebagai LNPD,ia tidak hanya sebagai pelaksana kebijakan stabilisasi harga beras tetapi juga menjadi perumus kebijakan,paling sedikit salah satu perumus kebijakan. Namun sekarang sebagai perum,peran bulog hanyalah sebagai pelaksana kebijakan dan statusnya hanyalah sebagai salah satu BUMN yang bertanggung jawab kepada Meneg BUMN. Kelemahan: Beberapa kelemahan dari transformasi perubahan peran bulog ini adalah perum bulog harus mencari keuntungan sendiri untuk membiayai dirinya. Selain itu juga tidak ada inisiatif dari dewan untuk memberikan fleksibilitas kepada perum bulog untuk melakukan pembelian di atas HPP(Harga Pembelian Pemerintah) yang sudah ditetapkan. Kemudian,perubahan peran ini menyebabkan perum bulog sendiri harus lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya karena jika terjadi kesalahan,akan fatal akibatnya. Solusi Kedepannya: Perum bulog harus lebih proaktif lagi dalam mengklarifikasi kebijakan pemerintah dalam kebijakan perberasan agar tidak mengalami kesulitan. Selain itu juga perum bulog harus lebih proaktif lagi dalam mengusulkan kebijakan yang ada. Kemudian perlu ada komunikasi kepada masyarakat agar ekspetasi masyarakat tidak salah terhadap perum bulog. Lalu,selain mengurus kebijakan perberasan, perum bulog harus lebih inisiatif dalam memulai bisnis pangan lainnya yang dapat memberikan keuntungan kepada bulog sendiri. . Bacaan 2: Stabilisasi Harga Minyak Goreng Tugas Pemerintah Kenaikan harga minyak goreng akhir-akhir ini menjadi pembicaraan yang sunter dibicarakan oleh berbagai kalangan. Padahal kenaikan harga tersebut masih lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya. Itu sebagai akibat naiknya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil(CPO),baik di dalam negeri maupun internasional. Oleh karena itu,pemerintah ingin mengadakan kebijakan stabilisasi harga. Peranan: Melalui stabilisasi harga,maka harga minyak tersebut akan menurun. Sehingga dapat menguntungkan beberapa konsumen. Stabilisasi harga tersebut dapat dilakukan pemerintah melalui kebijakan tataniaga dan pembiayaan oleh pemerintah. Artinya ,pemerintah membeli minyak goreng dari pabrikan dengan harga tinggi dan menyalurkan kepada konsumen yang membutuhkan dengan harga lebih rendah. Kekurangan: Pada hakikatnya,kenaikan harga minyak kelapa itu menguntungkan para petani. Karena dengan itu,petani dapat meremajakan tanaman kelapanya. Adanya stabilisasi harga,menyebabkan petani,pabrik CPO,dan pengusaha minyak goreng dirugikan serta hanya menguntungkan tidak seberapa konsumen. Pengaturan yang reaktif itu akan menimbulkan kekacauan dan munculnya para rente. Intinya.dengan menurunkan harga,konsumen dan produsen dalam negeri tidak untung,tetapi yang untung adalah penyelundup. Solusi Kedepannya: • Biarkan harga CPO dan minyak goreng sesuai mekanisme pasar. Dengan itu,penerimaan pajak akan meningkat. Jadi,pendapatan pemerintah dari sawit akan meningkat sehingga pemerintah cukup punya dana untuk melakukan stabilisasi harga. • Pemerintah harus mendidik masyarakat menghargai kelangkaan dan memfasilitasi produsen agar lebih kreatif dalam menghadapi kelangkaan tanpa campur tangan stabilitas harga yang sifatnya reaktif. • Hati-hati jika pemerintah ingin menerapkan pajak ekspor tambahan CPO. Hal itu akan menunjukkan inkonsistensi pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang baik di dalam negeri. Bacaan 3: PE Tambahan CPO Kurang Bijaksana Program stabilisasi harga minyak goreng memang sulit mencapai tujuannya,yaitu menurunkan dan menstabilisasi harga minyak goreng. PSH haruslah merupakan program pemerintah yang dilaksanakan dan dibiayai oleh pemerintah. Jika PSH tidak berhasil,pemerintah akan mengancam akan menerapkan pejak ekspor (PE) tambahan. Peranan: Melalui PSH(Program Stabilisasi Harga),maka harga yang ada akan menjadi stabil dan terjangkau oleh semua kalangan. Sedangkan kebijakan PE(Pajak Ekspor) sebenarnya bisa meningkatkan pendapatan pemerintah,namun dalam skala yang lebih rendah. Kekurangan: Kenaikan harga minyak goreng disebabkan kenaikan harga CPO internasional. Jika PE tambahan diterapkan,maka harga internasional akan lebih tinggi lagi. Dengan adanya harga dalam negeri yang secara artificial lebih rendah daripada harga internasional akan menyebabkan potensi penyelundupan. Jika penyelundupan terjadi,harga di dalam negeri akan menyesuaikan dengan kenaikan harga internasional. Akhirnya tujuan stabilisasi tidak akan tercapai.PE juga bisa menyebabkan pajak penghasilan perusahaan menjadi berkurang. Alhasil,pendapatan pemerintah berkurang. Solusi Kedepannya:  Mengkaji ulang PSH mengenai kestrategisannya dalam menstabilkan harga. Jika memang strategis,maka PSH harus diambil alih oleh pemerintah.  Menetapkan tujuan spesifik PSH,penanggung jawab,serta manfaat dari kebijakan.  Pemerintah harus menyiapkan lembaga yang bertanggung jawab penuh terhadap suatu kebijakan.  Membuat kebijakan yang komprehensif dan konsisten satu sama lain di bidang agribisnis yang berbasis kelapa sawit. Bacaan 4: Kembangkan GMO dengan Prinsip Kehati-hatian GMO(Genetically Modified Organism)merupakan transformasi baru yang sangat baik di dunia pertanian. Sudah saatnya kita mengembangkan GMO ini lebih lanjut. Namun,tetap saja masih banyak kendala dalam mengembangkan GMO ini. Termasuk tindak LSM yang kurang konsisten dan terkesan komersial. Peranan: GMO memiliki peranan dalam memperbaiki kualitas dan kuantitas jenis tanaman. Melalui GMO,mutu tanaman akan lebih meningkat. Selain itu,GMO dapat meningkatkan pendapatan para petani hingga pengusaha. Kekurangan: Pengujian yang kurang serta tindak LSM yang melarang adanya GMO,menyebabkan tersendatnya perkembangan GMO di Indonesia. Akhirnya,perusahaan yang menajukan uji benih GMO itu mundur dan pindah ke negara lain. Di negara lain yang menerima adanya GMO,program ini memberikan manfaat yang begitu besar. Contohnya India,telah menjadi produsen kapas terbesar di dunia karena GMO. Solusi Kedepannya:  Perlu adanya tambahan laboraturium penguji yang mampu menguji GMO. Sehingga masyarakat sendiri bisa menilai secara langsung apakah GMO memilki unsur negatif atau tidak.  Hasil laboraturium bisa dijadikan bukti bagi LSM yang memanfaatkan keadaan untuk komersial. Sehingga tidak ada lagi penolakan yang berdasarkan perasaan,dan ideology yang ada.  Perlunya publikasi kepada masyarakat mengenai makanan yang dihasilkan dari GMO dengan memberikan label pada makanan tersebut. Bacaan 4: 62 Tahun Indonesia Merdeka,Memeras Pertanian Untuk Pembangunan Teori pemerasan pertanian untuk pembangunan mengatakan,bahwa awal pembangunan suatu negara yang ketersedian modal masih terbatas,pembentukan modal dilakukan dengan pemerasan surplus sektor pertanian. Merupakan cara membiayai pembangunan ekonomi khususnya sektor industri. Dengan mekanisme pemerasan pertanian tersebut,surplus pertanian pedesaan diisap dan direinvestasikan pada sektor industri dan jasa. Struktur perekonomian Indonesia sudah berubah dari pertanian,industri dan jasa ke jasa,industri,dan pertanian. Namun,penyerapan tenaga kerja mmasih tetap pola AIS(pertanian,industry dan jasa). Hal ini disebabkan angkatan kerja yang di pedesaan lebih besar daripada lapangan pekerjaan yang ada di kota. Hal ini disebabkan karena perusahaan masa kini yang padat modal. Selain itu juga,sumber daya manusia yang kualitasnya masih kurang baik. Oleh karena itu,untuk mengurangi hal tersebut perlu adanya paradigma baru dalam pertanian. Paradigma baru tersebut adalah sistem agribisnis. Peranan: Mengubah sistem pertanian menjadi lebih besar dan berkembang. Karena melalui sistem agribisnis,pertanian bukan hanya fokus terhadap pertanian primer saja(hulu). Tetapi semua aspek pertanian yang ada. Mulai dari hulu,on-farm,hilir,hingga sektor penyedia jasa seperti perkreditan,training SDM,dan jasa transportasi. Di lain sisi,sistem agribisnis juga mampu meningkatkan hasil pertanian lokal menjadi lebih baik mutunya. Sehingga mampu bersing dengan produk pertanian yang lain. Kemudian,sistem agribisnis sendiri mapu meningkatkan taraf hidup para petani menjadi lebih baik dan layak. Kekurangan: Sistem agribisnis ini masih memiliki kekurangan dalam pengembangannya. Kurangnya informasi serta rendahnya ilmu pengetahuan,menyebabkan petani masih kurang mempercayai sistem agribisnis sebagai paradigma baru dalam pertanian. Selain itu juga,sistem agribisnis saat ini masih saja lebih berkembang di subsistem hilir,yang hanya mengolah hasil pertanian tanpa melihat input yang ada. Contohnya saja,minat generasi muda yang semakin sedikit untuk menjadi petani. Lalu,fokus pemerintah kecil untuk pertanian. Sehingga dana yang ada lebih di investasikan untuk sentra jasa dan industri. Solusi Kedepannya:  Memperbesar reinvestasi surplus ke sekitar pertanian pedesaan.  Perbankan nasional perlu mengubah paradigm dan perannya dari net fund rising menjadi net fund using.  Program penyuluhan bagi para petani mengenai sistem agribisnis. Mulai dari subsistem hulu hingga hilir.  Menyerap tenaga kerja yang berasal dari pedesaan,sehingga jika perekonomian pedesaan meningkat,maka perekonomian nasional secara keseluruhan akan berkembang. Subsistem Penunjang Komoditas Buah Naga Komponen pada sistem penunjang: a. Perbankan: • Penunjang subsistem hulu: Pada subsistem ini subsistem mendukung pendanaan atas penciptaan bibit unggul dan penggunaannya oleh petani. Dari pendanaan oleh perbankan selanjutnya dapat digunakan oleh para peneliti untuk pengembangan dan inovasi atas bibit unggul yang masih kurang didalam budidaya buah naga. Selain itu melalui pendanaan pula pihak perbankan bisa juga menyetujui pencairan dana oleh petani yang kekurangan dana dalam input produksinya utamanya modal untuk pembelian bibit maupun pengadaan peralatan dalam berkebun buah naga. • Penunjang subsistem usaha tani Disini pihak perbankan menjadi semacam pihak konsultan atas penggunaan dana mereka oleh petani. Pada umumnya pihak perbankan mmang hanya terfokus pada pendanaa di awal produksi saja, namun pada beberapa bank yang memiliki tradisi organisasi yang kuat pengunaan atas modalpun menjadi wilayah kerja mereka. Disitu mereka mengadakan peran pengawasan atas modal yang digunakan. Bentuk pengawasan dapat diwujudkan melalui proses konsultasi oleh petani dan pihak bank apabila ada inisiatif dari keduabelah pihak dan pengetahuan yang cukup oleh pengaudit teknis lapang. • Penunjang subsistem hilir Pihak perbankan akan menjadi rujukan awal perusahaan distributor buah naga maupun perusahaan pengolahan seperti industri jus buah naga, perusahaan dodol naga dan lain sebagainya untuk mendapatkan modal usaha. Permodalan ini selanjutnya akan digunakan sebagai biaya pengadaan atas faktor-faktor produksi. b. Koperasi dan gabungan kelompok tani(gapoktan) • Penunjang subsistem hulu Koperasi maupun gapoktan bisa melakukan sosialisasi atas mekanisasi pertanian buah naga. Usaha buah naga merupakan jenis usaha pertainan yang tergolong baru. Para petani amupun calon pengusaha mungkin belum terlalu familiar dengan berbagai peralatan untuk proses usaha. Selain itu kedua lembaga ini bisa menjadi agen bibit unggul yang bisa diintroduksi oleh petani. Tentunya hal itu harus diiringi dengan adanya tenaga kerja ahli mengetahui teknik dan pengetahuan seputar buah naga. Bisa pula agregasi atas modal yakni petani akan secara bersama mengadakan faktor-faktor produksi dan ajur tumbuh lalu digunakan secara bergiliran melalui sewa maupun dengan sistem semacam arisan • Penunjang subsistem usaha tani Disini mereka berperan pada pendampingan usaha. Ada proses konsultasi, sebuah take-give antar petani dan gapoktan. Gapoktan menyediakan tenaga ahli untuk sosilaisai dan petani menggunakan sumber daya yang disediakan dan direkomendasiskan oleh gapoktan melalui koperasinya sebagi unit usaha. • Penunjang subsistem hilir Secara langsung gapoktan dan koperasi bisa menjadi aktor di subsistem ini. Caranya adalah dengan menjadikan koperasi sebagai unit penampung, pengepak sekaligus penjual hasil usaha. Selanjutnya denagn adanya niali tambah maka hal itu bisa diajdikan alternatif keringanan angsuran dan bunga atas pinjaman modal petani. Gapoktan pun bisa menjadi unit pengolahnya maupun membantu penyediaan dan pengadaan proses pengolhan atas hasil. Dengan mengadakan sosialaisasi lalu setelah petani mendapat pengetahuan mereka bisa disatukan untuk menjadi sebuah perusahaan pengolahan seperti perusahaan dodol buah naga maupun sirup dan jus sari buah naga. c. Transportasi • Penunjang subsistem hulu Perusahaan transportasi merupakan sebuah kunci atas distristribusinya faktor-faktor produksi yang umumnya berskala besar separti traktor, tiang penyangga maupun pupuk dan bibit yang dibutuhkan dalam jumlah banyak. Kesemuanya tak mungkin dapat digunakan apabila benda-benda itu tak dapat smapai ke petani untuk digunakan dari pabrik sebagai penyedia. • Penunjang subsistem usaha tani Disini peran moda transportasi sebagi unit distribusi dari petani sebagai produsen kepada konsumen tingkat awal seperti perusahaan pengolahaan maupun masyarakat umum sebagai konsumen tingkat akhir. Ketepatan waktu distribusi haruslah menjadi fokus kunci mengingat komoditas buah-buahan merupakan hasil hayati yang tak bisa dilepaskan dari proses biologis seperti busuk ditengah jalan misalnya. • Penunjang subsistem hilir Kesemua penjelasan kami sebalumnya merupakan pokok utama transportasi pada subsistem hilir distribusi. Di subsistem hilir pengolahan tentunya transportasi juga memberi peran seperti sebagai agae atas terdistribusinya mesin-mesin dan berbagai peralatan pengolahan buah naga. d. Kebijakan pemerintah dan perundang-undangan • Penunjang subsistem hulu Peran pemerintah pada tataran ini diharapkan mampu membikin undang-undang yang melindungi erselenggranya kegiatan pertanian, bukan malah menggangu. Pemerintah bisa pula menciptakan undang-undang untuk mencetak lahan baru dalam pengusahaan buah naga melalui undang-undang pertanahan. Pengadaan atas mesin seyogyanya bisa diusahakan secara mandiri. Begitu pula dengan pengadaan bibit-bibit unggul buah naga. Pemerintah dapat mendorong percepatan penelitian di bidang buah naga dan mempercepat produksi bibitnya sehingga petani tak membutuhkan waktu lama dalam proses produksinya. • Penunjang subsistem usaha tani Saat-saat panen buah naga proteksi atas komoditas menjadi fokus. Petani diharapkan membangun sistem perundangan yang bertaji. Tak hanya mumouni secara konsep namun jga bertaring secara pelaksanaan. Bebasnya buah-buahan impor harunya tidak dibiarkan terjadi. Pemerintah harus memotivasi petani dengan pencegahan buah naga impor dan promosi serta penyediaan perangkat distribusi buah naga lokal yang secara kualitas mungkin lebih unggul. • Penunjang subsistem hilir Pemerintah bisa mengadakan BUMN yang menangani seputar buah naga. Bisa melalui BUMN yang khusus dalam penganganan pelabelan dan pengepakan. Bisa pula dalam bentuk perusahaan yang memproduksi hasil olahan buah naga seperti perusahaan sirup buah naga skala besar milik negara e. Penelitian dan pendidikan • Penunjang subsistem hulu Di subsistem ini penelitian diutamakan pada pengadaan bibit unggul dan bagaimana memproduksinya secara masala agar mampu digunakan secara luas oleh petani. Selain itu penlitian atas formula pupuk dan waktu pupuk juga tak dapat dinafikan. Apabila terlaksana maka pelaksanaan atas proses selanjutnya akan terdorong. Di pihak pendidikan bisa dengan menyedikan tenaga yang mampu mencyediakan proses produksi melalui lulusanya. • Penunjang subsistem usaha tani Disini penelitian atas teknik bertanam buah naga, memacu produksi bisa dilakuakan mengingat buah naga merupakan komoditas yang relatif baru untuk diusahakan. Pemetaan dan pengnalan atas jenis lahan yang cocok juga bisa dijadikan kajian. Selain itu teknik-teknik seputar penanganan buah naga saat panen agar buah tidak rusak dan mampu dijual dengan harga tinggi harapanya segera dilakukan. Mekanisasi pertanian melalui penggarapan harus segera disebarkan inovasinya. • Penunjang subsistem hilir Para inovator bisa menmberikan teknik pengolahan tingkat lanjut atas bauh saat terjadi panen agar harga tidak jatuh. Juga bagaimana buah dipak, dilabel dan pengawetan atas buah merupakan peluang penelitian. Bagaimana memotong pola distribusi antara petani dan konsumen itulah yang dicari penyelesiannya. PENUTUP Kesimpulan setelah melakukan analisis,kelompok kami menyimpulkan bahwa subsistem penunjang pada agribisnis ada tiga,yaitu:lembaga pemerintah,perbankan,dan koperasi. Ketiga hal tersebut harus koheren satu sama lain agar kebijakan yang diberikan dapat menguntungkan satu sama lain. Saran Perlu adanya kerjasama yng baik antar pemerintah dan petani yang ada. Sehingga kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak merugikan pihak yang berangkutan. DAFTAR PUSTAKA Suharso,Prayitno. 2002. Dragon Fruit dalam Perkembangannya. Jakarta: Airlangga. [Anonim].2011.subsistem penunjang agribisnis. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/40403/1/modul%20agroindustri%201.pdf [8 November 2011] [Anonim].2011.sistem agribisnis. http://www.sinartani.com/agribusiness/3620.html [8 November 2011] [Anonim].2011.model Agribisnis http://archive.unri.edu/unupress/uu34ee/uu34ee0r.htm [8 November 2011]

Komentar

Recommended Posts

randomposts

Postingan Populer